Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Putra Tumenggung Sawunggaling


__ADS_3

Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah akan tetapi mempunyai pandangan yang ramah.


Wajahnya tersenyum menggoda ke arah Pandan Arum.


Ada sedikit kemiripan dari wajah pemuda ini ketika tersenyum pada Pandan Arum.


Dan Tirta Jaya Kusuma sedang menduga-duga apa hubungan antara pemuda ini dengan Pandan Arum.


Agak malu sebenarnya Pandan Arum akan tetapi bunyi gamelan telah membuat dirinya bersemangat menggerakkan kedua tangannya dengan selendang dan tanpa disadari oleh gadis ini, kedua tangannya telah mulai bergerak mengikuti alunan gamelan.


Tariannya benar benar lemah gemulai...


Suara gamelan di pagi hari itu ternyata telah menarik perhatian beberapa orang penghuni Katumenggungan.


Dan satu persatu para penghuni di Katumenggungan yang tidak mempunyai kegiatan di pagi itu pun telah berdiri di sekitar pendopo, memperhatikan apa yang dikerjakan oleh anak-anak muda ini.


Dan tanpa disadari puluhan orang telah mulai mendekat, mereka benar-benar telah terpikat dengan gerakan-gerakan dari Pandan Arum yang sedang memainkan tariannya dan juga terpikat dengan suara merdu dari gamelan yang ditabuh oleh putra dari Ki Tumenggung Sawunggaling.


Suara gamelan ini benar-benar telah membetot jiwa raga dari para pendengarnya.


Jayeng Kusumo benar benar sangat lincah dalam memukul berbagai macam gamelan walaupun hanya seorang diri.


Suara gamelan ini seakan mempunyai ruh yang mampu membius orang orang yang mendengarnya.


Dan sesaat Pandan Arum pun seakan-akan telah terlena akan bunyi gamelan ini.


"Ada ruh dalam suara gamelan ini," batin Tirta Jaya Kusuma.


"Benar-benar kemampuan yang luar biasa. Jika kemampuan ini terasa dengan baik maka suara gamelan ini bisa digunakan untuk menciptakan perdamaian di bumi Nusantara," batin Tirta lagi.


Ketika kemudian kedua kakak beradik ini telah menyelesaikan tarian ini..


"Engkau selalu bisa membuat aku tidak dapat berhenti menggerakkan kedua tanganku ini kakang..." Kata Pandan Arum dengan malu-malu sambil terus menggerakkan tangan dan jari jemarinya mengikuti alunan gamelan.


Apalagi ketika kemudian pandangannya diedarkan ke seluruh sudut pendopo dan di halaman pendopo ternyata banyak abdi dalem katumenggungan yang tengah berdiri menyaksikan mereka berdua kakak dan adik yang telah menampilkan sebuah tarian yang luar biasa yang memikat dan membetot jiwa raga mereka.


"Luar biasa, luar biasa!" Seru Tirta Jaya Kusuma seraya bertepuk tangan kecil.


"Oh Ya Kakang Lowo Ijo, perkenalkanlah ini kakang Jayeng Kusumo... Kakakku!" Kata Pandan Arum seraya menarik tangan kanan Tirta Jaya Kusuma dan juga tangan dari Raden Jayeng Kusumo untuk dipersatukan dalam sebuah jabatan tangan yang erat.

__ADS_1


Sifat Raden Jayeng Kusumo nampaknya sangat terbuka, telah membuatnya segera menyambut telapak tangan Tirta Jaya Kusuma dengan hangatnya.


"Oh. Lowo Ijo? Seperti nya ini bukan sebuah nama yang sebenarnya!?" Kata Raden Jayeng Kusumo tersenyum.


Tirta pun hanya tersenyum mendengar perkataan Raden Jayeng Kusumo yang merupakan kakak dari Pandan Arum ini.


"Ayolah perkenalkan namamu yang sebenarnya ... Aku  tahu nama itu pasti hanyalah sebuah parapan saja," kata Jayeng Kusumo.


Ternyata selain ramah Jayeng Kusumo adalah seorang yang terbuka yang berbicara terus terang di hadapan orang lain.


Hal ini telah mengingatkan Tirta  kepada Bayu atau Lowo gemblung.


Dan menghadapi orang seperti ini Tirta Jaya Kusuma kemudian pun telah berkata dengan jujur.


"Baiklah Raden, emang bener lah nama itu adalah nama julukan saja yang diberikan oleh sahabatku," kata Tirta.


"Sebenarnya lah namaku adalah Tirta," kata pemuda ini.


"Hmm sebuah nama yang menunjukkan sifat dari seseorang.. sifat yang tenang dan menghanyutkan.."


"Sifat yang lembut akan tetapi sangat kuat dan mempunyai kepastian."


Tirta Jaya Kusuma nampak tersenyum mendengar uraian akan nama Tirta.


Sementara bagi Pandan Arum ini adalah pertama kalinya Lowo Ijo mengungkapkan nama yang sebenarnya.


"Dengan Arum, engkau tidak mau menyebutkan namamu yang sesungguhnya dan cenderung menyembunyikan namamu."


"Akan tetapi dengan Kakang Jayeng Kusumo, hanya dengan beberapa kata saja engkau telah jujur akan namamu yang sebenarnya," kata Pandan Arum dengan muka cemberut.


