
Untunglah pada saat yang tepat, Ki Lurah Jagadenta telah memberikan perintah-perintahnya kepada para pengawal Kademangan.
"Bentuk barisan! Bentuk regu-regu kecil!" Seru Ki Lurah Prajurit ini.
Mendengar perintah dari Ki Lurah Prajurit, seketika para pengawal kademangan yang berjumlah cukup banyak segera membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh sampai dua belas orang pemuda.
Kemudian mereka pun telah bertarung secara berkelompok menghadapi para perampok ini.
Tadinya mereka telah terdesak hebat dengan cara bertarung yang telah diterapkan oleh para perampok yang bertarung berputar-putar dengan kuda - kuda mereka.
Para perampok ini bertarung sambil berteriak-teriak liar dan kasar untuk menjatuhkan mental dari para pemuda yang baru saja belajar ilmu keprajuritan ini.
Namun kini di bawah kepemimpinan dari Ki Lurah Prajurit yang walaupun dalam waktu yang singkat nampaknya telah berhasil membentuk anak-anak muda yang masih sangat hijau dalam pertarungan secara nyata ini menjadi sebuah kekuatan yang lumayan untuk seorang pemula.
Mereka telah mendengar perintah dari Ki lurah dan mengikuti apa yang disampaikan oleh Ki Lurah Jagadenta.
Pertarungan pun semakin bertambah seru.
Kini pertarungan antara para pengawal Kademangan melawan para perampok yang dipimpin oleh Jagal Alas Kunduran semakin malam semakin mendebarkan.
Dan masih belum terlihat siapakah yang akan keluar sebagai pemenang antara dua kelompok yang sedang bertarung.
Yang jelas jumlah yang banyak dari para pengawal Kademangan yang baru saja dilatih oleh Ki Lurah Prajurit ini cukup banyak.
Namun demikian, kemampuan dari para perampok ini cukup mumpuni untuk menghadapi anak-anak muda yang baru tumbuh sayapnya ini.
Malam semakin larut, teriakan-teriakan kesakitan, teriakan-teriakan kalap, bentakan-bentakan dan umpatan-umpatan telah keluar dari mulut-mulut mereka yang sedang bertaruh nyawa.
Dengan cara bertarung seperti ini telah membuat para perampok ingin merasa sangat marah.
Tiap kali mereka hampir berhasil melukai lawan, tiba-tiba saja telah muncul beberapa orang pemuda ingusan yang telah membokong dan menyerang ke arah para perampok ini
Hal ini berlangsung hingga tengah malam.
Namun para pengawal kademangan Pucakwangi semakin lama pun semakin kelabakan menghadapi sepak terjang para perampok yang menunggang kuda.
Mereka telah berputar-putar dan menerjang berusaha menghancurkan barisan-barisan kecil yang dibentuk oleh para pengawal kademangan.
Sementara itu pertarungan antara tiga orang prajurit kepercayaan dari Ki Lurah Jagadenta melawan Jagal Alas Kunduran semakin mendekati puncaknya dengan ketiga orang prajurit ini telah mulai terdesak hebat.
Bahkan salah seorang prajurit telah terluka di bahunya akibat sambaran klewang di tangan Jagal Alas Kunduran
Dalam keadaan bahu yang terluka dan mengucurkan darah segar, maka pergerakannya pun menjadi semakin lambat dan semakin berat.
Jika keadaan ini dibiarkan maka bisa dipastikan Jagal Alas Kunduran akan segera menguasai keadaan dan mampu unggul dari ketiga orang prajurit Kadipaten Pati ini.
__ADS_1
Sementara itu nampaknya secara diam-diam pemimpin dari rombongan penari tayub ini telah menggenggam potongan kayu kecil di tangan kanannya.
Nampaknya pria tengah baya ini mempunyai perhitungannya sendiri.
Dia tidak mau memperlihatkan kemampuannya ini secara terang-terangan sehingga dia lebih memilih cara yang tidak diketahui orang lain.
Dan ketika keadaan semakin genting karena ketiga orang prajurit ini benar-benar sudah kepayahan menerima serangan-serangan dari Sang Jagal Alas kunduran, maka tiba-tiba saja tanpa diketahui oleh siapapun juga, sang pemimpin rombongan tari tayub telah melemparkan suatu dari tangan kanannya.
Dan..
"Tuk...!"
Pergelangan tangan dari Jagal Alas Kunduran yang sedang mengayunkan klewang besarnya tiba-tiba telah terbentur oleh sesuatu.
Dan...
"Klontang...!"
Klewang besar di tangan kanannya tiba-tiba telah telepas dan terjatuh dari genggamannya.
