Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pemuda Sombong


__ADS_3

Pertarungan pun segera dimulai dengan  beberapa orang sekaligus yang saling berhadapan di tengah-tengah Oro-oro Ombo dengan dikelilingi oleh semua anggota pengawal Kademangan yang membentuk lingkaran besar.


Pada kesempatan pertama ini, Bayu ada diantara mereka. Begitupun dengan Lokajaya pemuda murid Kyai Karangjati.


Bayu pun telah berhadapan dengan seorang pemuda yang sebelumnya belum pernah saling berhadapan.


Akan tetapi pemuda ini pun sudah cukup mengenal sepak terjang Bayu di latih tanding sebelumnya.


Dia tahu bahwa Bayu yang bertubuh besar dan gendut ini mampu bertahan hingga pertarungan terakhir dan hanya kalah tipis dari lawan yang kuat.


Pada pertandingan sebelumnya, Bayu mampu bertarung dengan baik dan mampu bertahan menghadapi kawan-kawannya.


Sementara itu Lokajaya hanya tersenyum menyeringai seperti meremehkan lawannya di sudut yang lain.


Tubuhnya cukup tinggi dan berisi walaupun tidak setinggi Tirta Jaya Kusuma.


Gerakannya terlihat sangat ringan seperti orang berjinjit yang menunjukkan bahwa pemuda ini memang punya kemampuan olah kanuragan yang sudah sangat tinggi.


Ketika mereka semua telah saling berhadapan dengan lawan-lawannya dengan tongkat tongkat di tangan.


Mereka saling memandang dan mengukur kira-kira kekuatan seperti apa yang dipunyai oleh sang lawan.


"Siap semua...! Bertarung!" Seru Ki Rangga Jagadenta memberikan aba abanya.


Seketika semua pun telah mengayunkan tombak di tangan-tangan mereka


Pertarungan yang sangat seru segera berlangsung di tengah Oro-oro Ombo.


Lokajaya yang bertarung berhadapan dengan seorang pemuda dari pengawal Kademangan pun nampaknya segera ingin menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.


Dengan sangat lincah dan ringan dia telah melompat tinggi ke udara kemudian mengayunkan tongkat di tangan kanannya.


"Awasss kepala..!"


Seru Lokajaya yang dengan kecepatan luar biasa telah mengayunkan tongkatnya dari atas ke bawah.


Kecepatan yang benar-benar luar biasa yang mengejutkan baik sang lawan.


Pemuda yang menjadi lawan dari loka Jaya segera bermaksud menangkis serangan lawannya ini dengan ayunan tongkatnya pula..


Dan..


"Syuut!


Traak..


Kraaak..?"


Dua tongkat telah bertemu di udara dan terdengar suara benturan yang cukup keras.


Hanya sekali ayun, ternyata tongkat di tangan pemuda yang merupakan pengawal perjuangan ini pun telah patah sehingga tongkat di tangan luka Jaya terus meluncur deras..


Tak ayal...

__ADS_1


"Praak..!"


Tongkat ini telah menghajar telat tepat di ubun-ubun kepala dari sang pemuda.


"Aaaeghh..!"


Ketika pemuda ini pun telah berteriak ngeri kesakitan..


Kumandang teriakan dari pemuda ini telah mengejutkan semua orang yang bertarung maupun para pengawal pasukan lainnya yang mengenai tempat ini..


Terkejut bukan main Ki Rangga menyaksikan hal ini dia pun telah melompat mendekati.


"Berhenti Lokajaya! Cukup!" Seru Ki Rangga Jagadenta.


Ki Rangga Jagadenta segera mendapati bahwa pemuda yang menjadi lawan dari loka Jaya telah jatuh terlentang di rerumputan di tengah Oro-oro Ombo.


Wajahnya nampak berlumuran darah segar, dan ternyata pemuda ini seketika telah pingsan.


Dalam kejutnya Ki Rangga pun segera memeriksa luka di kepala pemuda ini.


"Apa yang engkau lakukan Lokajaya!?" Seru Ki Rangga nampak marah.


Loka Jaya yang tadinya tersenyum kini nampak kaget juga mendengar bentakan dari Ki Rangga.


"Maaf Ki Rangga... Aku terlalu bersemangat dan mengerahkan seluruh kekuatanku sehingga tanpa sengaja telah melukai pemuda itu!"


"Aku kira dia cukup tangguh untuk menahan ayunan tongkatku ini, ternyata kemampuannya sangatlah cetek." kata Lokaja.


Mendengar kata-kata Lokajaya yang sangat merendahkan ini, beberapa pemuda nampak marah dan tersinggung.


Akan tetapi memang mereka pun menyadari apa yang disampaikan oleh Lokaya ada benarnya juga.


Dan kini para pemuda pun semakin sadar, pemuda ini adalah pemuda yang sombong dan tinggi hati yang terbiasa memandang rendah orang lain.


"Sarno! Kemarilah, ajak beberapa pemuda untuk membawa pemuda ini kembali ke Banjar padukuhan rawatlah dia di sana!" Seru Ki Rangga pada Sarno yang kini adalah seorang lurah prajurit.


Akan tetapi sebelum Sarno melangkah mendekat, ternyata seorang pemuda tinggi jangkung telah mendekati ke arah pemuda yang telah terluka ini.


