
Rico menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Rival.
"Oh, dia ... dia 'kan siswi pindahan, baru dia di sini. Namanya kalo enggak salah Sari, iya, Sari. Entar di masuk ke kelas kita kok, satu kelas sama kita," jelas Rico.
"Elo tau dari mana?"
"Elo lupa kalo gue ini ketua kelas, gue kudu tau apapun yang ada di sekolah dan di kelas. Jadi gue tau semuanya termasuk anak baru itu."
"Waaah ... kagak rugi gue punya temen ketua kelas kayak elo, Rico ... hehe, ya udah gue mau ritual dulu, entar keburu bel masuk. Oke, gue cabut dulu!" ujar Rival yang kini mulai menaiki tangga.
Ritual yang di maksud Rival bukanlah ritual yang berbau mistis macam dukun atau santet dan yang lainnya, atau melakukan 'itu' seperti kata Rico tadi, tidak seperti yang ada di dalam pikiran kita. Kata 'itu' yang di maksud Rico adalah ...
"Aaaaah! Mantab jiwa! Bisa tidur siang di sini, ini yang gue tunggu-tunggu sejak tadi. Sekarang enggak ada yang bisa ganggu gue, termasuk nenek-nenek lampir tadi pagi itu. Kuping gue sampai sember dengerin mereka ngomel sepanjang hari!"
Rival terkekeh ketika mulai mapan tidur di atas kursi yang di tata menjadi kasur untuk tidur siangnya, dan kursi itu sudah ada sejak Rival mulai menyukai tempat ini sebagai sarangnya. Dan yang di maksud Rico dengan kata 'itu' adalah tidur siang, bukan seperti melakukan tindakan kriminal dan sebagainya, tapi hanya untuk tidur siang setelah bel berbunyi. Itulah alasan Rival kabur lebih cepat dari Gurunya. Malahan, pernah sekali Rival kebablasan sampai pulang sekolah, karena saking mengantuknya. Rival hanya ingin menghabiskan waktu istirahatnya untuk tidur siang seperti yang ia lakukan saat ini.
Di sekolah Dival ....
"Utang gue udah lunas semua, tapi utang gue di Pak Ahmad belum kebayar. Selanjutnya gue gimana ya, uang gue udah mepet gini. Hmmm ... apa gue cari kerja sampingan aja kali ya, tapi di bolehin enggak ya?" Dival bergumam sendiri di kursinya. Saat ini ia tengah di kelas karena sedang istirahat, biasanya ia pergi ke kantin untuk jajan, tapi kali ini entah kenapa Dival tidak ingin ke sana.
"Elo lagi ngapain, Dival?" tanya seorang cewek pada Dival, namanya Ririn.
"Eh elo, Rin ... enggak kok, enggak ngapa-ngapain, cuma lagi mikir aja."
"Mikir apaan?" tanya Ririn sambil duduk di bangku di depan Dival. "Emangnya elo masih bisa mikir? Gue pikir di otak lo cuma utang dan utang aja yang ada, eeh ternyata temen gue ini bisa mikir juga," ejeknya.
"Yeee ... jangan gitu juga dong, biar gini juga gue masih bisa berpikir jernih. Buktinya, tadi gue udah bayar semua utang gue ke Bu Ida. Tadi gue cuma lagi mikir, apa sebaiknya gue cari kerja sampingan yak buat gue jajan, menurut lo gimana Rin?" tanya Dival meminta pendapat.
__ADS_1
Ririn bertaut alis, "Yakin elo mau kerja sampingan? Emang enggak ganggu belajar elo nantinya. Kita udah kelas tiga lho, bentar lagi sibuk sama persiapan ujian akhir sekolah. Gimana kalo nanti konsentrasi belajar elo terganggu? Apa enggak repot, lagian nih ya emangnya orang tua elo ngijinin buat kerja, sementara elo itu masih status seorang pelajar. Dan juga--!"
"Ririn!" potong Dival saat Ririn masih bicara.
"Ha? Apa? Gue belum selesai ngomong!" protes Ririn.
"Ng ... elo bicara kayak barusan, apa elo itu lagi mencemaskan keadaan gue, iya?" tebak Dival asal.
"Hah? Enggak usah kege-eran deh lo Val, gue ngomong kayak gini emang bener 'kan kalo kita bakalan sibuk ngadepin yang namanya UAS! Bah ... jangan elo pikir gue bicara kayak gini, terus di kira gue simpatik sama elo ya!" dumel Ririn tidak ada habisnya.
