
Sejak tadi Rival mendengar rencana jahat mereka untuk balas dendam terhadapnya, semakin lama mendengarkan pembicaraan mereka membuat Rival semakin bergidik ngeri. Dan, sekarang Rival menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering, gugup pastinya. Dengan hati-hati ia melirik ke arah mereka, begitu melihat tatapan mata mereka sontak Rival langsung ambil langkah seribu, segera ia kabur.
"Eeeeh, dia kabur! Kejar dia!" teriak Jona.
"Jangan sampai dia lolos!" tambah April.
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara mantan dan Rival. Mereka memburu Rival seperti memburu mangsanya. Sekuat tenaga mereka berlari mengejar Rival. Mereka tidak ingin mangsa mereka lolos begitu saja. Hey, jangan lupa mereka semua adalah para mantan Rival, mereka juga manusia, jangan samakan mereka seperti permen karet yang awalnya manis lalu setelah itu di buang begitu saja. Mereka juga punya hati, mereka tidak ingin di sakiti oleh cowok. Apalagi oleh cowok macam Rival yang sudah terkenal playboy di sekolahnya. Ambisi mereka untuk mendapatkan Rival belum juga luntur, bahkan sampai bel berbunyi pun Rival masih menjadi bahan incaran. Sampai saat ini mereka belum berhasil menangkap Rival. Sepertinya kali ini Rival terselamatkan oleh bel, dan hal itu membuat para mantan Rival begitu geram.
"Selamat pagi anak-anak," ucap Pak Sholeh.
"Pagi Pak!!" jawab seisi kelas.
"Bapak akan melanjutkan pelajaran yang kemarin, saya harap tidak ada lagi siswa yang tertidur di saat kelas sedang berlangsung," ucapnya sejelas mungkin untuk menekankan agar tidak ada murid yang tertidur saat jam terbangnya. Saat itu Pak Sholeh melirik tajam ke arah Rival sembari tersenyum sumringah, tapi entah kenapa saat Rival melihat senyuman Pak Sholeh itu membuat bulu kuduknya berdiri. Lantas, Rival membalas Pak Sholeh dengan anggukan kepala lalu memberikan tanda oke pada Pak Sholeh.
Di lain tempat ... Dival.
Berbeda dengan Rival saat masuk gerbang sudah di tunggu oleh barisan para mantan, lain halnya dengan Dival saat masuk kantin, ia sudah di tunggu oleh barisan para ibu-ibu penjual di kantin. Eh, bukan barisan deng, tapi hanya ada satu orang saja dan sepertinya ibu kantin tersebut adalah korbannya Dival. Ketika ingin ke kantin untuk sarapan, Dival melihat ibu-ibu itu tengah menatap padanya. Dival menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu sambil tersenyum manis, meski sebenarnya perasaannya tidak enak.
"Dival! Kamu di larang masuk kantin ini!" sergah Bu Ida, salah satu penjual makanan di kantin tersebut. Kini beberapa siswa yang lain melihat ke arah Dival.
"Lha, kenapa Bu Ida? Salah saya apa?" tanya Dival dengan tampang tanpa dosanya.
"Itu karena kamu belum bayar makanan mu yang kemarin, jadi hari ini, kamu di larang masuk ke sini. Saya tidak mau ada yang ngutang di kantin saya lagi, titik!" jelas Bu Ida dengan tegas.
"Wah ... sayang sekali ya, Bu Ida, padahal saya ke sini mau bayar hutang saya lho," ujar Dival lalu merogoh ke dalam saku celananya. "Nih, saya sudah bawa uangnya, tapi kalo Bu Ida enggak mau ya sudah, saya masukin lagi ke saku. Terimakasih Bu Ida," katanya lagi bersiap untuk pergi.
__ADS_1
Melihat Dival pergi begitu saja setelah memasukkan uangnya kembali, membuat emosi Bu Ida mereda.
"Ng ... Dival!" panggil Bu Ida tiba-tiba.
Dival menghentikan langkahnya, ia tersenyum geli di sana. Ia balik badan dan mendapati Bu Ida sudah menurunkan tangannya yang sejak tadi menyilang di depan dada.
"Ya?"
"Kalau kamu sudah bicara seperti itu, mau gimana lagi. Baiklah kamu boleh ke sini, tapi ....!" Bu Ida menghentikan kalimatnya. "Tapi, jangan ada lagi yang namanya makan tanpa membayar!" ancamnya dingin.
