
Dalam setiap pertarungan, Tirta jarang membunuh lawannya kecuali dalam keadaan terpaksa atau karena lawannya memang seorang penjahat yang terlalu banyak berbuat jahat dan benar benar sulit kembali ke jalan yang benar!
Dan memang warga padukuhan Pucakwangi pun harus mengurus para tawanan ini.
Walaupun mereka lebih mementingkan dan mendahulukan para prajurit Kademangan Pucakwangi.
Bagaimanapun mereka juga tidak tega untuk membunuh para tawanan yang sudah terluka.
"Itu urusan kami! Daripada engkau yang telah mengorbankan para prajurit karena kesombonganmu!" Balas Lowo Gemblung yang memang pandai berkata-kata dan membolak-balikkan perkataan.
Jawaban- jawaban yang diberikan Bayu selanjutnya telah membuat Lokajaya menjadi sangat marah.
Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
"Hmm, heh Gemblung! Jika ada kesempatan ingin rasanya aku potong lehermu itu!" Gertak Lokajaya..
"Ihhhh takuut tuan ...! Tuan muda Lokajaya yang perkasa!"
"Jangan lakukan itu ya tuan! Aku sangat takuut!" Kata Si Gemblung.
Bukannya takut benar benar, tapi perkataan Lowo Gemblung adalah ungkapan ejekan sehingga telah membuat Lokajaya semakin marah.
"Sudah sudah! Kita adalah satu kesatuan prajurit jangan kalian!" Kata Pandan Arum mencoba meredakan suasana yang semakin panas diantara kedua pemuda ini.
"Hmm awas kau Gemblung!" Seru Lokajaya yang nampaknya tidak terima dengan ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh Bayu.
***
Sementara itu pasukan berkuda yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Sawunggaling kini telah sampai sebuah jalanan yang menanjak di mana di kanan kiri dari jalanan ini adalah batu-batu besar.
Dan seorang prajurit cucuk lampah telah kembali menghadap Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Nampaknya orang-orang yang kita kejar ada di puncak bukit itu Ki Tumenggung!"
"Dan sepertinya mereka pun sudah menyadari dan mengetahui bahwa mereka sedang kita kejar, karena posisi mereka yang ada di atas bukit itu." lapor seorang prajurit.
"Jika kita melewati celah yang ada di depan kita itu maka akan sangat berbahaya bagi pasukan kita Ki Tumenggung!" Lapor prajurit cucuk lampah atau perintis ini.
Apa yang disampaikan oleh prajurit seseorang yang benar adanya.
__ADS_1
Para Begal Alas Kunduran nampaknya telah menyadari bahwa mereka sedang di kejar oleh sekelompok pasukan berkuda.
Beberapa orang yang menyaksikan pasukan berkuda yang berada di bawah bukit tengah berusaha mengejar mereka dan mereka telah melaporkan kepada Sang Jagal Alas Kunduran dan juga dua orang pemimpin pasukan dari Mataram yang juga merupakan kakak seperguruan dari sang jagal yaitu Tohsidono dan Tohpati.
"Pasukan berkuda yang kemarin sempat bertarung dengan kita telah mengejar sampai kemari Kang Jagal" lapor seorang begal.
Mendengar laporan ini, Sang Jagal Alas Kunduran segera berkata kepada Tohsidono dan Tohpati.
"Apa rencana kita untuk menghadapi pasukan berkuda dari Kadipaten Pati itu Kang Tohpati, kang Tohsidono?" Kata Sang jagal Alas Kunduran meminta pertimbangan kepada dua orang kakak seperguruannya ini.
Tohsidono lah yang kemudian menjawab.
"Lihatlah itu!" Kata Tohsidono seraya menunjuk ke arah bawah, ke arah lereng bukit Gamping ini.
Tohsidono ternyata telah menunjuk jalanan sempit dimana jalan itulah satu-satunya jalan untuk melintasi pegunungan Kendeng ini.
Jalanan yang membelah pegunungan Kendeng menghubungkan wilayah bagian selatan dan wilayah bagian utara.
Wilayah bagian selatan dari pegunungan Kendeng ini ada Grobogan, Kunduran, Todanan, Wirosari dan lain sebagainya.
Sementara wilayah bagian utara terdiri dari Pucakwangi, Sukolilo, Sumber, Kalinanas serta Kadipaten Pati pada umumnya.
"Jalanan sempit itu akan kita manfaatkan sebaik baiknya." Lanjut Tohsidono.
Ya, dengan rencana ini Tohsidono sangat yakin akan mampu menghancurkan pasukan berkuda dari Kadipaten Pati yang terus memburu mereka.