Sang Jagal telah merasakan suatu benturan di pergelangan tangannya sehingga membuat saraf di pergelangan tangannya tiba-tiba terasa nyeri dan dengan terpaksa dia pun telah melepaskan klewang besarnya.
"Waduh!"
"Siapa yang berbuat curang!" Seru Sang Jagal.
Ketika kemudian dia mencari sesuatu yang membentur pergelangan tangannya dia hanya menemukan sebatang kayu patah yang berukuran kecil saja.
"Hmm, kalian ini benar-benar curang! Beraninya hanya keroyokan dan membokong dari belakang!" Seru Sang Jagal yang nampaknya cukup terkejut dengan kemampuan seseorang yang telah melontarkan potongan kayu kecil yang nampaknya adalah potongan bambu.
Jagal Alas kunduran kini menyadari bahwa ada seseorang yang berilmu sangat tinggi yang ada di antara orang-orang ini yang tidak mau menunjukkan jadi dirinya.
"Hmm... Jika engkau memang seorang yang dug deng, tunjukkanlah dirimu! Kita bertarung sampai mati! Kita tentukan siapa yang tetap berdiri di tempat ini sampai akhir!" Seru Jagal Alas Kunduran ini nampak sangat marah walaupun di dalam hatinya dia nampak gentar.
Namun belum juga usai dia berkata-kata, tiba-tiba saja.
"Tuk..!"
"Augh...!"
Tiba-tiba sang jagal telah berteriak dan kemudian terdiam.
Terrnyata tiba-tiba saja sebuah Rondo Royal telah memasuki mulutnya dan menyumpal mulutnya itu hingga ke tenggorokannya.
(Rondo Royal adalah penganan dari daerah Jawa Tengah yang terbuat dari tapi yang dibentuk bulatan dan digoreng)
__ADS_1
Kembali sang Jagal melotot.
Diapun tersedak karena makanan ini telah langsung menyumpal ujung tenggorokannya.
Seketika sang jagal pun kebingungan.
Dia kemudian telah melompat menyambar kendi yang nampak berada tidak jauh dari tempatnya.
Secepatnya diteguknya air dalam kendi itu.
Mata dari sang jagal pun nampak memerah, namun kini dia telah benar-benar sadar bahwa lawan tangguh yang tidak ingin menunjukkan diri telah mempermalukan dirinya.
Dia pun kemudian telah berteriak pada kawan-kawannya untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
Sebelum pergi dia telah berteriak mengancam.
"Aku akan kembali ke tempat ini akan aku jadikan karang Abang Kademangan Pucakwangi ini!" Seru Sang Jagal yang kemudian telah melompat ke atas punggung kuda dan kemudian telah berteriak keras membedal kudanya.
Seketika rombongan dari para perampok yang dipimpin oleh Jagal Alas Kunduran telah hilang di telan kegelapan malam.
Ki Lurah Jagadenta nampak bersyukur bahwa gerombolan perampok ini telah pergi meninggalkan mereka.
Bagaimanapun juga jika pertarungan ini terus berlangsung maka kemungkinan besar kademangan ini akan mengalami kerugian yang tidak sedikit dan mungkin saja akan terjadi pembantaian di tempat ini.
Dan dia menyadari ada seorang tokoh sakti yang telah memberikan pertolongan kepada mereka.
"Terima kasih, Kisanak! Sudilah kiranya kisanak memperlihatkan diri supaya kami di sini bisa mengucapkan terima kasih kepada kisanak yang telah memberikan pertolongan kepada kami," kata Ki Lurah Jagadenta.
Namun setelah ditunggu beberapa saat nampaknya tidak ada seorangpun yang menyatakan bahwa dirinyalah yang telah menolong.
"Baiklah kalau kisanak tidak bersedia akan tetapi kami benar-benar sangat berterimakasih pada Kisanak yang telah menyelamatkan kami dari bencana di malam ini," lanjut Ki Lurah Jagadenta.
Sementara itu Bayu kemudian telah bertanya kepada Tirta.
"Siapakah yang sekiranya telah menolong mereka Ta? Apakah engkau yang telah melontarkan potongan kayu kecil itu?" Tanya Bayu.
"Bukan Bay, bukan aku.
Aku kan sudah mengatakan padamu bahwa pemimpin dari rombongan penari tayub ini nampaknya bukanlah orang yang sembarangan," jawab Tirta Jaya Kusuma.
"Jadi maksudmu, yang menolong mereka adalah pemimpin rombongan penari tayub itu?" Tanya Bayu lagi.
"Benar Bay, dialah yang telah melemparkan potongan bambu kecil," kata Tirta Jaya Kusuma.
"Coba perhatikan...
__ADS_1