Triple L

Triple L
Eps 36. A song and Nano


__ADS_3

Sari dan Rival saling berpandangan, tapi kemudian Sari kembali membuang mukanya.


"Hmm, pada dasarnya kita ini enggak berantem. Cuma salah paham sedikit aja," kata Rival.


"Oh, syukurlah kalo gitu. Gue lega dengernya. Dan, Dival, elo ke sini sama siapa?" tanya Jamal sambil melirik cewek yang ada di sebelah Dival.


"Hampir lupa. Kenalin, ini temen gue, dia satu sekolah sama gue. Namanya Ririn," kata Dival memperkenalkan Ririn pada Jamal.


"Hay, Ririn," sapanya ramah pada Ririn.


"Hay juga. Tadi, elo sama temen-temen elo keren, bagus banget penampilan kalian. Hebat lho!" puji Ririn.


Jamal tersenyum malu karena di puji terus-menerus, "Thanks buat pujiannya, dan gue ucapin banyak terimakasih sama kalian Karena kalian udah mau dateng buat liat penampilan kami. Gue seneng kalo kalian suka perform kami, gue yakin mereka juga pasti seneng. Yeah, gue enggak nyangka aja, kalo di sini bakalan rame kayak tadi. Oh ya, selanjutnya kalian mau ke mana?"


"Hmm ... kayaknya kita masih pengen di sini sebentar lagi deh. Kalo elo?" Dival balik bertanya.


"Kayaknya gue mau nyusul anak-anak deh, Val. Bagaimanapun mereka sudah ikut berusaha sekuat tenaga tadi sama gue. Jadi, gue mau bareng mereka dulu. Kalian enggak keberatan 'kan, kalo gue tinggal?"


"Yoi! Santai aja, lagian kita ke sini emang mau liat kalian, dan kita tadi udah liat penampilan kalian secara live! Udah terbayar deh rasa penasaran kita. Dan, elo udah membuktikannya pada kami. Elo udah ngasih yang ter-baik untuk kita semua. Sukses selalu buat elo, Jamal," jelas Rival sembari memberi tanda oke pada Jamal.


"Ya udah, sana kalo mau nyusul mereka. Jangan bikin mereka nunggu. Salam buat yang lain dari kita semua, ya!" imbuh Dival.


"Oke, nanti gue sampaikan. Kalo gitu gue pamit sekarang ya, kalian hati-hati pulangnya!" kemudian Jamal berlalu dari hadapan mereka, meninggalkan Rival dan yang lainnya. Tapi, mendadak ia menghentikan langkahnya, lalu kembali menoleh ke belakang. "Thanks karena kalian udah mau dateng, dan liat penampilan kami!"


Mereka berempat kompak menjawabnya dengan memberikan semua jempol miliknya. Alhasil mereka semua tertawa ketika menyadari kekonyolan masing-masing, begitu juga dengan Jamal. Setelah Jamal menghilang dari pandangan, mereka berempat memutuskan untuk tinggal di sana sebentar lagi. Karena masih ada beberapa anak band yang manggung, sayang untuk di lewatkan.


Kebetulan ada sebuah lagu yang mereka tahu, dan mereka suka. Lalu, mereka berempat mulai menontonnya.


🎶 Menyingkap awan di sore hari


Menikmati senja bersamamu


Melangkahkan kaki bersamamu


Jalani waktuku, mungkin ini hanya mimpi

__ADS_1


"Elo tau lagu ini?" tanya Rival pada Sari.


"Iya. Gue tau, dan gue suka banget sama lagu ini!" seru Sari tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung di depan sana.


"Emang siapa yang nyanyi?"


"Dream Catcher! Judulnya Seribu Harapan!" jawab Sari lagi, kini ia menoleh ke Rival di sampingnya. "Emang elo enggak tau?"


Rival menggeleng kecil.


"Wah, sayang banget, padahal lagunya enak lho, makanya gue suka. Lagu ini juga jadi soundtrack komik yang berlogo hijau," jelas Sari.


"Iya kah?" Rival hanya angkat bahu.


🎶 Perasaanku yang kini aku pendam


Perasaanku yang kini aku pendam


Seakan bintang dan terang cahayanya


Bagaikan kotak kecil berisi, seribu harapan


Berbeda dengan Rival yang hanya diam mendengarkan lagu tersebut mengalun, dan Sari yang terlalu bersemangat ikut menyanyikan lagu tersebut. Berbeda pula dengan keadaan Dival dan Ririn. Mereka berdua memang tengah mendengarkan, tapi rasanya, seperti pikiran mereka sedang berada di tempat lain.