"Sudahlah adikku, jangan marahi pemuda ini, nanti dia mutung dan tidak mau berkawan lagi denganmu dan dengan Kakang," kata Jayeng Kusumo melangkah ke tengah-tengah pendopo Katumenggungan dan duduk kursi yang ada di tengah pendopo dengan diikuti oleh Tirta Jaya Kusuma dan Pandan Arum.


Sesaat mereka pun telah berbincang dengan akrabnya di tengah pendopo.


Sifat kedua kakak beradik ini nampaknya sangatlah mirip sehingga mereka dengan mudahnya menjadi akrab dengan Tirta Jaya kusuma.


Namun ternyata ketika kita semakin mendalami akan karakter kedua kakak beradik ini maka diketahuinya bahwa sang kakak Jayeng Kusumo  memang lebih cenderung menyukai hal-hal yang tidak berhubungan dengan kemampuan keprajuritan, sementara sang adik, Pandan Arum lebih menyukai oleh keprajuritan dan olah kanuragan.


Jayeng Kusuma lebih menyukai gending-gending jowo yang menentramkan hati yang bisa membuat kedamaian di muka bumi.

__ADS_1


Sementara cara pandang Pandan Arum adalah dia ingin menggunakan kekuatannya untuk bisa menciptakan dan menjaga tanah padi pesantenan menjadi  kadipaten yang kuat yang tidak tunduk kepada kekuatan manapun.


Dan cara pandang yang bertolak belakang ini pun seringkali membuat keduanya berdebat. Namun perdebatan itu hanya perdebatan-perdebatan yang ringan dan tidak menimbulkan rasa sakit hati maupun permusuhan diantara kedua kakak beradik ini.


"Huh, hati-hatilah engkau Tirta, Pandan selalu menunjukkan kekuatannya di depan para pemuda sehingga seringkali para pemuda itu menjadi ketakutan karena kemampuan adikku ini."


"Dia mampu menaklukkan seekor kerbau sekalipun bahkan dia pun mampu berlari melebihi cepatnya seekor kijang kencana."


"Dan sekarang ini nampaknya dia ingin bersahabat denganmu, jadi berhati-hatilah suatu saat engkau pasti akan merasakan tonjokannya," canda Jayeng Kusumo.


Tirta yang mendengar perkataan dari Jayeng Kusumo hanya tersenyum sehingga menunjukkan sebuah aura menarik yang luar biasa


"Deg!"


Hati dari Pandan Arum nampak bergetar keras! Walaupun pemuda ini bukanlah seorang pemuda yang ingin menonjolkan diri, seorang pemuda yang cenderung pemalu dan menutupi kemampuannya yang sebenarnya sehingga sikap ini nampaknya sangat bertolak belakang dengan sifat yang dipunyai oleh gadis ini, namun ada daya tarik luar biasa dari pemuda ini yang tidak dapat dihindarinya.


Sebenarnya lah gadis ini lebih cenderung menyukai pemuda-pemuda yang mempunyai cara pandang yang juga hampir sama dengan dirinya.


Dia telah memandang sang ayah Ki Tumenggung Sawunggaling sebagai sosok yang patut dicontoh dalam hal ini.


Ki Tumanggung Sawunggaling adalah seorang pria gagah perkasa yang menonjolkan dan mengutamakan kekuatan dan kemampuan keprajuritan yang mumpuni.


Dan Dia selalu berbicara tentang kekuatan dan juga strategi perang serta ilmu prajuritan. Pandan Arum sangat mengagumi pria-pria seperti sang ayah.


Tapi entah mengapa hatinya selalu bergetar ketika melihat dan menatap Tirta pemuda yang sederhana dan cenderung menutup dirinya.


"Ah, engkau tidak tahu Kakang Jayeng! Lowo Idjo... Eh Kakang Tirta ini adalah seorang pemuda yang luar biasa kuatnya...!"


"Dia mempunyai kemampuan kanuragan yang sangat kuat dan tidak berada di bawah adikmu ini.." kata Pandan Arum..


"Hah ..? Benarkah demikian pandan?" Kata Jayeng Kusumo menegaskan.


"Benar Kakang Jayeng...!" Kata Pandan Arum meyakinkan Kakangnya ini.


"Bukan demikian Raden Jayeng... Sebenarnya lah aku hanya bisa sedikit ilmu kanuragan... Tidak ada yang istimewa dari kemampuanku ini..," kata Tirta jaya Kusuma berusaha merendah di hadapan dua kakak beradik ini.


Dan jawaban seperti ini sebenarnya lah sangat tidak disukai oleh Pandan Arum..


Menurut Pandan Arum hal seperti tidaklah cocok dengan pendapatnya... Menurut pendapat Pamdan Arum seharusnya Tirta harus berani menunjukkan dirinya bahwa dia memang benar-benar kuat supaya orang-orang segan kepada dirinya..

__ADS_1


Akan tetapi bagi Raden Jayeng Kusumo, jawaban dari Tirta adalah jawaban yang luar biasa. Menunjukkan sifat dan karakter pemuda ini yang rendah hati dan tidak sombong sehingga telah menambah ketertarikan pemuda ini kepada Tirta..


__ADS_2