
Bahkan saat di jalan pun Rival masih memperdebatkan Sari yang terus mengekor di belakangnya. Tadi memang masih biasa saja, tapi sekarang Rival benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Heh! Elo kenapa sih ngikutin gue mulu! Emang elo tuh enggak pulang?!"
"Gimana gue mau pulang, orang gue enggak hapal jalanan di sini. Makanya gue ngikutin elo. Tinggal diem, jalan terus aja kenapa sih, yang penting gue enggak ganggu elo 'kan! Ribet amat sih jadi cowok!" balas Sari yang mulai emosi.
"Tapi masalahnya, gue yang merasa terganggu kalo ada elo di sini, Sariiiii ....!" Rival geregetan.
"Halah! Elo tinggal abaikan gue aja ngapa sih. Anggap aja gue enggak ada, gampang 'kan? Biasanya juga elo enggak pernah anggap gue ini ada! Kenapa sekarang malah repot gue ada di sini! Dasar oon!"
"Elo ... lama-lama gue pites juga lo! Udah sono, jauh-jauh dari gue!" Rival mengusir Sari.
"Tenang aja, gue enggak bakal deket-deket sama elo kok. Yang mau deketan sama elo juga siapa, sapi aja ogah apalagi gue, triple ogah!"
"Ini cewek bener-bener deh! Minta di cekik nih kayaknya! Ngajak ribut mulu! Elo itu ....!" tiba-tiba kalimat Rival terhenti.
"Sst!!" intruksi Sari pada Rival. Ternyata Sari yang membuat Rival menghentikan kalimatnya. Kali ini ia melirik Rival. "Elo denger suara itu enggak Nyet?"
__ADS_1
"Apa! Bilang apaan lo! Nyet? Siapa yang elo panggil Nyet! Elo jangan main ganti topik pembicaraan dong! Gue belum ....!"
Sari merasa jengkel pada Rival, akhirnya Sari nekat membekap mulut Rival, "Diem dulu ngapa sih! Berisik! Dengerin dulu, ini kayaknya ada suara gaduh-gaduh deh, Val," kata Sari memberitahu.
"Hah?" Rival bingung. "Apaan sih, enggak jelas banget lo ah!"
Semakin lama semakin terdengar dengan jelas kalau memang ada suara gaduh, dan suara itu semakin mendekat. Betapa terkejutnya Sari dan Rival ketika melihat kerumunan anak-anak cowok yang sedang berlari ke arah mereka sambil membawa kayu. Terlihat sekumpulan anak-anak cowok itu berteriak sambil berusaha menghindari sesuatu. Sontak mereka berdua yang melihat aksi tawuran itupun langsung panik di buatnya. Mereka terkejut bukan main.
"Rival! Ada tawuran, gimana ini!" Sari panik.
Tanpa pikir panjang lagi Rival menarik lengan Sari lalu mengajaknya berlari sekuat tenaga untuk menghindari tawuran tersebut. Sembari menengok ke belakang, di mana anak-anak tawuran itu berada. Rival dan Sari terus berlari supaya mereka tidak terjebak. Tapi siapa sangka kalau anak-anak yang tengah tawuran itu larinya melebihi tenaga kuda. Alhasil, Rival dan Sari sama-sama terjebak di dalamnya, bahkan sebelum mereka sempat untuk lari. Mereka yang brutal saling melempar entah itu batu atau kayu yang mereka bawa. Satu per satu mereka membalas lemparan ke arah lawannya. Saling adu lemparan. Sementara Sari yang terjebak di antara mereka begitu ketakutan, saking takutnya sampai-sampai Sari mencengkeram lengan Rival sangat kuat, bahkan Rival bisa merasakannya. Rival melihat Sari yang tengah memejamkan matanya karena terlalu takut. Rival melihat sekelilingnya untuk mencari jalan keluar. Merasa kalau dirinya adalah seorang laki-laki, pantang bagi Rival untuk tidak melindungi Sari. Lantas, Rival berdiri di depan Sari sembari memeluknya erat, sebagai tameng supaya Sari tidak terkena lemparan batu atau apapun yang mereka gunakan untuk tawuran. Sampai-sampai Rival terkena lemparan batu yang tepat mengenai jidatnya. Ia meringis nyeri ketika batu itu mengenai kepalanya. Tapi, Rival tetap kukuh dan bertahan menjaga Sari di pelukannya. Sekali lagi Rival mencoba mencari jalan, ada celah untuk mereka kabur. Kini Rival melepas pelukannya dan memegang erat tangan Sari lalu mengajaknya untuk berlari sekencang mungkin. Begitu mulai jauh dari anak-anak tawuran tadi Rival menoleh ke belakang, ia melihat mereka masih adu senjata dan teriakan. Masih terdengar jelas pula suara anak-anak tawuran itu.
