Triple L

Triple L
Eps 15. Balasan dari Ruli


__ADS_3

Di rumah Dival ... mereka sudah sampai.


"Elo mau mampir dulu?" tawar Dival.


"Enggak usah, Val, thanks tapi gue langsung cabut aja, gue ada les privat soalnya," ujar Ririn.


"Eeeh ... elo masih ada les juga? Emang enggak capek apa habis sekolah langsung pergi ke tempat les?"


"Udah biasa kali, Val."


"Bilang aja kalo Kak Dival tuh suka sama Kak Ririn!" tiba-tiba sebuah suara menyeruak antara mereka.


Dival dan Ririn menoleh, mereka mendapati Ruli tengah berdiri di ambang pintu mengamati Kakaknya sambil terkekeh. Dari wajahnya terlihat sangat puas karena baru saja berhasil membuat Dival salah tingkah dan malu. Dan, memang adanya kalau Dival mendadak jadi salting di depan Ririn. Lebih tepatnya gugup saat menatap Ririn, padahal Dival tidak berkata apa-apa, ini murni gara-gara Ruli. Sontak Dival langsung menghampiri Ruli dan membungkam mulutnya.


"Aaaaah ...! Jangan di dengerin Adik gue, Rin. Dia ini lagi agak kurang waras! Ya, jangan di dengerin omongan anak kecil satu ini! Dia sukanya cuma bikin rusuh doang!" ujar Dival gugup sambil terus membekap mulut Ruli, hingga Ruli meronta ingin lepas.


"Hiiih! Apaan sih! Kak Ririn, Kak Dival itu suka sama Kakak, udah lama Kak Dival suka sama Kak Ririn. Tapi dia nya aja yang enggak pernah punya nyali buat bilang ke Kak Ririn! Payah banget! Dia ini cowok payah kalo soal cewek, makanya jomblo terus! Giliran cewek yang di suka ada di depan mata enggak bisa jujur!"


"Apa bener?" tanya Ririn santai.


"Uuuh! Ruli ember banget sih jadi anak! Anak kecil tau apa, hah! Jangan bicara sembarangan! Anak kecil belum waktunya ngomongin cinta-cintaan! Udah sono balik ke kandang, belajar yang rajin! Biar lulus!" Dival terus berusaha mendorong tubuh Ruli agar masuk ke dalam.


"Atau, mau gue bantu bilang ke Kak Ririn, biar gampang urusannya?!"

__ADS_1


"Udaaaaaaaah! Diem lo! Sana masuk! Enggak usah banyak komentaaaaaaarr!!" Dival keki pada Ruli yang terus-menerus membuat dirinya salah tingkah.


"Gue bukan komentar, tapi gue cuma ngasih tau yang sebenarnya. Karena Kak Dival enggak berani bilang ke Kak Ririn! Makanya gue mau bantuin elo! Kakak itu payah kalo soal cewek, tapi kalo soal makan dan enggak bayar baru itu keahlian Kak Dival!"


Ruli terus menyerang Dival dengan gencar. Baginya, Dival itu Kakak yang bodoh dalam urusan cewek maupun cinta.


"Aduh, ini mulut enggak bisa diem sedetikpun apa ya! Ngoceeeeh terus! Lama-lama gue jahit tuh bibir biar mingkem! Udah sana masuk, jangan ikut campur urusan orang dewasa! Hus ... hus!" Dival mengusir Ruli seperti mengusir kucing.


"Weeek!" Ruli mencibir Dival, lalu masuk ke dalam.


Dival bernapas lega setelah Ruli mau masuk ke dalam. Kini tinggal bagaimana caranya Dival menghadapi Ririn? Sudah sangat malu sekali ia di depan Ririn gara-gara Ruli. Sial!


"Adik lo ceria banget ya, Val," tukas Ririn sambil tertawa kecil. "Gue suka tau liat anak yang lincah kayak Ruli."


"Tapi mau gimanapun dia 'kan Adek elo, Val."