"Hehehe ... siap Bu Ida!" kata Dival kegirangan. "Kan saya sudah bawa uangnya, jadi saya bakal bayar utang saya. Bu Ida tenang saja, hari ini saya jujur kok!"
Di tempat lain, Jamal ....
Jamal sendiri saat itu yang sudah hampir bersiap untuk sekolah, lebih dulu membantu Umi nya untuk menyiapkan semua dagangannya. Sudah sejak subuh tadi Jamal membantu Umi.
"Baik Umi."
"Kalau sudah selesai sebaiknya kamu segera siap-siap berangkat sekolah, nanti terlambat. Jangan lupa sarapan dulu," kata Umi lagi.
"Iya Umi, terimakasih."
Saat hendak masuk ke dalam tiba-tiba Abahnya Jamal sudah berdiri di depannya. Ia agak kaget karena mendadak Abah muncul di sana.
"Pokoknya nanti sore jangan kabur lagi seperti kemarin!" tandas Abah tegas. "Bisa-bisanya kamu kabur dari Mushola, itu murid-murid sudah pada nunggu di sana. Kasihan kalau tidak ada yang mengajar mereka ngaji, paham tidak?!"
__ADS_1
"Baik Abah, nanti Jamal enggak kabur lagi," jawabnya santai.
"Ngaji itu penting, Jamal. Semua ilmu agama itu untuk kita saat kita sudah di panggil sama yang di atas. Ajaran kita selama di dunia yang akan kita bawa. Kita, sebagai orang muslim wajib mengajarkan pada mereka apa yang sudah kita pelajari. Semua amalan yang akan kita bawa sebagai bekal nantinya. Kita juga mengajari sambil belajar, itu yang namanya seimbang dalam mencari ilmu!"
"Jamal paham, Abah, cuma waktu itu Jamal belum siap karena Abah juga bilangnya mendadak."
"Kamu tau Abah ini sering sakit-sakitan, hanya kamu yang bisa gantiin Abah saat ini. Sedangkan Zahra masih SMP, pastinya belum siap kalau harus mengajar anak-anak itu. Satu-satunya anak laki-laki di rumah ini cuma kamu, Jamal. Kalau suatu hari nanti Abah--"
"Abah!" potong Jamal cepat. "Kalau Abah ingin Jamal terus mencari ilmu, jangan pernah Abah bicara seperti itu. Jika Abah ingin Jamal mengajari mereka, setidaknya Abah tetap ada di sini sampai hari itu tiba, hari di mana Jamal bisa membuat Abah bangga!"
Abah terkesiap, lalu beliau terdiam. "Maafkan Abah, Jamal ...."
"Jamal mau siap-siap dulu," ujarnya lalu masuk ke dalam.
Siang harinya ketika istirahat di sekolah Rival ....
Setelah bel istirahat berbunyi, kini waktunya untuk Rival melakukan ritualnya. Baru saja bel berbunyi Rival sudah lebih dulu kabur dari kelas, bahkan saat Guru masih di dalam. Guru yang melihat ulah Rival setiap harinya hanya bisa menggeleng kepala, prihatin terhadap kelakuannya. Padahal Rival itu anaknya pintar, dalam segi pelajaran ia selalu bisa, dan sering mendapatkan nilai bagus. Hanya sayang, sayangnya dengan perilaku yang kurang di terapkan saja untuknya. Itu menurut Pak Sholeh dan beberapa Guru lainnya. Seperti sekarang ini, Rival kabur lebih cepat dari Gurunya.
"Rival! Elo mau 'itu' lagi?" tanya Rico ketika melihat Rival hendak menaiki tangga.
"Eh, elo Rico. He eh gue mau itu lagi. Mau gabung?" tawarnya.
"Ogah, entar kebablasan sampe pulang sekolah lagi."
"Hehe ... ya udah, gue mau ngelakuin ritual dulu ya!" ucapnya sembari melambai kecil. Tapi, mendadak langkahnya terhenti ketika melihat seorang anak cewek yang sama sekali belum pernah ia lihat. Lebih tepatnya di sekolah ini.
__ADS_1
"Rico, itu siapa?" tanyanya sambil menunjuk pakai dagunya. Matanya tidak lepas dari cewek tersebut.