***
Sementara itu Ki Tumenggung Sawunggaling ternyata cukup cermat dan berhati-hati.
Sekilas melihat jalanan di lereng bukit Gamping , Ki Tumenggung segera menyadari bahwa celah sempit yang ada di jalanan di lereng pegunungan Kendeng yang menghubungkan dua wilayah ini akan sangat berbahaya jika lawan telah mempersiapkan jebakan di tempat tersebut.
"Semua berhenti!" Seru Ki Tumenggung seraya mengangkat tangannya sebagai pertanda kepada pasukan berkudanya untuk menghentikan pergerakan mereka.
Serentak rombongan pasukan berkuda dari Kadipaten Pati ini pun telah berhenti di bawah bukit Gamping.
Bukit ini bukanlah bukit yang tinggi dan terjal akan tetapi dalam posisinya para begal itu tetap dapat berbuat lebih dibandingkan dengan apa yang bisa dilakukan oleh para prajurit dari Kadipaten Pati.
"Kita tidak dapat menunggu mereka hingga mereka melarikan diri kita harus berbuat sesuatu," kata Ki Tumenggung.
__ADS_1
"Jagadenta, hubungi prajuritmu yang ada di belakang, atur rencana penyerangan dengan menggunakan jalan lain."
"Gunakan jalan lain untuk menyerang mereka dari sisi lain dan pada saat itulah pasukan berkuda akan menyerang mereka dari tempat ini."
"Untuk menghindari kecurigaan mereka, kita disini pun harus berbuat seakan akan kita akan menyerang mereka sehingga perhatian mereka tetap tertuju kepada kita!" Kata Ki Tumenggung kepada beberapa pemimpin kelompok prajuritnya.
Setelah mengatur rencana-rencana secara matang maka Ki Jagadenta pun telah diperintahkan untuk segera menghubungi prajuritnya yang berjarak kira-kira sekitar lima ratus tombak dibelakang dan sedang bergerak menuju ke tempat ini.
Beberapa saat kemudian Ki Rangga Jagadenta telah berhasil mendapati pasukan pilihan dari Kademangan Pucak Wangi.
"Ada apa Ki Rangga?" Tanya ki Sarno dan Ki Suro secara bersamaan.
"Kalian berhenti dulu!_ Kata Ki Rangga Jagadenta.
Panggillah Lowo Ijo dan dua kawannya serta Loka Jaya dan juga Bango putih kata Ki Rangga Jagadenta.
Setelah semua pemimpin regu berkumpul maka Ki Rangga Jagadenta pun segera memaparkan rencana yang hendak dilakukan oleh ki Tumenggung Sawunggaling.
Mereka semua nampak mendengarkan rencana-rencana dari Ki Tumenggung melalui Ki Rangga Jagadenta dengan seksama.
"Kalian akan terbagi menjadi dua kelompok kelompok pertama akan aku pimpin sendiri sementara kelompok kedua akan dipimpin oleh Ki sarno dan Ki Suro._
"Masing-masing beranggotakan dua puluh lima orang prajurit pengawal Kademangan." Terang Ki Rangga Jagadenta.
"Secepatnya kita bergerak!" kata ki Rangga Jagadenta.
Dan mereka dengan cepat membagi diri dan bergerak mendaki ke puncak bukit Gamping ini.
Mereka adalah para pemuda yang sering berkeliaran di perbukitan bukit Gamping atau bukit gendeng ini sehingga tanpa kesulitan Mereka pun telah berhasil mencapai puncak bukit dan kemudian berjalan lurus ke arah timur menyusuri puncak bukit ini.
Sementara itu regu kedua yang dipimpin oleh Ki Sarno dan ki Suro telah sedikit turun ke arah selatan dan kemudian berjalan cepat di lereng sebelah Selatan juga menuju ke arah timur.
Mereka bermaksud mengepung para begal ini dari tiga penjuru.
Sebagian besar gunung Gamping atau perbukitan Kendeng ini adalah hutan jati yang cukup lebat dan hanya di bagian tertentu saja yang jarang terdapat pepohonan lebat yang sering di gunakan sebagai jalanan orang orang yang melintasi bukit ini.
Masih banyak hewan liar di pegunungan ini.
Dan yang paling di takuti para penduduk yang sering melakukan perjalanan melintasi hutan adalah kemunculan harimau .
__ADS_1
Akan tetapi kebanyakan harimau selalu menghindari perjumpaannya dengan manusia.
Akan tetapi jika hal itu tetap terjadi maka seringkali wargapun mampu membunuh harimau dengan tombak tombak dan golok mereka, karena mereka telah mempersiapkan senjata-senjata ini untuk membunuh harimau atau binatang buas lainnya.