Dival tertawa geli. "Iyeee, enggak usah di tekuk gitu dong mukanya, sebel tau!"
"Aaah, udahlah! Elo mau ke kantin bareng gue enggak!" tawar Ririn sambil berdiri.
"Ng, kenapa ngajak gue, elo mau nraktir gue? Boleh deh gue ikut!" kata Dival semangat.
"Kalo ada elo bukan ngutang lagi namanya, 'kan elo yang mau bayarin. Elo yang ngajak, elo juga yang harus bayar. Setuju?"
"Setuju jidatmu!!"
"Entar kalo gue dapet kerja sampingan dan dapet duit, elo gantian gue traktir. Tapi, itu juga kalo gue di bolehin kerja, kalo enggak ya berarti di tunda dulu. Sekarang yang penting gue cari aja tuh info kalau-kalau ada yang butuh."
"Dari tadi elo ngomong apaan sih, enggak jelas banget!" entah kenapa Ririn membiarkan Dival mengekor di belakangnya. "Kalo elo beneran pengen kerja, entar gue bantu cariin, entar gue tanyain ke Paman gue. Kalo enggak salah kemaren Paman gue lagi nyari karyawan buat jaga tokonya, coba deh entar gue tanya lagi."
"Weh ... serius Rin? Elo mau bantuin gue?" tanya Dival dengan mata berbinar. "Thanks ya Rin, elo emang temen gue paliiiiiing baik sedunia! Beruntung gue suka cewek seperti elo!"
Ups!!
__ADS_1
"Hah?" Ririn terkejut mendengar kalimat terakhir Dival.
Bisa di lihat kalau Dival salah tingkah, ia terlihat gugup dan tidak berani menatap Ririn langsung. Sementara Ririn menunggu Dival untuk bicara.
"Eeeh ... enggak, bukan apa-apa kok ... enggak usah di pikirkan ... hahaha ... gue cuma asal bicara aja, jangan elo masukin ke hati ya ... ayo, katanya mau ke kantin, entar keburu bel masuk lho. Tapi inget, elo yang bayarin yak!" entah kenapa Dival mencoba untuk menghindari tatapan Ririn.
Tanpa sadar Dival sudah menarik tangan Ririn menyeretnya ke kantin.
Sedikit info mengenai Dival, memang benar apa yang di katakan Dival bahwa ia menyukai Ririn. Sudah sejak lama itu terjadi, sejak pertama masuk SMA malah, hanya saja Dival tidak berani untuk mendekati Ririn atau mengajaknya mengobrol. Hingga saat ini, sudah kelas tiga, Dival masih saja menyembunyikan perasaannya pada Ririn. Meski sekarang sudah sering bareng kalau di sekolah ataupun pulang sekolah, mereka terkadang pulang bareng, tetap saja Dival tidak mempunyai nyali untuk mengungkapkannya.
Di sekolah Jamal ....
"Jamal!" seseorang memanggil Jamal. Kini ia menengok dan mendapati Pak Zikri, Guru pelajaran agama sedang berjalan ke arahnya.
"Ya, ada apa, Pak?"
"Saya dengar, kemarin kamu menang ya, juara dua lomba tilawah."
Jamal mengangguk, "Iya, Pak ... saya juara dua mewakili sekolah."
"Wah ... selamat ya, Jamal, dan maaf bapak baru bisa ngucapin sekarang. Terimakasih juga karena kamu sudah mau berusaha dan kamu juga bersedia ikut lomba itu, meski pada awalnya kamu menolaknya, bukan?"
"Ah benar, saat itu saya langsung ambil keputusan tanpa berpikir dua kali. Saya langsung bilang tidak mau ikut lomba tersebut, tapi setelah saya pikir itu tidak apa-apa, toh ini untuk saya juga dan untuk sekolah."
"Hmm ... kalau boleh tau, kenapa waktu itu kamu bilang tidak mau ikut lomba?"
Jamal terdiam beberapa saat, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Pak Zikri yang melihat perubahan dari Jamal pun heran, namun Pak Zikri masih menunggu Jamal untuk bicara. Setelah diam cukup lama, akhirnya Jamal hendak membuka mulut, tapi tetap, masih terlihat ragu-ragu. "Kalau soal itu, saya ...."
__ADS_1