
Di rumah Rival ....
Setelah pulang dari tempat tongkrongannya bersama Jamal dan Dival, Rival baru saja sampai di depan rumah. Ketika di depan rumah Rival menatap rumahnya beberapa saat, lalu ia membuang napas berat.
"Kenapa wajahmu begitu?" Tanya papanya yang baru saja keluar dari garasi samping rumahnya. Terlihat kalau papanya baru saja membereskan sesuatu di sana. Di situ papanya memperhatikan Rival heran.
"Ah, enggak," jawab Rival sekenanya.
"Dari mana kamu? Sudah selesai acara kaburnya?" Beliau bertanya sambil bercanda. "Kenapa tidak ajak saja teman-teman kamu ke sini? Setahu Papa, kamu belum pernah membawa temanmu ke rumah. Teman kamu yang sering ke sini palingan cuma Dian."
Rival tidak membalas pertanyaan papanya, ia terus memperhatikan papanya yang sedang membasuh tangannya. Rival hendak membuka mulut, tapi rasanya sangat sulit, atau lebih tepatnya canggung. Di belakangnya Rival masih terus mengamati punggung papanya.
"Pa ...."
"Hmm?" Papanya bergumam. "Ada apa?"
Tampak Rival sedikit canggung, ia ragu untuk berucap. Tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka mulut, "Itu ... Rival, mau ngomong sama Papa."
__ADS_1
Menyadari anaknya bicara dengan gugup membuat beliau berbalik lalu menatap Rival. Beliau tersenyum, kemudian bertanya, "Apa? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papa?"
Rival tampak semakin bimbang saja. Takut. Takut, berani tapi Rival sama sekali tidak punya keberanian. Takut, tapi ingin sekali mengatakannya. Hal ini membuat Rival semakin benci pada dirinya sendiri, yang tidak pernah mempunyai keberanian untuk memulai. Mungkin inilah sebabnya ia terus lari dari masalahnya.
Rival melihat papanya sedang menunggu jawaban darinya dan Rival tahu itu. Lantas, Rival berkata, "Maaf, enggak ... enggak ada. Kalo gitu Rival mau masuk dulu, Pa." Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi ia meninggalkan papanya begitu saja di depan rumah.
Ketika masuk Rival berpapasan dengan mamanya. Saat itu mamanya baru saja keluar dari dapur. Saat melihat Rival masuk, mamanya menegur Rival sambil tersenyum manis. "Rival! Kamu sudah pulang? Gimana seharian ini, ada yang seru tidak? Kalau begitu kamu mandi sekarang ya. Nanti kita makan bareng-bareng, ya?" Pinta Mamanya pada Rival sembari tersenyum sumringah.
Rival membisu sambil terus memperhatikan mamanya cukup lama. Entah kenapa, ia tidak ingat kapan terakhir mamanya bicara begitu lembut padanya. Dan rasanya ... tanpa sadar hampir saja Rival menitikkan air matanya walupun tidak diketahui oleh mamanya. Tapi, dengan cepat ia mengalihkan matanya ke arah lain. Dan, tepat saat itu ia melihat Vikal berada tidak jauh darinya. Rival melihat Vikal tengah menatapnya, lalu terlihat kalau Vikal melirik ke arah mamanya. Kini, Rival memberanikan diri untuk menatap mamanya yang masih menunggu jawaban darinya. Seolah Vikal sedang memberi sebuah kode pada Rival.
Rival membuang napas panjang sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia berpikir, kira-kira sejak kapan keadaannya mulai berubah. Semuanya berubah sejak saat itu. Sejak awal masuk SMA, Rival selalu menutup dirinya dari siapapun, termasuk Dian—sahabat satu-satunya. Rival menjadi teman dan akrab dengan Dian setelah pertemuannya ketika MOS. Awalnya Rival hanya berteman dengan Dian seperti biasa, dan Dian pun tidak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadi Rival. Itu karena Rival tidak pernah menceritakan kisah hidupnya pada Dian.
Dian sendiri pun tidak pernah menanyakan apapun mengenai kehidupan pribadinya Rival. Karena rasa saling percaya dan mengerti satu sama lainnya, ini yang membuat mereka terus seperti sekarang ini. Hingga sampai akhirnya Dian mengetahui keadaan Rival dan juga soal keluarganya. Saat itu, Dian yang tidak sengaja memergoki Rival hendak melompat dari gedung sekolahnya. Sejak saat itu Dian mengetahui semua tentang Rival. Dan ketika Dian melihat aksinya, membuat Rival menyerah dan akhirnya mau jujur akan keadaannya. Dari sanalah awal Rival mau membuka masalahnya pada Dian. Sampai saat ini hanya Dian yang mengetahui keadaan dirinya dan keluarganya. Selain itu, setelah Dian mengetahui masalah yang dihadapi Rival, Dian juga berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh lagi mengenai keluarganya Rival. Dian cukup tahu saja apa yang sudah membuat Rival menutup diri dari siapapun. Dan juga, itu adalah permintaan Rival pada Dian, supaya Dian tidak mempertanyakan masalahnya. Saat itu Rival berpikir kalau dirinya sudah egois dengan berkata demikian pada Dian, itu karena Rival tidak ingin orang lain tahu akan masalah keluarganya. Rival tidak ingin orang lain melihat keadaan keluarganya yang begitu berantakan. Dan sampai sekarang, Dian tidak pernah bertanya atau berusaha mengungkit masa lalu Rival.
