
"Termasuk yang Kak Dival punya, yaitu jomblo! Apanya yang keren jadi anak jomblo! Mending punya pacar, kemana-mana bisa bareng, kalo elo mau pergi ada yang nemenin. Emang enak jadi jomblo abadi?" kata Ruli yang masih sibuk dengan chat nya.
"Jadi jomblo itu bukan pilihan gue, tapi gue juga enggak bisa menghindar. Karena yang namanya jomblo itu keren, artinya dia sedang menunggu seseorang yang datang dengan cintanya yang tulus, begitu pula sebaliknya. Gue lagi nunggu seseorang untuk gue kasih cinta gue yang tulus dan murni ini. Apa elo paham, anak kecil?!"
"Apa bukan ucapan Kak Dival yang sok yes ya? Setelah mendengar dari Kakak, gue jadi nyimpulin sesuatu tentang Kak Dival. Kakak itu masih jomblo karena lagi nunggu seseorang yang tulus, atau emang Kak Dival-nya aja yang enggak laku?"
Pok!! Dival seperti baru saja di lempar pakai sandal kayu. Sakit! Sadis! Kena! Gila! Kata-kata Ruli barusan membuat Dival mematung seketika, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak bisa berkata-kata lagi. Lebih tepatnya tepat sasaran. Dival melirik ke arah Ruli yang masih sibuk dengan poselnya. Lagi-lagi Dival menyambar ponsel yang masih di pakai Ruli dari tangannya. Alhasil Ruli kembali kaget dan juga dongkol, apalagi Dival.
"Kalo gitu gue bales aja kali ya ke Farel kayak gini, 'elo itu kenapa ngejar-ngejar gue, apa bagusnya sih cowok kayak elo. Kenapa elo ngejar gue terus, atau emang elo yang enggak laku atau gimana', kira-kira apa jawaban Farel ya, setelah di kirim balasan kek gini dari elo," ancam Dival dengan tampang penuh dendam dan menakutkan, di selingi dengan senyuman iblisnya.
"Hiiiih! Kak Dival curang, mainnya ngancem!" gerutu Ruli.
"Hihihi ... apa jadinya kalo chat ini gue tulis lalu gue kirim!" Dival terkikik usil.
"Huh! Di kira gue bakalan percaya sama ancaman Kakak! Gue tau Kakak enggak bakalan berani ngirim tuh chat ke Farel! Mau nipu gue, hooo enggak bisa!"
Dival kembali terkekeh jahat sembari melirik Ruli, lalu kembali pada ponselnya, "Elo kira gue cuma main-main sama ancaman gue. Nih ... gue udah tulis, gue tinggal pencet kirim, lalu ...."
Kling! Seperti suara sebuah pesan terkirim. Sontak suara itu membuat Ruli terlonjak kaget yang tadinya tenang-tenang saja. Tiba-tiba ia menyerbu Dival.
__ADS_1
"Kakak! Kakak beneran kirim ke Farel tulisan barusan?!" sergah Ruli kalang kabut.
"Ups! Sepertinya iya, gue enggak sengaja mencet tombol kirim, hehe ... wah, maaf nih ya, sepertinya elo harus bicarakan hal ini dengan Farel deh setelah ini," kata Dival santai, lalu ia kembalikan ponselnya pada Ruli.
"Aaah ... Kak Dival! Kenapa Kakak kirim ke Farel barusan ... apa kata Farel nanti, dia pasti salah paham sama chat yang barusan elo kirim! Dia itu beneran suka sama gue, udah lama Farel bilang suka ke gue, tapi gue yang belum ngasih jawaban, makanya tadi dia mau ngebuktiin ke gue! Sekarang enggak tau Farel bakal mikir apaan soal chat yang Kakak kirim! Gara-gara Kak Dival! Kalo entar sampe Farel berubah pikiran, siap-siap aja lo, gue timpuk pake sandal Gapyak!!"
Tidak hentinya Ruli mengumpat, emosinya ia luapkan saat itu juga. Ia benar-benar kesal terhadap Kakaknya.
"Kan gue beneran ngebuktiin kalo ancaman gue ini enggak main-main," balasnya santai.