"Kutu kupret! Gila! Itu tadi bahaya banget! Tadi itu tawuran 'kan? Mereka enggak lagi main-main 'kan? Gila kali tawuran di tempat seperti ini! Untung kita bisa lari dari sana!" seru Rival yang akhirnya bisa bernapas lega.
Rival melirik Sari yang masih terlihat syok karena terjebak dalam tawuran tadi. Rival juga masih menggenggam tangan Sari yang terasa gemetar karena takut. Bahkan, Rival bisa melihat kalau Sari tengah menangis. Sontak hal itu membuat Rival merasa amat sakit dan cemas. Rival mulai panik saat melihat Sari menangis. Ia juga bingung harus bagaimana.
"Emm ... uh, Sari, elo enggak apa-apa, 'kan?" tanyanya cemas.
__ADS_1
Sari menggeleng kecil, namun tidak menatap Rival, "Ya, gue enggak apa-apa," jawab Sari lirih.
"Elo ada yang kena enggak? Ada yang sakit enggak? Elo kena apanya? Bilang ke gue, mana yang sakit?" Rival benar-benar panik, terdengar jelas dari suaranya kalau ia sangat khawatir. Bahkan ia tidak berani menyentuh pundak Sari sama sekali.
Sari masih belum menjawab pertanyaan Rival, ia justru berhambur ke arah Rival lalu memeluknya sangat erat. Di sana Sari masih terisak, ketakutan.
"Rival ... gue takut ... gue, gue takut banget tadi ....?" ujarnya lirih.
Pelukan Sari semakin mengencang. Namun, Rival tidak mempermasalahkan hal itu, ia justru terkejut tapi juga merasa terenyuh akan ucapan Sari. Rival berpikir, kalau Sari benar-benar sangat ketakutan, bisa di rasakan dari tubuhnya yang bergetar hebat saat memeluknya. Rival merasakannya. Melihat Sari seperti itu membuat Rival semakin sakit dan tidak mampu bicara apapun. Ia merasa sangat tidak berguna untuk Sari. Padahal ia seorang laki-laki, dan seharusnya sebagai laki-laki ia bisa di andalkan. Tapi ... untuk melindungi Sari dari tawuran itu saja Rival tidak mampu. Sesaat Rival merasa dirinya itu tidak berguna sama sekali. Ia merasa marah dengan dirinya yang tidak bisa apa-apa. Rival mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.
"Gue takut, Rival ... gue takut ...." ucap Sari lagi, masih dengan isakannya.
Kali ini benar-benar lain dari Sari yang biasanya. Yang biasanya kalau bicara pada Rival ia sangat jutek dan kaku, bahkan dingin. Tapi, kali ini Rival melihat sisi lain dari Sari.
"Sst ... iya, gue tau. Sekarang elo udah aman, oke. Elo aman sama gue. Mereka udah enggak ada lagi. Elo tenang ya, ada gue di sini. Udah jangan nangis lagi. Elo sekarang udah aman," ucap Rival pelan.
Tanpa sadar Rival membalas pelukan Sari sembari mengusap kepala Sari pelan. Sesekali ia menepuk punggung Sari untuk menenangkannya. Dan terus berkata supaya Sari tidak panik lagi. Hanya ini yang bisa Rival lakukan untuk Sari supaya Sari tenang kembali.
__ADS_1