
"Rival, elo beneran enggak apa-apa?" tanya Sari lagi untuk memastikan keadaan Rival.
"Gue ... gue enggak apa-apa. Sebaiknya elo pulang sekarang ya, udah sore, takut kalo elo sampe rumah kemaleman. Thanks ya, elo udah nemenin gue sampe sini," ujarnya lesu. Kini ia melepas tangan Sari lalu berjalan meninggalkan Sari.
Tapi dengan cepat Sari kembali meraih tangan Rival, entah apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba Sari memeluk Rival begitu erat.
"Sari ... elo ...." Rival terkejut.
"Kalo elo butuh tempat cerita, elo bisa dateng ke gue. Elo enggak perlu gengsi buat cerita ke gue, Rival. Mungkin gue enggak bisa bantu, tapi setidaknya gue bisa jadi tempat berbagi masalah yang elo punya."
Rival masih diam. Dengan perlahan ia melepas tangan Sari. Ia tersenyum menatap Sari, "Thanks buat perhatian elo, tapi ... gue enggak apa-apa. Sekarang lebih baik elo pulang, oke?" kata Rival lagi.
Dengan enggan Sari mengangguk. Meski sebenarnya Sari tidak ingin meninggalkan Rival dalam keadaan seperti itu. Ia merasa kasihan padanya, tapi Sari sama sekali tidak tahu apapun soal Rival saat ini. Apa yang akan terjadi setelah ini? Sari benar-benar mengkhawatirkan Rival. Dengan berat hati Sari meninggalkan rumah Rival. Sekali lagi Sari menoleh ke Rival sembari melambai kecil.
Sepergian Sari, Rival masuk ke dalam melewati kedua orang tuanya yang masih sibuk beradu mulut. Rival juga tidak melihat Vikal di sana, kemungkinan Vikal sudah masuk ke kamarnya. Sembari pasang wajah kaku Rival masuk ke kamarnya dan pintu di tutupnya dengan amat keras. Sampai di dalam kamar Rival langsung ganti baju lalu memasang earphone di telinganya, di setelnya musik dengan volume full, kemudian membanting tubuhnya di atas kasur, ia pun memejamkan matanya.
*****
Pagi harinya rasanya Rival malas untuk berangkat ke sekolah. Saat bangun juga, ia ogah-ogahan untuk membuka matanya. Dengan terpaksa ia bangun lalu mandi dan segera bersiap. Hari ini ia ingin berangkat sedikit lebih lama. Ketika keluar dari kamar Rival mendapati kalau Vikal sudah berangkat lebih awal. Aneh, pikir Rival, biasanya Vikal akan bilang dulu padanya sebelum berangkat. Tapi, kali ini Rival mendapati kamar adiknya sudah sepi, tidak ada penghuni.
Di sekolah Rival hampir tidak melakukan apapun, selain duduk di kursinya sambil memainkan bolpoin miliknya. Pikirannya menerawang dan tatapannya entah kemana. Bahkan saat Dian menyapa dan mencoba mengagetkan Rival, ia tidak bereaksi apa-apa. Jangankan marah, menoleh pada Dian saja tidak. Saat itu Dian berpikir kalau ada yang tidak beres dengan Rival. Pasti telah terjadi sesuatu pada kawannya itu. Karena kalau tidak, pasti Rival sudah mengamuk kalau di kagetkan.
__ADS_1
"Eh, Val, elo kenapa dari tadi ngelamun aja," tukas Dian.
"Ng?" gumamnya.
"Elo enggak lagi stres 'kan?" tanya Dian lagi. Tapi, Rival masih tetap di posisi awal, tidak ada reaksi apapun darinya. Lalu pandangan Dian beralih ke pintu masuk. Di sana Dian melihat Sari yang baru saja datang. Lantas, Dian menyikut lengan Rival. "Rival, ada Sari tuh, elo kagak nyamperin dia?" imbuhnya lagi.
Lalu Rival mengangkat wajahnya dan melihat Sari. Tapi mendadak Rival bangkit dari kursinya, tanpa berkata sepatah kata pun ia berlenggang pergi dari kelas. Bahkan ketika berpapasan dengan Sari pun, Rival diam saja tidak menyapa Sari. Padahal saat itu Sari sudah ingin memanggil Rival, tapi ia urung ketika melihat Rival yang pergi begitu saja melewati dirinya. Lantas hal itu membuat Sari sedikit kecewa dan lesu karena di acuhkan. Setelah Rival pergi, kini Sari beralih melirik Dian.
