
Saat itu Ririn masih cuek dan tidak peduli. Tapi, ketika melihat raut wajah Dival yang mendadak berubah membuat Ririn heran.
"Elo kenapa sih, aneh banget. Ada apaan?"
"Elo enggak sadar dari tadi, kalo hanya ada kita berdua di sini, dan enggak ada orang lain lagi. Ini tempat sepi banget, apa elo enggak ngerasa ada sesuatu yang aneh di sini? Seperti elo tiba-tiba ngerasa dingin atau merinding, gitu?" Dival mulai mengamati sekitarnya.
"Dival, elo mau bilang apa?!"
"Kata orang-orang di sekitar sini tuh sering ada yang muncul ... dan elo tau, kita sedang ada di tempat ini ... di dekat sini ada rumah kosong yang udah enggak terpakai lagi, dan katanya dia sering memperlihatkan diri ... banyak yang bilang begitu ...." ujarnya dengan suara sengaja di pelankan.
"A,apa maksud elo ... elo mau ngomong apa, jangan tiba-tiba bicara gitu dong!" Ririn protes ketika melihat gelagat Dival yang mulai aneh.
"Beneran, Rin, mereka bilang sering liat penampakan seorang wanita berambut panjang. Dari mana coba datangnya cerita ini kalo bukan mereka yang liat secara langsung. Lagian, elo enggak liat di sekitar kita, enggak ada satupun orang kecuali kita. Ini aneh banget 'kan?" ucapnya lagi sembari melirik Ririn yang mulai ketakutan.
"Dival, kalo elo bicara yang aneh-aneh, gue bunuh lo habis ini!" ancamnya.
Tapi sepertinya Dival tidak mendengarkan Ririn. Ia terus mengamati sekelilingnya, tentu aja akibat tingkah Dival, Ririn menjadi parno.
"Rin, kok gue jadi merinding gini ya. Elo ngerasa merinding juga enggak? Aneh deh."
"Elo yang aneh! Dival, kalo elo nakutin gue, awas aja lo! Habis lo entar!"
"Suer, Rin! Gue enggak bohong, sekarang gue bener-bener merinding. Nih, liat tangan gue!" Dival menunjukkan lengannya, tapi Ririn tidak peduli.
"Dival!" panggilnya mulai panik sambil memegangi lengan Dival. Bahkan ia sampai mencengkeram lengan Dival sangat kuat. Ririn mulai mengamati sekelilingnya. "Elo ngapain sih pake ngomong begituan, gue jadi takut 'kan!"
__ADS_1
"Eh, elo takut?" tanya Dival.
"Menurut elo?!"
"Ririn!" panggil Dival cepat. "Elo ngerasa ada yang dateng dari belakang kita enggak ....?"
"Dival! Apaan sih! Elo jangan parno gitu dong, gue jadi ikutan parno 'kan! Aduh!" Ririn benar-benar ketakutan tiap kali melihat arah pandangan Dival.
"Rin ... elo denger enggak suara itu, kayak suara langkah kaki ... dia, ada di belakang kita ... dia lagi jalan ke arah kita ....!" seru Dival berbisik.
"Divaaaal ... gue mohon, jangan bicara begitu ... gue takut, Val! Gue takut!" Ririn hampir menangis.
Ririn sudah kehabisan kata-kata tiap kali Dival mengatakan ada yang mendekat ke arah mereka. Belum lagi dari arah belakang. Ririn benar-benar gemetar di samping Dival. Bahkan cengkeraman tangannya semakin kuat di lengan Dival.
"Rin ... dia udah semakin deket, gimana ini, kita harus ngapain ....!" Dival terbata. Ia hendak menengok ke belakang, tapi di cegah oleh Ririn.
Tapi, Dival tidak mendengarkan Ririn, ia nekat menengok ke belakang, lalu perlahan ia berbalik.
"Ririn ... dia, dia di depan kita ...." ucapnya gagap. "Rin ... dia ... oooh! Ternyata hanya penjual sate toh!"
"Divaaaaaal!" pekik Ririn kencang. Tapi, tiga detik kemudian Ririn terdiam, lalu mendongak menatap Dival. Ririn masih belum bisa mencerna kalimat Dival karena saking paniknya. "Apa ... barusan, elo bilang apa ....?"
