Triple L

Triple L
Eps 10. Sari si anak baru


__ADS_3

"Elo pasti tau 'kan, secara dia 'kan anak baru di sini, pastinya dia enggak kenal siapa gue dong. Dia enggak tau apa yang akan terjadi padanya. Enggak mungkin dia langsung tau siapa gue!" kata Rival bangga.


"Jangan bilang kalo elo ...."


"Yap! Tepat seperti apa yang ada di kepala elo!" Rival menjentikkan jarinya.


"Seriusan elo mau nggaet si anak baru?" Dian masih belum percaya.


Rival mengangguk mantab, "Yosh! Itu rencana gue. Gue bakal bikin dia jatuh cinta sama gue! Elo liat aja entar. Jangan panggil gue Rival kalo gue enggak berhasil bikin anak baru itu tunduk sama gue!"


Dian nyengir kuda. "Rival!"


"Apa?"


"Gue masih bisa manggil elo Rival meskipun gue beneran enggak jatuh cinta sama elo," ledek Dian.


Rival melotot ke arah Dian, "Elo lagi ngeledek gue ya! Kutu kupret lo, Dian!"


"Katanya jangan panggil elo Rival kalo belum bikin orang itu tunduk sama elo. Tapi, kenapa gue masih bebas manggil nama elo, ya?"


"Oooh! Bocah kampret satu ini pengen gue smackdown ya?" ucap Rival yang sudah bersiap ingin meninju Dian.


"Eh, eh ... noh si anak baru udah dateng!" seru Dian yang kemudian membuat Rival berhenti.


Timing yang pas, kalau tidak Dian bakalan kena tonjok Rival.


Seketika Rival berdiri ketika melihat Sari, anak baru itu masih di ambang pintu. Saat melihatnya entah kenapa Rival seperti melihat bidadari yang baru saja turun di depannya. Matanya tidak lepas sedikitpun dari Sari yang tengah berjalan ke arahnya. Rival masih saja memandangi Sari lekat.


"Permisi dong, itu bangku gue," ucap Sari pada Rival.


Rival mendadak tersadar kalau dari tadi yang dia duduki bukanlah kursinya. Melainkan kursi milik Sari. Lantas, ia minggir dari sana sambil cengengesan sendiri.


"Ah, sori, gue enggak tau kalo ini kursi elo."

__ADS_1


"Elo anak baru ya di sini?" tanya Dian. "Kenalin, nama gue Dian," ucap Dian seraya mengulurkan tangannya pada Sari.


"Sari," jawabnya sambil membalas uluran tangan Dian.


"Kalo gue Rival." Rival ikutan mengulurkan tangannya, namun tidak tahu kenapa Sari justru diam dan tidak membalas uluran tangan darinya.


Sari menatap Rival datar.


"Gue tau siapa elo. Nama elo Rival Alaric Pratama, si playboy cap jengkol di sekolah ini. Sudah banyak cewek yang jadi korban elo. Elo enggak pinter-pinter amat soal pelajaran. Elo juga suka tidur di atap kalo istirahat, dan elo juga punya Adik satu, cowok, namanya Vikal. Sekarang dia masih kelas tiga SMP 'kan? Gimana? Kurang akurat? Elo mau denger apa lagi dari gue?" jelas Sari sekaligus seperti menantang Rival.


Sementara Sari menjelaskan, Rival diam berdiri di samping meja Sari. Rival terkejut, bukan karena benar semua tentang dirinya, tapi lebih terkejut kepada Sari. Bagaimana dia bisa tahu tentangnya, padahal dia anak baru di sini. Sari belum mengenal Rival, begitu juga Rival, ia belum mengenal Sari sebelumnya. Baru bertemu saja pagi ini, di sini, saat ini. Tapi, kenapa Sari bisa tahu semuanya. Penjelasan Sari berhasil membuat Rival kaku seperti patung, membatu. Di tambah Sari juga tahu kalau Rival itu seorang playboy. Gawat!


Tiba-tiba Dian menarik lengan Rival dan segera menjauh dari meja Sari. Di lihat dari wajahnya, Dian bisa tahu kalau Rival sangat terkejut. Bahkan mungkin syok.


Dian berbisik, "Eh, serius elo mau nggaet si Sari. Elo belum tau dia kayak gimana orangnya. Belum juga elo bikin dia tunduk sama elo, eh dia lebih dulu bikin elo K.O di tempat. Gimana ceritanya kalo kayak gini. Dari mana dia tau semua tentang elo, beneran dia anak baru? Tapi, kenapa dia bisa tau soal elo yang seorang playboy cap jengkol? Atau, jangan-jangan dia kenal sama elo?"