"Iya sih, cuma gue enggak suka sama sifatnya yang kelewat hiperaktif dan suka ikut campur urusan orang," kata Dival lagi. "Uum ... sori ya, elo jadi ketahan di sini gara-gara bocah geblek satu itu, padahal elo mau les. Sori ya, Rin. Kira-kira elo telat enggak nih nganterin gue dulu ke sini?"


"Enggak kok. Tadi sih rencananya mau bolos aja lesnya. Tapi, begitu liat elo sama Ruli berantem, enggak tau kenapa bikin gue semangat lagi. Apa karena kalian ini lucu dan kompak ya?" Ririn tertawa lagi.


Sejenak Dival memperhatikan wajah Ririn yang sedang tertawa. Oooh ... ini membuat Dival tidak berhenti menatap Ririn. Jantungnya berdetak dengan cepat. Wajah Ririn yang sedang tersenyum berhasil membuat Dival bungkam beberapa saat. Salah satu alasan Dival menyukai Ririn ya itu, senyuman Ririn. Kata Dival, kalau sedang tersenyum Ririn terlihat sangat manis, dan tentunya juga cantik. Bagi Dival senyuman Ririn adalah segalanya, dunianya. Senyuman manis di bibir Ririn mampu mengalihkan dunianya. Tidak ada yang Dival inginkan selain melihat Ririn tersenyum seperti sekarang ini. Hal itu sudah cukup untuk Dival tetap bertahan dengan perasaannya. Mungkin yang di katakan Ruli memang benar, kalau dirinya hanyalah seorang cowok yang payah dalam urusan cewek. Ah, elo bener, Ruli, batin Dival kesal.


"Ng, ngomong-ngomong nama Paman elo siapa sih, Rin? Hehe ... gue lupa mau nanyain."

__ADS_1


Bodoh! Bodoh! Bukan pertanyaan itu yang ingin gue tanyakan! Aaaaah ... kenapa malah nanya nama Pamannya siiiiih! Ah, dasar bodoh! Ampas! Ingin rasanya Dival berteriak dan mengumpat pada dirinya yang kelewat bodoh, pikir Dival kesal.


"Syahril. Nama Paman gue Syahril. Kenapa?"


"Enggak. Cuma mau tanya aja, entar kalo gue kerja dan enggak tau namanya 'kan berabe. Masa gue yang kerja tapi enggak tau nama majikannya," kilahnya sambil menggaruk kepalanya.


"Ooh," Ririn manggut-manggut. "Oke, kalo gitu gue balik sekarang ya," ucapnya seraya naik ke atas motornya.


"Oke. Elo hati-hati di jalan, dan apa yang di omongin sama Ruli tadi enggak usah elo pikirin ya, jangan di masukin ke hati. Dia cuma iseng aja, lagi konslet kali otaknya," Dival meringis malu.


Ririn kembali tersenyum. "Kalo pun itu bener juga enggak apa-apa kok," ucap Ririn pelan bersamaan dengan motor yang di hidupkan. Alhasil membuat Dival tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Elo barusan bilang apaan?" tanya Dival memastikan.


"Bukan apa-apa kok. Udah dulu ya, Val, bye!" kini Ririn benar-benar pergi meninggalkan Dival yang masih diam berdiri di tempatnya.


Sementara Dival masih penasaran di buatnya.


"Geh! Masa iya elo enggak denger apa yang di bilang Kak Ririn sih! Elo beneran payah ya, bodoh amat sih jadi cowok!" protes Ruli lagi, lalu kembali masuk ke dalam.


Dival yang tadinya diam kini berbalik menatap punggung Ruli dengan perasaan dongkol dan juga dendam karena ulah Ruli tadi. Dival melotot ke arah Ruli dengan gemas, bisa-bisanya Ruli bocorin soal dirinya yang suka sama Ririn. Padahal itu rahasia yang sudah sangat lama Dival simpan sampai saat ini. Tapi, hanya dengan hitungan detik saja rahasia itu bocor dengan mudahnya. Bah... nyesel gue ceritain ini ke Ruli! Dasar anak kecil ember! Dival dongkol setengah mati. Ingin rasanya ia mencekik leher Ruli.


Huh, sabar Dival, sabar.

__ADS_1


__ADS_2