
"Elo yang diem dan dengerin gue!!" Sari balik membentak Rival. "Jangan elo pikir gue sama kayak mantan-mantan elo itu. Jangan elo pikir gue bakal luluh dan suka sama elo setelah elo perlakukan gue seperti tadi! Tau enggak, perbuatan elo barusan malah bikin gue ngerasa jijik sama elo!"
Rival menahan emosinya. Bahkan telinga Rival sudah cukup panas mendengar semua perkataan Sari.
"Elo enggak tau apa-apa soal gue! Sebaiknya elo diem, dan jangan bicara seolah-olah elo tau tentang gue! Elo itu bikin gue muak!!"
Rival mengeluarkan amarahnya yang sejak tadi di bendung.
"Iya. Gue emang enggak tau apa-apa soal elo, tapi intinya, elo udah ngebuktiin kalo elo itu hanyalah cowok rendahan yang enggak tau etika! Rival, hanyalah seorang anak cowok yang enggak jujur dengan keadaan dan selalu berpura-pura. Rival hanyalah seorang anak kecil tapi sok-sok'an jadi orang yang keren!"
Sari menumpahkan segala uneg-unegnya pada Rival tanpa berpikir. Sudah cukup emosi.
"Stop!!" bentak Rival sekuat tenaga. Kini emosi Rival benar-benar sudah siap untuk meledak. Tidak peduli di mana ia berada, ia keluarkan segalanya saat itu juga. Mendengar penghinaan dan cercaan Sari membuat Rival bertambah panas. Tangan ia kepal kuat-kuat seraya menatap tajam dan menusuk pada Sari. Rahangnya mengatup menahan emosi. "Elo-gak-ada-hak-mengatai-gue-kayak-tadi!" ujarnya kaku dan dingin.
Di balas tatapan Rival tidak kalah garangnya. Dengan santai Sari berkata, "Jelas sekali gue punya hak untuk itu, secara elo udah melecehkan gue. Gue hanya membela diri dari cowok seperti elo!"
"Gue muak sama elo! Elo bicara seolah-olah elo tau tentang gue! Cewek kayak elo hanya bisa melihat dari luarnya saja, tanpa mau melihat yang sebenarnya!"
"Justru itu, gue udah melihat semuanya dengan jelas. Tanpa perlu gue cari tau detailnya pun, gue bisa tau elo cowok macam apa, Rival!" kata Sari sembari memperlihatkan senyum mengejeknya.
Rival benar-benar sudah tidak tahan dengan Sari.
__ADS_1
"Sebaiknya elo pergi dari sini sekarang juga sebelum emosi gue meledak. Elo enggak tau apa yang akan terjadi setelah elo tau kalo gue marah. Pergi dari sini sebelum gue berbuat yang lebih keji lagi ketimbang barusan!" ancamnya dingin menusuk.
Sari menatap Rival diam, lalu membuang napas berat. "Gue bakal pergi. Asal elo tau, Rival, gue cuma pengen cari temen dan berteman sama elo. Tapi enggak seperti ini caranya, gue bisa aja jadi temen elo kalo elo mau, dan enggak harus pake cara seperti ini. Dan ini menyadarkan gue akan satu hal tentang elo."
"Apa maksud elo?"
"Elo hanya enggak mau mengakui kalo sebenernya elo ini sedang berusaha lari dari sebuah masalah. Penyebab elo jadi kayak gini, tidak mungkin tanpa sebab, 'kan? Pastinya elo punya masalah yang memaksa elo harus jadi seperti ini," jelas Sari, namun kali ini suara Sari lebih pelan tanpa ada nada mengejek. Lalu Sari kembali melanjutkan,
"Kalo elo mau, gue bisa jadi temen curhat elo, dan enggak harus menggunakan cara seperti tadi agar gue mau jadi temen elo. Tanpa elo nekat melakukan hal yang enggak pantas, gue tetep mau jadi temen elo. Niat gue awalnya emang pengen berteman dengan anak cowok yang bernama Rival, yang kata mereka elo itu seorang playboy. Gue berusaha bersikap baik, tapi perlakuan elo ke gue di luar dugaan. Sekarang baik buat elo cuma satu, elo cukup jujur aja sama perasaan elo, dengan begitu gue mau dan bersedia jadi tempat berbagi masalah yang elo punya."