Rival masih diam, mencoba mencerna kata-kata Sari maupun Dian.


"Yooosh!!" tiba-tiba Rival bangkit dari lamunannya. Tentu saja Dian kaget karenanya.


"Justru ini sebuah tantangan buat gue nih, Dian. Dari mana dia tau soal gue itu enggak penting. Yang penting sekarang gimana caranya supaya gue bisa dapetin Sari!"


"Di luar dugaan, gue kira elo bakal emosi terus ngelabrak dan mencaritahu soal Sari. Ternyata elo malah bilang sebaliknya. Emang apa yang bakalan elo lakuin, bukannya elo udah di banting lebih dulu sama anak baru itu?" sindir Dian terang-terangan.


"Uumm ... enggak jadi masalah dia mau banting gue sekalipun, sejauh mana dia tau tentang gue, gue enggak peduli. Penting sekarang, gue bakalan bikin tuh anak baru jadi milik gue!" kata Rival masih penuh semangat.


"Terserah elo deh, apapun yang elo lakuin. Tapi gue rasa elo kudu hati-hati sama dia. Bukannya elo yang berhasil dapetin dia, justru sebaliknya, si anak baru itu yang bakalan bikin elo kalah lebih dulu. Inget pesen gue, Rival!"


"Bakal gue inget pesen elo. Tapi, emangnya elo tadi pesen apaan yak sama gue?" entah kenapa tiba-tiba Rival bercanda pada Dian. Saking senangnya merasa tertantang. Selain itu sepertinya Rival tidak terlalu mendengarkan Dian.


"Gue pesen teh kotak sama roti isi keju, satu, dan elo yang bayarin ya!"


"Oke! Siap!"

__ADS_1


Mereka masih jauh dari meja Sari, dan mereka masih bisik-bisik. Sampai-sampai tidak sadar kalau Sari sudah berada di belakang mereka.


"Minggir dong, gue mau lewat!" ucapnya dingin sembari melirik Rival.


Mereka berdua kaget, tapi kemudian memberikan jalan untuk Sari. Rival tidak gentar sama sekali dengan tatapan dingin miliki Sari.


"Elo mau kemana, Sar?" tanya Rival.


"Bukan urusan lo!" balas Sari cuek. "Apapun yang bakal elo lakuin, enggak bakalan mempan sama gue, camkan itu!" ancamnya. Lalu setelah itu Sari berlalu dari hadapan Rival.


"Ugh ... belum apa-apa Sari udah serem gitu, Val. Gimana? Elo masih tetep sama rencana awal, atau ....?"


"Tentu saja gue enggak akan mundur! Itu prinsip gue sebagai playboy! Gue tetep sama rencana gue, oke!"


"Kek nya elo bangga banget sih sama julukan playboy cap jengkol lo itu?"


"Bukan gue yang bikin tuh julukan, tapi para nenek-nenek lampir itu! Gara-gara itu sampai sekarang julukan playboy cap jengkol melekat sama gue, hahahah ....!"


"Sinting lo emang! Itu karena elo masih aja cari korban, coba deh sesekali cari cewek, elo pacarin, pertahanin. Biar julukan elo itu ilang!" sungut Dian.


"Siapa yang mau pacaran sama mereka lama-lama. Gue males kalo pada akhirnya mereka nuntut macem-macem!" balas Rival cuek.


"Itu yang bikin mereka jadi males sama elo, koplak!"


"Kenapa elo ngatain gue koplak sih!" Rival kesal.


"Emang elo bodoh banget! Mereka enggak mau pacaran lama-lama sama elo, karena elo yang bikin mereka seperti itu. Coba kalo elo lebih ngertiin cewek-cewek yang udah di jadiin mantan sama elo."


"Halaaah, kayak elo tau aja gimana mereka. Mereka tuh ya kalo udah pacaran, dikit-dikit minta di perhatiin, minta di manja, enggak boleh telat ngasih kabar, kalo dia salah kita yang kena omelan, dan kalo udah marah pasti lamaaaa! Enggak ngasih kabar di kira enggak peka, giliran di perhatiin di kira kitanya yang lebay! Coba, maunya apa sih cewek itu. Seolah cowok selalu salah di mata mereka!"


"Emang elo bener-bener udah ngertiin mereka?''


"Nyatanya emang gitu! Elo enggak tau sih gimana rasanya, karena elo enggak pernah punya pacar!" Rival keki.

__ADS_1


Dian mendelik Rival tajam. Kesal dengan Rival langsung saja Dian menjitak ubun-ubun kepala Rival.


__ADS_2