"Apa ... jadi yang tadi itu emang di sengaja? Katanya enggak sengaja kepencet!"
"Kakaaaaaak! Elo harus tanggung jawab! Kalo Farel marah dan salah sangka, dan enggak mau bicara lagi sama gue, Kak Dival harus tanggung jawab! Gue enggak mau Farel jadi benci sama gue karena pesan yang Kakak kirim tadi, gue enggak mau tau! Gue enggak mau di benci sama Farel gara-gara chat barusan!"
Seperti ingin menangis karena ulah Kakaknya. Ruli berkali-kali memukul lengan Dival.
"Aduh! Udah deh ya, dia enggak bakal benci sama elo hanya karena chat sepele gitu. Percaya deh sama gue, mana mungkin cowok yang suka sama elo jadi benci hanya karena chat seperti itu. Kalo dia beneran marah berarti dia enggak serius sama elo, masa cuma karena chat bercanda dia nya marah. Udah, tenang aja, kalo entar Farel marah atau enggak mau bicara sama elo lagi, bilang ke gue, biar gue yang ngadepin dia!" jelasnya.
"Huh! Kakak, ini tuh bukan masalah sepele! Kalo Kak Dival yang bicara, enggak tau apa yang akan terjadi sama Farel. Kak Dival bicara kayak gitu karena Kakak enggak tau gimana rasanya di sukai seseorang! Kak Dival bodoh! Kak Dival oneng! Gak peka! Dasar jomblo akut!!"
__ADS_1
Serentetan umpatan Ruli terus meluncur dari mulutnya, saking kesalnya. Semua gara-gara Kakaknya. Lalu setelah itu apa yang terjadi selanjutnya. Terjadilah perang kecil di kamar Ruli.
Di rumah Jamal ....
"Baru pulang, Jamal?" tegur Abah.
"Iya, Bah. Tadi ada tugas sedikit di sekolah, jadi agak telat pulangnya," jawabnya yang kemudian duduk di kursi di depan Abahnya.
"Jamal ... maafkan Abah soal tadi pagi. Abah sudah bikin kamu cemas. Abah tidak ada maksud untuk membuatmu merasa terbebani dengan permintaan Abah," kata Abah pelan.
Jamal masih mendengarkan.
"Hanya saja, Abah pengen kamu tahu, kalau Abah ini sangat sayang dan peduli sama kamu, Jamal. Abah hanya tidak ingin kamu mengambil jalan yang salah. Maaf jika Abah sudah bersikap egois padamu dengan berkata seperti ini. Abah hanya ingin melihat anak-anak Abah menjadi orang yang berguna untuk siapapun dan dimana pun, tanpa harus lebih dulu di perintah. Maaf, jika Abah terkesan memaksamu untuk melakukannya," jelas Abah memberitahu.
"Jamal tau, Abah. Abah melakukan ini juga untuk kebaikan Jamal, dan Jamal paham itu. Abah tidak perlu minta maaf dan tidak perlu merasa seperti itu. Jamal tau kalau semua yang Abah lakukan dan Abah perintah, adalah untuk kebaikan Jamal dan semuanya. Jamal yakin kalau Abah sudah memikirkan dengan sungguh-sungguh, Abah juga tidak mungkin tanpa sebab menyuruh Jamal untuk melakukannya, 'kan. Jadi, Abah, Jamal minta maaf kalau selama ini Jamal sudah tidak nurut atau membantah omongan Abah. Selanjutnya, Jamal tidak akan mengecewakan Abah lagi, ya?"
Abah menatap anaknya tersebut. Lalu Jamal melanjutkan.
"Saat ini Jamal bukanlah apa-apa, belum bisa menuruti apa yang Abah minta. Jamal hanya menuruti ego Jamal sendiri, dan bersikap seenaknya saja. Maaf, Abah ...."
__ADS_1
"Mas Jamal sama sekali enggak ngecewain Abah kok," ucap suara seorang anak perempuan di belakang Jamal. Tidak lain itu adalah Zahra, Adik Jamal. Saat ini ia masih SMP kelas dua. Di sana terlihat Zahra tengah tersenyum teduh sembari menghampiri Jamal.