
"Woooyy!!" teriak seseorang. Suara itu berasal dari seorang cewek yang baru saja keluar dari sebuah kafe. Ia sedang mengejar seorang anak laki-laki dan terlihat kalau anak cewek itu sedang kesal dan marah padanya. Di belakangnya si cewek masih berusaha mengejar si cowok sembari memakinya.
"Dasar cowok suek! Barusan lo bilang apa! Putus? Oke, kita putus! Gue juga enggak butuh cowok playboy kayak elo! Elo denger itu, kita putus!!" napasnya mulai habis saking emosinya. Ia kembali melanjutkan makiannya.
"Rivaaaaal! Elo tuh playboy cap jengkol! Dasar Playboy kerempeng! Kurang gizi! Mati aja lo sono! Rivaaaaal!!"
Sementara cowok yang di panggil Rival itu berusaha kabur darinya sambil cengengesan. "Dasar cewek aneh! Iria aneh! Weeeek!" balas Rival sembari menarik hidungnya ke atas.
Iria, cewek yang baru saja memaki Rival itu kini benar-benar seperti gunung yang siap meletus, ubun-ubunnya mengeluarkan asap. Tangannya mengepal kuat, menahan emosi. Tanpa membalas ejekan Rival, ia pun kembali masuk ke dalam kafe.
Lanjut, Rival berlenggang pergi dari sana sembari berlari kegirangan karena berhasil kabur dari Iria, mantan pacar yang baru saja putus dengannya.
Perkenalkan:
Nama lengkap Rival Alaric Pratama, sekarang masih kelas tiga SMA. Cita-cita belum jelas. Hobi tidur, bikin rusuh, iseng, dan suka gonta-ganti pacar. Salah satunya cewek yang bernama Iria tadi, ia baru saja di cap sebagai 'mantan' oleh Rival.
Moto hidup: Ngapain lo suka bikin hidup elo ribet, toh kalo dah waktunya juga bakal tiba. Ngapain di bikin susah, mending sekarang nikmat aja dulu apa yang ada di depan elo. Lagian elo enggak tau apa yang akan terjadi besoknya 'kan?
Begitulah. Mungkin yang di maksud Rival soal menikmati apa yang ada sekarang itu, menikmati hidupnya sebagai seorang playboy? Apa benar? Siapa yang tahu.
__ADS_1
Hari yang sama, jam yang sama tapi di lain tempat.
Tampak seorang anak laki-laki sedang berlari sekuat tenaga untuk menghindari sesuatu. Ia terlihat seperti sedang di kejar oleh sesuatu. Napasnya yang mulai terengah-engah karena berlari, namun dari bibirnya memperlihatkan sebuah senyuman. Ia masih berusaha kabur dari sesuatu itu. Tidak lama kemudian datang dari belakangnya beberapa orang yang sedang mengejarnya sambil meneriaki namanya. Terlihat kalau mereka sangat kesal pada anak laki-laki tersebut.
"Divaaaaaal!!" teriak salah seorang laki-laki yang belum terlalu tua tersebut. "Sini kamu, Dival! Apa yang kamu lakukan, hah! Kamu sudah melakukan tindakan kriminal! Ini sudah yang berapa kali kamu lakukan! Divaaaaaal, kembali kamu!!" teriak Bapak itu sambil terus mengejar anak laki-laki yang bernama Dival tersebut.
Namun Dival tetap tidak berhenti, ia terus berlari hingga menjauh dari orang-orang yang tadi mengejarnya. Terlihat di tangannya membawa sebuah dompet warna hitam. Sudah cukup jauh, sepertinya mereka sudah tidak lagi mengejarnya, pikir Dival. Ia melihat ada sebuah jalan keluar tepat setelah belokan di gang tersebut. Seringai di wajahnya semakin mengembang, tawa iblisnya keluar ketika melihat jalan keluar. Dival menoleh ke belakang dimana orang-orang tadi mengejarnya, aman.
