
Sebenarnyalah konsentrasi dari gadis penari tayub ini telah terbagi antara Raden Rangga dan juga suara gemeratak di luar rumah.
Sambil terus mencekoki Raden Rangga dengan tuak yang ada di poci di tangannya yang selalu saja terisi jika sudah habis ditenggak oleh Raden Rangga.
Gadis ini terus memasang telinga mendengarkan gerakan sekecil apapun yang berasal dari dinding pakuwon di sebelah kiri.
Ketika dia telah berucap pun dia tidak segera bangkit dari duduknya. Gadis penari ini masih tetap menunggu keberadaan dari Raden Rangga yang sesaat kemudian telah jatuh terkulai di atas tempat duduknya.
Kesadarannya nampaknya telah hilang karena banyaknya tuak yang telah memasuki ke dalam perutnya..
Dan sesaat ketika kemudian dia telah mendengar suara kucing dari luar rumah yang berasal dari suara tadi.
"Oh, ternyata kucing..." Desis gadis penari tayub ini.
Sengaja gadis ini berkata demikian untuk mengelabui orang yang berada di luar pakuwon.
Suara kucing tadi sebenarnya adalah suara yang di keluarkan oleh Tirta untuk menghindari kecurigaan dari gadis penari tayub ini. Akan tetapi Tirta telah salah besar!
Dalam hati penari ledek ini telah bercuriga karena nada yang dikeluarkan dari kucing ini agak berbeda dengan kucing-kucing yang dikenalnya karena gadis ini adalah penyuka kucing.
__ADS_1
Dia sangat mengenali suara-suara kucing.
Malam semakin larut ketika kemudian gadis penari tayub ini kemudian telah beranjak dari duduknya dan kemudian berjalan keluar.
Tirta maupun Pandan Arum melihat semua itu dari kegelapan, dari balik dinding pakuwon, ketika gadis penari ini telah melangkah keluar dari pakuwon tempatnya menginap.
Gadis ini kemudian setelah berjalan menuju ke pakuwon yang berada di sebelah tempatnya menginap yang berukuran sedikit lebih kecil.
"Paman, ini Retno paman!" Kata gadis penari ini sambil mengetuk-ngetuk pintu pukuwon yang berada di samping kanan pakuwon tempatnya menginap yang kini telah menjadi tempat mesum.
Sesaat kemudian pintu pakuwon Joglo ini pun telah terbuka dan seorang lelaki tengah baya telah terlihat di balik pintu tersebut.
Tirta dan Pandan Arum yang mengikuti pergerakan dari gadis penari ledek ini segera mengenali pria tengah baya ini.
"Itu adalah pria yang menjadi pimpinan dari rombongan tayub itu Arum!" Bisik Tirta pelan.
"Benar kakang! Aku juga mengenalinya," jawab Pandan Arum juga dengan suara pelan.
Sementara itu, gadis penari yang dipanggil oleh pria tengah baya sebagai Retno ini telah berbisik sangat lirih kepada sang pemimpin rombongan tayub yang ternyata adalah Ki Dipo.
__ADS_1
"Nampaknya ada orang-orang yang telah bercuriga kepada kita Paman Dipo, ada beberapa orang yang telah mengawasiku sejak tadi," bisik Retno kepada pria tengah baya ini.
"Mereka nampaknya bukanlah para telik sandi yang berpengalaman. Mereka ceroboh, mungkin mereka adalah orang-orang yang berilmu cetek paman," lanjut gadis penari tayub ini.
Ki Dipo nampak mengangguk anggukkan kepala. Akan tetapi Ki Dipo tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat atas perkataan gadis ini.
Bagaimanapun mereka berada di antara para prajurit Pati. Ada puluhan dan mungkin ratusan orang-orang tangguh diantara para prajurit Pati.
"Sebaiknya kita berhati-hati Nduk! Jangan sampai penyamaran kita harus terbongkar dengan cepat sebelum kita mendapatkan apa yang di tugaskan kepada kita," bisik pria tengah baya ini.
"Sebaiknya pertemuan dengan para penghubung dari Mataram kita tunda dulu Nduk, sampai kecurigaan dari orang-orang ini telah pudar," bisik Ki Dipo pada gadis penari tayub ini.
"Tapi jika orang-orang ini terus mengawasi kita maka kita akan kerepotan dan akan membatasi pergerakan kita Paman Dipo," kata gadis ini lagi.
Dan Ki Dipo nampaknya segera terdiam mendengar perkataan gadis ini. Apa yang disampaikan oleh gadis ini memang mengandung kebenaran.
Gadis ini adalah seorang gadis yang cerdas dan mempunyai pemikiran yang panjang walaupun terkadang jiwa mudanya masih sering meloncat-loncat dan sembrono sehingga Ki Dipo harus pandai-pandai mengendalikan gadis ini. Akan tetapi kadangkala gadis ini mempunyai pemikiran yang memang jauh ke depan dan cukup berhati-hati.
Dengan pembicaraan yang sangat pelan walaupun dalam beberapa hal terdengar cukup jelas, membuat Tirta maupun Pandan Arum pun tidak dapat menangkap dengan jelas pembicaraan antara gadis penari tayub ini dengan Ki Dipo.
__ADS_1