Triple L

Triple L
Eps 13. Tamparan


__ADS_3

Sepulang sekolah ...


Rival masih dengan pendiriannya, yaitu mendekati Sari si anak baru, dan mendapatkannya. Dan, saat ini yang sedang ia lakukan adalah mengikuti Sari di belakangnya. Saat itu Rival masih tenang-tenang saja tanpa melakukan apapun, sampai akhirnya Sari yang merasa di buntuti pun sadar, karena sejak tadi ia merasa tidak nyaman. Sontak Sari menghentikan langkahnya dan balik badan, di tatapnya Rival dengan tatapan datar.


"Elo ... elo ngapain ngikutin gue?" tanyanya kaku. "Enggak ada kegiatan lain selain ngikutin orang? Atau elo sengaja mau cari masalah sama gue?"


Rival terdiam, di tatapnya Sari beberapa saat, lalu ia tersenyum.


"Masalah? Gue rasa tuduhan elo itu enggak pada tempatnya deh, Sari. Gue bukan mau cari masalah, dan asal elo tau, gue sama sekali enggak ngikutin elo. Ini emang jalan pulang gue tiap hari, gue sering lewat sini. Jadi, singkirkan pikiran jelek elo ke gue. Semua tuduhan elo itu salah," kata Rival yang kini berjalan mendahului Sari.


"Terus, kenapa elo pulang sendiri? Emang elo enggak punya temen?" tanya Sari yang kini langkahnya sejajar dengan Rival.


Rival melirik Sari yang di sampingnya, "Temen gue mah banyak, cuma gue lebih nyaman pulang sendiri kek gini. Lalu elo, kenapa lo pulang sendirian, mana temen elo?"


"Tau gue baru di sini, jadi enggak gampang cari temen buat pulang bareng. Harusnya elo tau itu, atau elo emang bener-bener bodoh!"


"Cih! Baru kali ini gue di katain bodoh sama cewek, anak baru lagi. Elo jangan sombong deh, elo belum tau siapa gue di sini!" protes Rival keki.


"Ng, bukannya udah gue jelasin tadi pagi, apa masih kurang jelas?"


"Bukan! Bukan itu yang gue maksud!"


"Lalu apa? Apa yang belum gue ketahui tentang elo?" tantangnya tanpa takut sedikitpun.

__ADS_1


Rival menghentikan langkahnya dan terdiam. Kini ia beralih menatap Sari lekat, matanya terus menatap wajah Sari. Di tatapnya wajah cewek yang ada di depannya ini dalam diam. Sedangkan, Sari merasa heran dengan sikap Rival yang mendadak menjadi aneh. Sari juga balas menatap Rival, tak mau kalah.


"Kenapa elo liatin gue kayak gitu!" cetus Sari.


Mendadak Rival mendekati Sari perlahan hingga membuat Sari mundur beberapa langkah. Masih heran dengan sikap Rival, ia mengerutkan keningnya. Aneh. Sari mulai merasa tidak nyaman ketika Rival terus menerus mendekatinya, dan Rival masih diam bahkan pandangannya tak lepas sedetikpun dari wajah Sari. Lama kelamaan hal itu membuat Sari agak risih, saat melihat tatapan mata Rival. Apa daya, saat ini Sari sudah terpojok, selain tidak ada orang di sekitarnya ia juga sudah mentok tembok hingga tidak ada celah untuk kabur.


"Elo ... elo, mau apa ....?" tanya Sari gugup, ia mulai takut.


"Ini yang gue bilang, elo belum tau siapa gue sebenernya," ucap Rival sedekat mungkin dengan Sari. Kini tangan Rival mulai menyentuh pipi Sari lalu menelusurinya dengan pelan.


"Rival ... elo, elo mau a,apa ... jangan bikin gue teriak karena elo macem-macem sama gue ....!" ancamnya dengan suara bergetar.


Namun Rival malah tertawa mendengar ancamnya, "Cih ... kenapa suara lo jadi gemetar gitu, mana nyali elo yang tadi pagi, yang nantangin gue. Atau, sekarang elo takut sama gue?"


Sari terbelalak mendengarnya, "Jangan sembarang kalo bicara! Gue sama sekali enggak takut sama cowok kayak elo!"