"Itu ... penjual sate! Gue kira yang dateng beneran setan, hahahah ....!" sontak Dival melepas tawanya ketika ia melihat kalau yang mendekat hanyalah seorang pedagang sate keliling. Tidak hentinya Dival terbahak-bahak, bahkan ketika menyadari raut wajah Ririn yang mendadak berubah menjadi horor.
Mengetahui kalau Dival hanya mengerjainya, lantas ia melepas pegangannya dengan kesal. Ririn menatap Dival keki, dongkol, bahkan melotot dingin. Ia mendengus. Bisa-bisanya di saat seperti ini Dival malah mengerjainya, dan sialnya itu berhasil. Berhasil membuat dirinya parno dan ketakutan seperti orang bodoh.
__ADS_1
Dival masih tertawa, tapi sedetik kemudian tawanya terhenti ketika Ririn menjitak ubun-ubun kepala Dival dengan amat keras.
"Rasain nih!" cetusnya dongkol.
"Aaaw! Sakit, Rin!" keluhnya sambil mengelus kepalanya.
"Itu belum seberapa, monyet!" sergahnya kaku. "Puas lo! Puas, udah berhasil ngerjain gue! Elo pikir lucu hah! Seneng lo udah bikin gue panik! Seneng udah ngerjain gue? Udah puas sekarang?!" semprot Ririn emosi.
"Hahaha ... sori, sori ... gue enggak tau kalo ternyata elo segitu takutnya sama hantu ....!" kata Dival, antara ingin tertawa tapi juga menahan rasa sakit di kepalanya akibat jitakan Ririn.
"Udah, terus aja ngetawain gue! Elo beneran gue bunuh habis ini, karena udah ngerjain gue! Sumpah ya, ini anak enggak ada serius-seriusnya sama sekali! Bisa enggak sih kalo mau ngerjain itu lebih pinter sedikit! Itu tipuan kuno! Kuno, elo tau enggak! Elo itu enggak kreatif sama sekali!"
Gerutu Ririn tidak ada habisnya. Ia kesal. Jelas ia kesal karena merasa telah di kalahkan oleh Dival. Makanya Ririn bersungut-sungut. Kini ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Dival menghentikan tawanya, lalu mendekati wajah Ririn yang masih terlihat gugup. Dival tahu itu. Lantas ia pun tersenyum.
"Meskipun kuno, tapi elo beneran takut, 'kan?" ujarnya lirih di samping telinga Ririn.
"Ugh! Siapa bilang gue takut! Gue enggak takut sama sekali!" kilahnya tidak mau kalah.
Dival tersenyum usil, "Mau bohong dia, kelihatan banget kalo elo itu takut! Bahkan tadi elo sampai bikin lengan gue sakit. Eh, ngomong-ngomong sakit tau cengkraman elo, Rin, nih sampai ada bekas merahnya!"
"Siapa suruh nakutin segala! Untung enggak gue cakar tuh muka! Masih untung cuma lengan elo! Kalo sekali lagi berani nakutin, gue bersumpah! Gue bakal ....!"
Kalimat Ririn terhenti dengan tiba-tiba. Itu karena ia merasakan kalau pipi sebelah kanannya terasa hangat. Ririn terkejut, ia melebarkan matanya, atau bahkan mungkin hampir kena serangan jantung mendadak. Kejadiannya begitu cepat, Ririn masih diam mematung ketika menyadari kalau Dival telah mencium pipinya. Walau hanya sebentar, Ririn merasa kalau jantungnya berhenti berdetak. Syok! Benar-benar syok. Itulah alasan kenapa kalimat Ririn mendadak berhenti.
__ADS_1
"Udah, jangan marah-marah terus, nanti cepet tua lho. Tapi, elo tetep aja cantik meski lagi cemberut kayak gini. Jadi gemes gue liatnya!" goda Dival usil. "Oh, jangan lupa, hari Minggu, kita kencan lalu nonton bandnya temen gue, ya!"
Ririn masih menjadi patung di tempatnya berdiri ketika Dival sudah mulai berjalan mendahului Ririn. Terlalu kaget. Terlalu tiba-tiba. Terlalu mendadak. Terlalu heran. Terlalu dekat. Terlalu berani. Sekarang jantung Ririn tidak mau tenang barang sebentar saja. Rasanya ingin meloncat keluar tuh jantungnya. Ampun!