
Rival berdiri di ambang pintu sambil menatap seseorang yang tengah sibuk mengutak-atik dapurnya. Ia menatap orang itu dengan tatapan heran serta tangannya ia silangkan di dadanya.
"Dapur elo? Siapa bilang ini dapur elo. Jelas-jelas elo enggak pernah masuk ke sini sama sekali. Beraninya bilang ini dapur elo," jawabnya tak kalah kakunya.
Rival menatapnya dongkol, "Sari! Ngapain sih pagi-pagi gini elo udah ada di rumah gue!" serunya keki.
Ya, yang Rival temukan pertama kali ketika keluar dari kamar adalah Sari. Rival melihat Sari ada di depannya. Apa lagi ini masih pagi, ia sudah berada di dapur rumahnya dan entah apa yang sedang di lakukannya. Ini yang membuat Rival heran dan emosi, di tatapnya Sari beberapa saat sambil berkerut kening. Sepertinya, rencana untuk kabur pagi ini bakalan gagal, pikir Rival.
"Elo mau kemana, Rival?" tanya Sari yang terlihat masih sibuk di dapur.
"Bukan urusan lo, gue mau kemana. Lagian, siapa sih yang ngijinin elo masuk ke rumah ini. Jangan-jangan elo mau nyolong ya? Atau, elo lagi nguntit gue? Ngaku aja lo!"
"Geh! Gue bisa masuk ke sini karena udah dapet ijin dari Tante cantik, jadi ini enggak seperti yang elo pikirkan! Dan, semua tuduhan elo ke gue itu semuanya salah!" balas Sari sembari mengacungkan spatula yang sedang di genggamannya.
"Lha terus elo ngapain bikin rusuh di rumah gue! Kenapa elo bikin dapur rumah gue berantakan! Elo ini sebenernya ada tujuan--!" kalimat Rival terpotong ketika Sari dengan paksa memasukkan sesendok nasi goreng buatannya ke dalam mulut Rival. Alhasil Rival kaget bercampur kesal.
"Gue lagi belajar masak, entar biar gue jadi istri yang baik buat elo. Elo 'kan udah janji bakalan nikahin gue kalo udah gede. Makanya, gue ke sini buat latihan masak bareng Tante. Gimana? Enak enggak masakan gue?" tanya Sari, ia berharap bisa mendengar jawaban yang memuaskan dari Rival.
Ucapan Sari benar-benar di luar dugaannya dan itu membuat Rival tersedak oleh makanan yang masih di kunyahnya. Alhasil, ia kelabakan mencari air putih. Setelah meneguk air putih ia mengatur napasnya yang sempat sesak karena tersedak. Rival kembali menghampiri Sari.
"Heh, elo ngomong apaan sih! Enggak jelas amat! Enggak ngerti deh gue sama elo! Pergi sana, jangan dateng ke sini lagi! Muka lo itu mengganggu pemandangan aja tau enggak! Pergi sono! Bikin senep aja lo di sini!" seru Rival sambil menyeret tangan Sari agar pergi dari dapurnya.
"Tapi 'kan, gue belum selesai masak buat elo dan yang lainnya," jawab Sari santai.
__ADS_1
"Apa lagi sih! Elo itu enggak perlu masak buat gue atau siapapun di sini! Gue biasa makan di luar dan itu udah biasa buat gue enggak makan makanan rumah! Jadi, elo enggak usah repot-repot buat masak! Buang-buang waktu aja! Udah, mending elo pergi aja sono! Emang siapa elo, seenaknya pake tempat orang!" usir Rival sambil mendorong punggung Sari.
Namun, Sari tidak mau kalah. Ia menahan kakinya supaya tidak terdorong oleh Rival.
"Heh, elo ini tinggal diem dan tunggu sampe gue selesai masak bisa 'kan! Jadi elo enggak usah banyak protes! Elo itu enggak tau apa-apa, jadi lebih baik diem dan duduk dengan patuh! Anak baik jangan suka kabur dari rumah! Enggak baik hari libur gini elo kabur seharian, dan enggak di rumah! Apalagi kalo sampe elo enggak makan di rumah! Elo ini punya rumah, 'kan? Elo bisa makan di rumah, 'kan? Jangan makan di luar terus, boros tau! Elo ini masih kecil, belum tau gimana susahnya cari duit! Belajar hemat kek, hargai orang yang udah bekerja seharian buat elo! Susah ya emang ngasih tau anak bebal kayak elo ini! Banyak maunya tapi enggak bisa mikir! Bikin kesel aja deh, hah!" semprotnya pada Rival. Ia mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Rival.