"Elo tau, gue paling suka ketika melihat cewek kayak elo lagi ketakutan seperti ini. Ini membuat gue semakin ingin, dan tidak berhenti mendapatkan elo."


Sari benar-benar merasa takut dan panik, di tambah tatapan Rival yang mulai liar menatap dirinya. Di genggamnya tali tasnya dengan sekuat tenaga. Saat ini Sari benar-benar ketakutan.


"Jangan macem-macem sama gue! Gue bakal teriak sekarang!"


"Heh, silahkan teriak sesuka elo, enggak ada yang bakalan dateng ke tempat sepi seperti ini. Jangan pikir elo bisa lari dari gue!"

__ADS_1


Dan apa yang di takutkan Sari benar terjadi. Ia merasakan napas Rival begitu dekat di wajahnya, tentu hal ini membuat Sari semakin ketakutan bukan kepalang. Sari berusaha menghindar dari Rival, tapi sepertinya Rival tidak akan membiarkan Sari lepas dari genggamannya. Rival meraih tangan Sari lalu menahannya di tembok, di tahannya tangan Sari amat kuat hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa. Wajahnya kini semakin dekat dengan Sari, hingga berjarak beberapa senti dengan wajah Rival. Perlahan Rival mendekati bibir merah Sari, sementara Sari memejamkan matanya karena takut akan sikap Rival. Dan saat Rival hampir mencium bibir Sari, tiba-tiba ....


Plak!!! Sebuah tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di pipi sebelah kiri Rival. Bersamaan dengan itu Rival terhenti lalu terdiam, terkejut. Terlalu terkejut. Rival menoleh dan menatap Sari dengan kesal, marah. Emosinya hampir meledak ketika mengetahui kalau Sari lah yang sudah menamparnya. Tentu saja Rival emosi, dan nafasnya naik turun menahan amarah. Tatapannya tajam dan dingin menatap Sari.


"Elo ....!" geram Rival.


"Apa?!" tantang Sari. Di luar dugaan, Sari tidak gentar sama sekali menghadapi Rival, di balas tatapannya yang tidak kalah tajam dan dingin dari Rival. Sari membalas tatapan Rival tanpa ada rasa takut sedikitpun, lalu satu lagi, kini Sari menyilangkan kedua tangannya di depan seperti menantang Rival. Dan juga wajah serta suaranya tidak seperti tadi, yang terlihat begitu ketakutan saat Rival mulai menyerangnya.


"Elo mau bilang apa?!"


"Kenapa ... elo ...." Rival terkejut melihat perubahan Sari.


"Kenapa? Menurut elo, gue kenapa? Elo yang kenapa! Jangan kira gue takut sama elo! Elo pikir gue bakalan takut dan nyerah sama ancaman elo? Gue enggak bakal kalah dari cowok rendah seperti elo! Pikir pake otak! Elo punya otak 'kan?!" balas Sari tak kalah garangnya.


"Elo ....!" Rival masih menggeram pada Sari, tapi lagi-lagi kalimatnya di potong oleh Sari.


"Jadi ini kelakuan elo di luar rumah? Jadi ini seorang Rival yang sebenarnya? Enggak nyangka gue, elo berani berbuat seperti itu sama gue, apalagi gue ini cewek, baru juga satu hari gue di sini, tapi elo udah memperlakukan gue dengan tidak sopan, elo udah berani melecehkan gue di tempat seperti ini. Apa ini sikap seorang pelajar?"


Sari membantai Rival habis-habisan, dengan nadanya yang dingin dan sinis.


Seperti terkena tamparan yang kedua kalinya. Rival seperti kalah telak dari Sari yang terus mengatainya. Lalu Sari kembali melanjutkan,


"Apa elo selalu seperti ini, sikap elo ke cewek yang baru elo temui? Apa elo juga ngelakuin hal seperti tadi ke semua cewek, seperti yang elo lakuin ke gue barusan? Apa ini cara elo supaya elo di sukai semua cewek, supaya semua cewek itu luluh sama elo?"

__ADS_1


"Diem lo!" bentak Rival.


Sudah cukup ia mendengar Sari. Susah cukup Sari mengatai dirinya. Rival sudah tidak tahan lagi.


__ADS_2