Dan tidak lama setelah itu mereka memutuskan untuk segera pulang. Karena cuaca semakin terik, kepala mereka serasa ingin pecah. Langsung saja mereka menyerbu penjual minuman dingin.


Di tengah jalan, Rival dan Sari, mereka hanya berdua, itu karena Dival dan Ririn pulang bersama, dan arah mereka pun berbeda membuat mereka harus berpisah. Kini hanya tinggal Rival dan Sari saja.


"Rival."


"Hmm?"


"Rival?" ulang Sari usil.


"Apaan sih?!" Rival dongkol.

__ADS_1


"Ada yang mau elo ceritain ke gue enggak? Gue rasa elo punya hutang satu penjelasan ke gue," kata Sari yang kemudian berhenti berjalan.


"Apaan lagi sih? Gue enggak ngerti!"


"Rival ..." Sari terdiam cukup lama, kini di perhatikan Rival di sampingnya. "Gue rasa, kalo Tante cantik itu sebenernya sangat menyayangi elo, Rival ...." ujarnya kemudian.


Rival bertaut alis tidak paham, "Kenapa malah ngomongin Mama gue?"


Sari terdiam lagi. Lalu melanjutkan, "Apa, elo enggak bisa bicara baik-baik sama Tante cantik? Elo enggak pengen coba ngobrol, gitu? Gue tau, kalo Tante cantik itu pengen banget bicara dan ngobrol sama elo."


"Sari, elo lagi enggak ngelindur, 'kan?"


"Tante cantik udah jujur lho sama gue tadi. Tante udah cerita banyak sama gue soal elo yang katanya kecewa padanya karena sikapnya ke elo dan Vikal. Tante cantik juga secara enggak langsung sudah minta maaf sama elo, Tante udah memberanikan diri buat cerita semuanya dari awal. Sekarang giliran elo yang harus jujur sama gue, Rival."


"Tunggu! Tunggu dulu! Kenapa gue ngerasa kalo elo ini, sepertinya udah kenal banget sama Mama gue ya. Kenapa juga elo manggil dia dengan sebutan Tante cantik? Gue makin penasaran, bukannya baru tadi ya, elo ketemu sama Mama?" Rival merasa ada yang aneh. Kepala Rival mulai di penuhi dengan rasa penasaran.


"Bukan. Bukan baru sekali ini gue ketemu sama Tante cantik. Tapi, udah sejak lama. Itulah alasan gue manggil Mama elo dengan sebutan Tante cantik, karena emang dari dulu gue selalu manggil Mama elo, dengan sebutan itu. Ah, rasanya menyenangkan sekali bisa seperti ini lagi," jelas Sari lagi.


"Hah?" Rival masih belum paham sama sekali.


"Elo pastinya enggak inget itu, 'kan? Padahal, dulu elo sering protes lho waktu gue manggil Mama elo dengan sebutan Tante cantik. Elo jadi marah gara-gara itu. Gue manggil Tante cantik, karena emang Mama elo itu cantik."


"Tunggu sebentar! Sari, gue enggak ngerti elo lagi ngomong apa. Apa maksud elo, kalo gue enggak inget? Dulu? Kapan itu? Gue enggak inget pernah bicara kayak gitu, apalagi sama elo!"


"Rival ... tentu saja elo enggak bakal inget, karena waktu itu kita masih kecil. Saat masa-masa kecil kita waktu main bareng. Kenapa? Elo pasti lagi mikir, kenapa gue bisa bicara kayak gini, 'kan?" tanyanya sembari tersenyum. "Kalo ini gimana. Dulu, elo pernah bermain dengan anak kecil, cewek, rambutnya sebahu, dan elo sering manggil di dengan sebutan Nano."


"Hah? Nano?" alis Rival semakin rapat.


"Panggilan Nano itu, elo berikan ke gue. Karena waktu itu, elo bilang kalo anak kecil itu kadang suka berubah-ubah sifatnya maupun kelakuannya, sering malah. Makanya elo namai dia dengan sebutan Nano."


"Bentar! Bentar! Gue masih enggak ngerti arah pembicaraan elo!" Rival mulai gusar. "Anak kecil? Nano? Sering main sama gue? Dulu? Itu kapan? Gue enggak tau, dan enggak inget apa-apa!"


Sari tertawa kecil, "Wajar sih kalo elo enggak inget, dan enggak percaya. Gue pun sebenernya sama sekali enggak terpikir hal itu sebelumnya. Itu udah lama banget kejadiannya. Karena anak kecil itu juga pindah."


Rival semakin di buat bingung olehnya, sedangkan Sari membalas tatapan Rival dengan sebuah senyuman manis.

__ADS_1


__ADS_2