Sari masih melanjutkan.
"Tapi, ah iya, pastinya elo enggak butuh temen kayak gue ya? Oke, tidak apa-apa. Kalo gitu gue cabut sekarang, bye, Rival."
"Kenapa semuanya jadi seperti ini, sementara tidak ada satupun orang yang tau dengan keadaan gue, kenapa harus Sari. Kenapa harus cewek itu yang tau segalanya. Kenapa harus dia yang mengucapkan kata-kata itu. Sedangkan gue, gue selalu menunggu orangtua gue berkata seperti tadi, tapi ... tapi kenapa harus Sari. Sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus dia!"
Gumam Rival yang kini tertunduk lemas. Tanpa ia sadari di ujung matanya sebutir air bening sudah meluncur tanpa ijin. Entah kenapa ia merasa sakit dan malu pada Sari, dan juga pada dirinya sendiri.
Sekolah Dival usai sekolah ....
"Jadi, hari ini kita ke rumah Paman elo?"
__ADS_1
"He em." Ririn mengangguk.
"Jauh enggak rumahnya?"
"Enggak," jawab Ririn singkat.
"Tapi gue enggak bawa motor, gimana mau ke sana?"
"Kan gue bawa motor, biasanya juga gitu. Sekarang pake motor gue aja, gue tau elo lagi bokek, makanya elo enggak bawa motor karena enggak bisa isi bensin!"
"Wah ... elo menghina gue, Rin. Sakit hati nih!"
"Tapi, habis ini elo ganti uang bensin gue, ya?" candanya pada Dival.
"Eeeeeh ... katanya tau gue lagi bokek, kenapa gue di suruh ganti uang bensin?!"
"Kalo enggak mau ikut ya udah, sono pergi sendiri!"
"Perasaan elo jadi matre amat yak, Rin."
"Terserah ape kate lo deh, gue ikut ajah!"
__ADS_1
Lalu jadilah mereka berdua pergi ke rumah Paman Ririn. Dival di bonceng Ririn di belakangnya. Ririn tidak mau kalau yang bawa motor Dival, takut kenapa-kenapa dengan motornya, begitu kata Ririn, tapi sambil bercanda.
Ketika sampai rumah Pamannya, Dival di perkenalkan dengan Pamannya yang akan menjadi majikannya. Begitu bertemu dengan Dival, Paman mengijinkan Dival untuk bekerja untuknya. Dengan syarat, sekolah tetap jangan di lupakan dan jangan memaksakan diri. Paman juga tahu kalau sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir sekolah. Pastinya mereka akan sangat sibuk belajar. Dan beliau tidak ingin mengganggu sekolah mereka. Selama pekerjaan ini tidak menggangu proses belajar, beliau mengijinkan Dival bekerja di kiosnya. Seketika Dival merasa senang bukan main, setelah lamarannya diterima. Tidak hentinya ia mengucapkan terimakasih pada Paman dan juga Ririn. Setelah urusan mereka selesai, kini saatnya mereka kembali ke rumah. Tapi sekarang Dival yang memaksa Ririn agar ia yang membawa motornya, dan bukan Ririn. Kata Dival, rasanya tidak nyaman di bonceng sama cewek. Jadi Ririn akhirnya mengalah di bonceng oleh Dival, meski di jalan Ririn masih sempat ngomel. Tapi, Dival tidak mau mendengarkan omelan Ririn. Tidak apalah Ririn ngedumel di belakangnya, yang penting Dival bisa boncengan sama Ririn, walaupun tidak memakai motor Dival. Uhuy, asek!