"Rival ada apa? Dia kenapa? Tumben amat diem kayak gitu?" tanya Sari heran pada Dian.
Dian juga heran pada Sari yang tiba-tiba bertanya pada dirinya, "Eh, elo tanya sama gue?" tanya Dian takjub. "Sori ... Rival ya. Ugh ... gue juga enggak tau dia kenapa. Gue dateng dia udah seperti itu, mungkin terjadi sesuatu padanya."
Tiba-tiba Sari teringat kejadian saat ia datang ke rumahnya kemarin. Ia ingat betul apa yang terjadi pada Rival.
"Hah? Apa? Elo bilang sesuatu?"
"Dian, elo tau sesuatu soal Rival ... emm, maksud gue soal keluarganya, apa elo tau sesuatu?"
Entahlah, kenapa Sari bertanya pada Dian demikian. Siapa tahu Dian tahu sesuatu, pikirnya. Secara Dian yang paling akrab dengan Rival.
"He?" Dian bertaut alis.
__ADS_1
"Apa, yang terjadi pada keluarga Rival?" tanya Sari sekali lagi.
Dian terdiam beberapa saat sembari menatap Sari yang terlihat sedang menunggu sebuah jawaban darinya. Sedetik kemudian, Dian mengambil nafas panjang lalu membuangnya.
"Gue enggak tau apa tujuan elo bertanya seperti itu, dan gue enggak tau kenapa tiba-tiba elo bertanya soal ini, tapi gue enggak mau asal bicara sama seseorang. Apalagi ini menyangkut Rival, dan lagi elo bertanya soal keluarganya. Kenapa enggak elo tanya sendiri aja sama anaknya?"
"Ng ... gue rasa, kalo gue tanya langsung sama Rival, gue takut entar dia marah atau salah paham sama gue. Gue enggak berani buat tanya sendiri, gitu."
Dian balik melirik Sari sesaat, "Kenapa tiba-tiba elo jadi penasaran sama Rival? Bukannya sejak awal elo dateng ke sini, elo emang udah enggak suka sama Rival, ya?" selidik Dian.
"Kalo soal itu ... gimana ya ... gue juga enggak tau, kenapa gue jadi kepikiran sama Rival. Gue heran, padahal gue tau kalo Rival itu cowok bengal dan suka seenaknya sendiri. Atau, mungkin lebih tepatnya gue jadi penasaran karena enggak sengaja liat orang tuanya Rival bertengkar," terang Sari.
"Apa? Jadi elo udah tau?" Dian agak terkejut.
"Ya, kurang lebih gitu."
"Sejak kapan Rival mau membawa seseorang ke rumahnya? Gue aja enggak pernah di ajak ke rumahnya sama sekali, lha elo, kenapa elo bisa sampai ke rumah Rival?" Dian semakin curiga dengan Sari.
"Hmm ... kemaren enggak sengaja waktu gue ikut pulang sama Rival, gue liat orang tuanya lagi bertengkar di depan Rival. Kemaren gue kebetulan ketemu sama Rival, dan gue ke rumahnya. Tapi, sepertinya kedatangan gue di waktu yang enggak tepat, dan gue liat apa yang seharusnya enggak boleh gue liat. Dian ... apa, selama ini Rival hidup seperti itu?" tiba-tiba raut wajah Sari berubah.
Dian membuang napas berat, "Kalo elo udah tau, sebaiknya elo pura-pura enggak tau aja atau lebih baik elo pura-pura lupa, itu akan lebih baik buat Rival. Karena Rival paling enggak suka sama orang yang ikut campur urusan pribadi dan keluarganya."
__ADS_1
"Tapi, gue pengen tau semuanya tentang Rival! Gue enggak bisa ngebiarin Rival seperti itu terus, Dian. Harus ada seseorang yang mengerti dia!" Sari mulai emosi.
Dian terkejut mendengarnya. Sekarang Dian benar-benar sangat bingung dengan Sari. Terlebih Sari bertanya mengenai Rival.