Rival terkesiap mendengar ocehan Sari yang tiada habisnya. Ia hanya pasang muka tidak peduli.
"Kenapa elo bisa tau kalo gue mau kabur?" Rival kalah telak. Dan, sepertinya ia benar-benar bakalan gagal kabur hari ini.
"Bukannya itu kebiasaan elo ya, hari Minggu sering minggat?"
"Yang gue tanya kenapa elo bisa tau! Sari koplak! Bodoh!"
"Sariiiii!"
Rival hendak menangkap Sari dengan mengejarnya. Tapi, langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang yang di kenalnya.
"Aduh, rame banget sih. Ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut aja." Ternyata itu adalah suara Mamanya Rival. Ia menggeleng kecil melihat kelakuan dua anak muda itu. Kini Mamanya melangkah ke dapur, lalu duduk di salah satu kursi di dekat meja.
"Ini nih Rival, orang lagi mau masak malah di usir! Bilangin tuh sama anak Tante yang jelek itu, jadi orang itu jangan galak-galak kek! Nyeremin tau!" ujar Sari yang bermanja pada Mamanya Rival sambil berlindung di belakangnya, dan terlihat kalau ia tengah mencibir Rival.
Mama Rival tertawa melihat kelakuan dua anak itu, "Mana nih sarapannya? Tante udah laper banget ini. Sari, udah selesai belum masaknya? " tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai, cuma tadi Sari di ganggu sama Rival. Gimana mau masak, orang udah di usir sama dia! Tante masak sendiri aja ya!" Sari pura-pura ngambek.
"Iiih, apaan sih! Tukang ngadu lo!" sergah Rival keki. "Lagian, elo ngapain sih ke sini, ke rumah orang bikin rumah berantakan! Mama juga ngapain kasih ijin jin ini masuk ke sini, ganggu orang pagi-pagi! Bikin bete aja lo! Cepetan pergi sana, jangan balik lagi, huh!" setelah kelar ngomel, ia hendak pergi dari dapur. Tapi, langkahnya di hentikan oleh Mamanya.
"Rival, tunggu sebentar. Mama mau bicara," ucap Mama Rival lirih.
Rival menengok dengan wajah malas, "Apa? Mama mau bicara apa?"
Mamanya terdiam cukup lama sambil terus menatap Rival. Ia ingin angkat bicara, tapi ketika menatap mata Rival, entah kenapa semuanya terasa sangat sulit untuk Mamanya. Sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata, seolah ada yang menghalanginya. Padahal, Rival sudah di depan matanya dan ia hanya perlu mengajaknya duduk bersama dan berbicara.
Lagi, semuanya terasa berat dan sulit. Kegundahan hatinya membuat dirinya merasa ragu untuk memulai pembicaraan. Ia takut kalau anaknya tidak mau mendengarkan apa yang akan di sampaikannya, atau bahkan mungkin menolaknya. Kecemasan selalu muncul tiap kali menatap mata anak-anaknya.
Sementara, Rival masih menunggu Mamanya untuk bicara. Tapi, ketika melihatnya masih terdiam, lantas Rival melepas tangan Mamanya yang masih memegang tangannya. Ia mendengus tidak sabar.
"Kalo enggak ada yang ingin di bicarakan, biarkan Rival pergi. Rival enggak punya waktu untuk ini. Sebaiknya Mama urus tuh Sari," ucapnya datar.
"Rival!" seru Sari, ia terlihat sangat terkejut.
"Elo juga, ngapain ikut campur urusan gue. Udah gue bilang, gue itu enggak pernah suka sama elo," katanya sambil melirik Sari dengan tatapan menusuk.
Sari sedikit tercengang mendengar kalimat Rival barusan. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Jangan coba-coba untuk mencari tau apapun tentang gue, ataupun keluarga gue. Ini enggak ada hubungannya dengan elo. Apa elo mengerti? Kalo elo ngerti, sebaiknya elo pergi sekarang juga." Rival menatap Sari masih dengan wajah datarnya.
__ADS_1