"Hihihi ... Dival di lawan. Orang paling ter-cepat se-Jakarta. Kalian terlalu lambat seratus tahun dari gue! Siapa suruh ngelawan seorang Dival!" ucapnya bangga masih dengan tawa iblisnya.
Namun kata siapa kalau ia lebih cepat. Buktinya, mereka berhasil menemukan Dival, mereka berhasil mengejar Dival. Tiba-tiba mereka sudah tidak jauh darinya. Melihat mereka bergerombol beberapa meter darinya membuat Dival terlonjak kaget. Lantas ia langsung ambil langkah seribu. "Sial!"
Dival melanjutkan aksi berlarinya, mencoba kabur dari kejaran mereka. Namun sayang, karena Dival sibuk melihat ke belakang hingga ia tidak sadar dari arah depannya datang seorang anak cowok dari sebelah kirinya, tiba-tiba ....
"Kurang ajar! Apaan sih dasar kutu kupret! Kalo jalan liat-liat dong! Elo enggak liat gue ada di sini hah?!" protesnya pada Dival.
"Ya maap, gue enggak sengaja," jawabnya sambil berdiri.
"Elo ... habis nyopet ya?" tanyanya pada Dival saat melihat dompet yang ada di tanah.
__ADS_1
Belum sempat menjawabnya, Dival sudah melihat orang-orang yang tadi mengejarnya. Melihat mereka membuat Dival sontak berdiri lalu mengambil dompet yang masih di tanah, kemudian bersiap untuk berlari.
"Ah, itu dia! Dia di sana, tangkap dia!" seru salah satu dari mereka.
Cowok yang tadi di tabrak Dival pun menoleh ke arah mereka yang terlihat sedang berusaha ingin menangkap cowok yang ada di hadapannya. Melihat mereka lantas di pikirannya tentang cowok ini benar.
"Jadi elo beneran habis nyopet?!" tuntutnya pada Dival. Namun Dival masih menutup mulutnya.
Tanpa berpikir panjang Dival menarik tangan cowok tersebut yang masih duduk di tanah, lalu mengajaknya untuk berlari bersama. Tentu saja cowok tadi masih bingung dan heran penuh tanda tanya di jidatnya, kenapa ia tiba-tiba di ajak berlarian. Saat itu ia masih bingung tapi ketika melihat lagi orang-orang yang mengejarnya itu dengan wajah-wajah garang membuat ia tidak bisa berpikir lagi. Ia tidak punya pilihan lain selain harus berlari bersamanya, dari pada bonyok sama bapak-bapak itu kalau benar cowok ini habis nyopet.
"Heh! Gue tanya, elo beneran habis nyopet?!" tanyanya sekali lagi masih dalam keadaan berlari. Tapi ia masih bingung pada cowok yang ada di sampingnya ini, bukan jawaban yang ia terima, melainkan sebuah senyuman manis di bibirnya. Tentu saja ia semakin bertaut alis.
"Bagaimana ini Pak Ahmad, dia berhasil kabur. Bagaimana dengan uang Bapak?" tanya seseorang pada Pak Ahmad.
"Sudahlah, biarkan saja, nanti kalau dia balik kita sergap dia langsung," jawab Pak Ahmad yang masih menatap jalan yang di lalui Dival.
Sementara itu mereka berdua mencoba kabur dari kejaran orang-orang tadi. Ketika melihat ke belakang dan sudah tidak ada tanda-tanda dari mereka, Dival mengintruksi untuk berhenti.
"Stop! Mereka udah enggak ngejar lagi," ucap Dival santai.
__ADS_1
Sekarang cowok tadi melotot ke arah Dival. "Heh! Kenapa wajah elo tenang-tenang aja sih, bukannya lo itu habis nyopet! Kenapa juga elo narik tangan gue buat lari bareng elo! Gue 'kan enggak ada sangkut pautnya sama dompet yang elo curi! Aaah ... sial! Gara-gara elo, gue harus lari-larian kayak maling!"
"Siapa yang elo bilang habis nyopet?" tanya Dival santai.