
Sementara itu Bayu yang menyaksikan semua kejadian ini nampaknya sudah gatal tangannya untuk bisa menghajar laki-laki brewok ini.
Akan tetapi beberapa kali pergelangan tangannya telah di pegang dan di tahan oleh Tirta Jaya Kusuma.
Sang pemuda mempunyai pertimbangan lain.
"Kita tidak perlu ikut campur dalam urusan ini untuk sementara waktu Bay."
"Kita belum mengenal siapakah mereka, kita belum menentukan di pihak mana kita."
"Belum tentu semua yang terlihat di depan mata kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan," kata Tirta Jaya Kusuma.
Bayu pun mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk turun dalam keramaian ini.
Sementara itu nampaknya di Jagabaya pun telah merasakan bahwa pria brewok ini tidak menghargai dirinya dan sangat memandang rendah terhadap kemampuan dirinya.
Dan Ki Jagabaya adalah seorang yang cukup berpengalaman.
Beberapa tahun yang lalu, ketika dirinya masih muda dia sempat ikut berperang di bawah panji-panji Kadipaten Pati Pesantenan.
Pada waktu itu dia adalah seorang prajurit yang selalu nyengkuyung sang pemimpin yakni Adipati Pragolo 1 atau Wasis Jaya Kusuma 1, ayah dari sang Adipati Pragola yang sekarang ini berkuasa di Kadipaten Pati.
Pada waktu itu dia telah mengikuti perjalanan sang Adipati ngeluruk ke Mataram.
Dan Ki Jagabaya muda pun menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kesaktian dari sang Adipati Pragolo.
Hanya dengan gagang tombaknya dia mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada Raden Mas Jolang keponakannya yang pada waktu itu diutus oleh sang Romo, Panembahan Senopati untuk menghadapi sang paman.
Dan ketika kemudian sang Adipati telah mundur dari daerah Prambanan sang Adipati kemudian telah membuat garis pertahanan di daerah Gunungpati.
Sebagian prajurit kemudian telah kembali ke kadipaten Pati dan sebagian tetap mengikuti sang Adipati dan menetap di Gunungpati.
Demikianlah sang Jagabaya kemudian telah mempersiapkan dirinya untuk menghadang dan pertahankan harga diri Kademangan Pucakwangi ini dari tekanan si Brewok yang telah sengaja memang membuat kerusuhan dalam acara pernikahan putri dari Ki Demang Pucakwangi.
Bagaimanapun dia adalah mantan seorang prajurit yang mempunyai pengalaman dalam sebuah peperangan yang besar.
Akan tetapi Ki Jagabaya lupa bahwa kini dia telah mulai menua dan tenaganya sudah banyak berkurang.
Sementara itu jika dia mengandalkan para pengawal Kademangan nampaknya hal itu tidaklah mungkin dilakukan karena tiga orang pengawal dari Raden Rangga saja tidak mampu menghadapi pria brewok dan kasar ini.
Dia tidak mau pria brewok ini membuat Kademangan ini menjadi tidak berharga di mata orang-orang yang hadir di tempat ini.
__ADS_1
Tanggung jawabnya lah sebagai Jagabaya untuk bisa mengatasi semua persoalan yang timbul yang berhubungan dengan keamanan kademangan ini.
Sebenarnya lah Ki Jagabaya pun tahu bahwa salah seorang tetamu dari Ki Demang adalah seorang Bekel atau lurah prajurit yang sering berada di tempat ini dan sering melewati daerah ini untuk menjaga keamanan di sekitar Kademangan Pucakwangi.
Akan tetapi dirinya malu jika sebagai mantan prajurit yang pernah ikut berperang ke Mataram dia harus berpangku tangan sedangkan semua ini adalah berada dalam tanggung jawabnya.
"Baiklah Kisanak! Jika engkau tidak bisa aku nasihati dengan baik maka akulah yang akan memaksamu untuk meninggalkan tempat ini," kata Ki Jagabaya yang kemudian telah menyingsingkan kain jarik yang dikenakannya sebagai pertanda bahwa dia telah bersiap menghadapi laki-laki brewok ini.
"Ha, ha ,ha ! Nampaknya engkau cukup berani juga di Jagabaya!" Seru si brewok ini yang kemudian telah mengayunkan tangannya yang besar langsung menerjang ke arah Ki Jagabaya yang memang telah bersiap setia.
ayunan pukulan nampaknya sangatlah kuat!
Ki Jagabaya pun sigap telah menangkis serangan ini dengan serta merta.
nampaknya sisa-sisa kekuatannya masih belum luntur di usianya yang sudah menginjak pertengahan ini.
Pertarungan antara dua orang laki-laki ini pun Segera berlangsung.