Tapi itu dulu ... sekarang berbeda keadaannya setelah bertemu dengan dua kawannya itu, tidak lain itu adalah Dival dan Jamal. Berkat mereka berdua, Rival mau mulai membuka dirinya pada mereka, tidak lagi merasa canggung ataupun enggan. Ia sudah tidak merasa ragu lagi menceritakan semua kegundahan hatinya pada mereka berdua. Berkat mereka juga, Rival mau lebih mengerti dengan keadaan sekitarnya. Selama ini Rival terus-menerus berlari dari masalah yang sedang di hadapinya. Selama itu pula Rival terus memelihara rasa kebencian terhadap orang tuanya. Hingga Rival menjadi orang yang bertingkah semaunya sendiri dan dingin pada kedua orang tuanya. Seperti ucapannya pada Vikal beberapa waktu yang lalu, yang katanya semua yang sedang di rasakannya sudah mendarah daging di dalam diri Rival. Dan akibatnya Rival menjadi terbiasa dengan semua itu, dan tidak perlu peduli dengan orang tuanya.
Karena terus melihat orang tuanya seperti itu, membuat Rival harus berpura-pura tidak mendengar tiap kali orang tuanya bertengkar. Namun, karena kebiasaan kepura-puraan Rival, akhirnya membuat Rival menjadi orang yang tidak peduli. Mungkin Rival sudah tidak peduli lagi dengan semuanya, kecuali pada Vikal. Perasaan Rival menjadi lain jika sudah menyangkut Vikal. Tapi, sejak bertemu dengan Jamal dan Dival telah mengubah sudut pandangnya terhadap kedua orang tuanya. Jamal dan Dival tidak hentinya terus memberitahu betapa pentingnya peran orang tua di dalam hidupnya. Tentang betapa berharganya orang tua di mata seorang anak. Dan sejak mendengar nasehat dari kedua kawannya, Rival mulai berpikir tentang hal itu.
__ADS_1
Rasanya selama ini yang sudah egois adalah dirinya. Selama ini yang sudah berbuat seenaknya adalah dirinya. Dengan mudahnya Rival menuduh orang tuanya yang sudah egois dan tidak memperhatikan mereka. Yang sebenarnya, Rival lah yang sudah egois dan bertindak sesuka hatinya sendiri. Begitu sadar kalau dirinyalah yang sudah bersikap demikian tanpa memperdulikan perasaan orang tuanya.
Rival menutupi matanya menggunakan lengannya. Siapa sangka kalau Rival akan mengeluarkan air matanya lagi. Memang benar, Rival menangis ketika menyadari hal itu. Betapa egois dirinya saat ini. Melakukan semuanya semaunya sendiri. Bahkan, begitu sadar air matanya telah lebih dulu jatuh. Dengan cepat ia menghapusnya lalu menutupi matanya yang basah.
Saat itu terdengar pintu kamarnya terbuka. Vikal melihat Rival tengah tiduran. Lantas, ia pun mendekati Kakaknya.
"Kak," panggilnya sambil memperhatikan Rival. "Kak Rival kenapa?"
"Enggak kenapa-napa. Gue cuma mau tidur aja, elo kalo mau bicara entar aja, ya. Gue agak capek sekarang," jawabnya tanpa mengangkat tangannya dari wajahnya.
Vikal heran melihat Kakaknya bertingkah aneh. Tapi, ia tidak ingin bertanya lebih. "Ya udah, gue cuma mau bilang, kalo Kakak udah selesai mandi, Kak Rival di suruh makan bareng Mama dan Papa."
Rival diam.
"Dan juga, ada yang mau Papa dan Mama bicara sama Kak Rival."
Rival masih tetap tidak bergeming dari posisinya. Rival masih diam tidak menjawab perkataan Vikal. Sampai Vikal keluar pun, Rival masih tidak bergerak. Beberapa saat setelah Vikal pergi barulah Rival bangun dan duduk. Kemudian, Rival memutuskan untuk pergi mandi.
__ADS_1