"Biarlah aku yang akan membawanya ke banjar Ki Rangga," kata pemuda ini yang ternyata adalah Tirta Jaya jaya Kusuma.


"Oh Engkau Lowo Idjo, ajaklah seorang teman untuk membawa pemuda ini ke Banjar padukuhan," kata Ki Rangga.


"Baik Ki Rangga!" Jawab Tirta yang kemudian telah mengangkat pemuda ini dibantu dengan seorang pemuda yang lainnya.


Sesaat kemudian Tirta telah membawa pemuda ini bersama dengan beberapa pemuda pengawal  dukuhan yang lain menuju ke banjar padukuhan.


Sengaja Tirta membawa pemuda ini untuk bisa memberikan pertolongan kepada pemuda ini karena dilihatnya pemuda ini terluka cukup parah.


Setelah pemuda yang tengah terluka ini dibawa oleh Tirta dan pengawal Kademangan maka pemilihan ketua kelompok kecil pun kembali dilanjutkan.


"Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi jadi aku harap kalian bertarung dengan bersungguh-sungguh dan berhati-hati!"


"Jika memang kalian mampu mengalahkan lawan kalian, maka jagalah supaya tidak melukai terlalu parah. Karena bagaimanapun kita masih membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi para begal dari alas kunduran itu dan bahkan mungkin menghadapi pasukan Mataram yang pasti akan menyapu Kademangan ini."  Kata Ki Rangga penuh penekanan.

__ADS_1


"Baik Ki Rangga!" Deru para pemuda ini.


Mereka adalah para pemuda yang masih mempunyai semangat yang tinggi dan mempunyai nafsu untuk mengalahkan lawan-lawan mereka sehingga tanpa sengaja mereka pun telah ingin menunjukkan kemampuan-kemampuan mereka dengan sepenuh tenaga yang akhirnya bisa melukai kawan kawan mereka sendiri.


Dan Ki Rangga pun menyadari akan hal ini.


Sementara pertarungan pun segera dimulai lagi dan Lokajaya yang telah kehilangan lawannya pun telah menepi dari arena untuk menunggu siapakah yang mampu segera menundukkan lawan.


Dan sesaat kemudian tiga orang pemuda yang telah berhasil mengalahkan lawan-lawannya pun telah bersiap di tengah arena.


Dan yang paling terakhir adalah Bayu yang terlihat sangat susah payah akhirnya berhasil mengalahkan lawannya setelah lawannya kehilangan tongkatnya karena Bayu sengaja meningkat kekuatannya dan berhasil menarik dan merebut tongkat lawan sehingga dengan sekali tarik, pemuda yang menjadi lawannya pun telah tertangkap oleh tangan Bayu yang sangat besar dan kemudian telah mendekap pemuda ini, sehingga pemuda lawannya tidak mampu bergerak sama sekali dan menyerah.


Kini tinggal empat orang yang tersisa di tengah arena termasuk Lokajaya.


Dan pertarungan pun kembali berlanjut.


Lokasi yakin telah berhadapan dengan seorang pemuda yang lain yang nampaknya mempunyai kekuatan lebih dibandingkan dengan pemuda yang telah dihajarnya tadi.


Namun perbedaan kekuatan antara pemuda ini dan loka Jaya nampaknya sangatlah jauh sehingga dalam beberapa gerakan saja sudah dapat diketahui bahwa Lokajaya mempunyai kekuatan dan kecepatan yang sangat jauh dari pemuda lawannya.


Setelah diperingatkan oleh Ki Rangga, memang Lokajaya agak sedikit menahan kekuatannya.


Namun tetap saja kesombongan dan ketinggian hatinya tetap ingin menunjukkan bahwa dialah yang terkuat di antara para pemuda ini.


Dalam satu serangan yang sangat cepat tongkat di tangannya telah mengayun deras dan sangat cepat.


Pemuda yang menjadi lawannya pun tidak dapat mengikuti pergerakan dari LokaJaya.


Ayunan ini tidak mengarah langsung ke tubuh pemuda yang menjadi lawan Lokajaya.


Sengaja LokaJaya telah mengayunkan tongkatnya ini menghantam rerumputan.


Dan


"Duarr..!"


Sebuah ledakan dahsyat telah menghantam tanah tempat mereka bertarung.


"Bukan main!" Seru para pemuda yang melihat kejadian ini.


"Dengan kekuatan seperti ini pantas Saridin terluka parah tak mampu menahan ayunan tongkatnya Lokajaya!" Seru para pemuda yang duduk melingkar di sekitar arena pertarungan.


Kejut bukan main lawan dari Lokajaya!


Dia tidak ingin terluka parah seperti Saridin.


Diapun telah melompat mundur sejauh beberapa tombak!


"Aku tak mampu menhadapimu Lokajaya!" Seru pemuda itu.


Dengan tersenyum penuh kemenangan Lokajaya kemudian berkata.


"Itu lebih baik bagimu jika engkau mengetahui akan kekuatanmu sendiri sehingga engkau tidak akan terluka parah seperti kawanmu tadi," kata Lokajaya yang kemudian telah mundur dan berdiri agak jauh dari tengah arena di mana masih berlangsung pertarungan antara Bayu dan seorang lawannya.

__ADS_1


__ADS_2