Untuk sesaat tandang dari di Jagabaya nampaknya mampu mengimbangi pergerakan dari si brewok dari alas Kunduran ini.
Akan tetapi ketika sesaat kemudian, laki-laki brewok ini nampaknya telah mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya sehingga pukulannya pun semakin bertambah kuat dan gerakannya pun semakin mantap.
hingga suatu saat dia harus menerima pukulan yang sangat keras yang langsung menghantam ke dadanya.
dan.
"Desss..!"
Suara benturan pukulan cukup nyaring.
Tubuh di Jagabaya yang sudah berusia pertengahan ini pun seketika bergetar mundur beberapa langkah dan kemudian jatuh terduduk di atas tanah kering.
"Hanya segitu saja kemampuanmu Ki Jagabaya!" Seru laki-laki Brewok ini.
Namun sebelum menyelesaikan perkataannya tiba-tiba di hadapan laki-laki brewok ini telah berdiri seorang pria yang berusia sekitar tiga pukuh tahunan.
"Hmm.. kau ini manusia darimana! Berani-beraninya membuat kerusuhan di dalam wilayah Kadipaten Pati pesantenan!" Seru laki laki ini.
Ya, laki-laki ini yang terlihat cukup gagah dan mengenakan keris di pinggangnya ini adalah tamu yang sejak tadi berada di samping Ki Demang Pucakwangi.
"He, he, he akulah penguasa dari Alas Kunduran, akulah Jagal Alas Kunduran!" Seru pria brewok ini.
__ADS_1
"Jangan membuat keonaran di tempat ini Jagal Alas Kunduran, jika engkau ingin hidup lebih lama!" Kata pria gagah dan cukup berwibawa ini dengan suara yang dingin dan tegas.
Dari cara berbicara dan dari pergerakan dari pria gagah ini nampaknya Jagal Alas Kunduran pun segera mengetahui bahwa nampaknya dia menghadapi seorang lawan yang cukup tangguh.
Akan tetapi dia adalah seorang pria yang kasar yang terbiasa berbuat kejahatan.
Dia adalah perampok besar yang menguasai hutan di sekitar daerah Kunduran.
Akan tetapi nampaknya si brewok ini sudah terlanjur bernafsu untuk mendapatkan ledek tayub yang telah membuatnya tergila gila dengan tarian dan kecantikannya ini.
"Aku akan pergi meninggalkan tempat ini jika gadis ledek itu mau ikut bersamaku!" Kata Jagal Alas Kunduran ini.
Semua yang berada di tempat ini hanya bisa menarik nafas khawatir dengan perkataan dari Jagal Alas Kunduran.
"Tidak bisa, mereka adalah tamu-tamu kami! Jika kau ingin membawa gadis ledek itu, maka lewati dulu nyawaku!" Kata pria gagah ini yang kemudian telah menghunus keris yang ada di punggungnya.
Pria yang cukup gagah ini nampaknya telah mengambil satu keputusan untuk memberi pelajaran kepada pria brewok ini.
Dia adalah seorang prajurit kadipaten Pati pesantenan.
Dengan bekal olah keprajuritan, dia nampaknya cukup yakin akan bisa mengatasi Jagal Alas Kunduran ini.
Dan nampaknya Jagal Alas Kunduran pun tidak gentar dengan sang lawan yang telah menghunus keris.
Jagal Alas Kunduran ini kemudian telah meminta sebuah Klewang yang tengah dipegang oleh beberapa orang pria yang ada di sekitar tempat itu yang ternyata adalah anak buah dari Jagal Alas Kunduran.
Begitu menerima Klewang dari tangan anak buahnya, tanpa basa-basi lagi Jagal Alas Kunduran segera mengayunkan Klewang ini ke arah pria gagah yang berdiri di depannya.
dan pertarungan antara dua laki-laki ini pun telah pecah di halaman rumah Ki Demang Pucakwangi.
Sementara itu warga yang tadinya menyaksikan pertunjukan tari tayub pun harus menjauh ketika dua orang laki-laki yang sama-sama menggenggam senjata ini telah saling Serang.
sesaat pertarungan pun telah berlangsung dengan seru antara sang lurah prajurit kadipaten Pati pesantren melawan perampok dari Hutan Kunduran.
Keduanya sama-sama tangguh tanggon.
Keduanya adalah pria-pria yang terbiasa bertarung.
Yang satu terbiasa membunuh dan melukai orang-orang yang memasuki wilayahnya dan tidak mau memberikan upeti dan barang-barang yang di kehendaki Sang Jagal.
Sedangkan sang lurah prajurit pun telah terbiasa berlatih olah kanuragan di dalam lingkup keprajuritan Kadipaten Pati Pesantenan Serta menghadapi para maling, begal dan kecu.
__ADS_1