
Jamal memperhatikan bapak itu bingung.
"Dan satu lagi, jangan pernah berpikir kalau Mas ini belum melakukan apa-apa untuk Abah Anda. Mungkin tanpa Mas sadari, Mas sudah cukup melakukan yang terbaik untuk Abah Anda. Kalau saja Mas bisa berpikir seperti itu, tentunya Mas tidak akan punya perasaan seperti saat ini, bukan? Sebaiknya kita berpikir kebalikannya saja. Bagaimana kita akan menghadapi perasaan kita sendiri. Ah maaf, kalau saya terlalu banyak bicara. Kalau begitu saya lanjutkan kegiatan saya. Mas juga, sebaiknya Anda segera memutuskan akan bagaimana. Saya permisi dulu kalau begitu." Bapak tersebut berucap seraya menepuk pundak Jamal.
Jamal masih terdiam bahkan setelah bapak tadi berlalu dari hadapannya. Rasanya semakin berat setelah membicarakan masalah ini dengan orang yang baru saja ia temui. Tapi entah kenapa, Jamal merasa ....
"Bahkan kata-katanya mirip sekali seperti yang di katakan Zahra. Apa iya, gue udah berpikir yang enggak seharusnya gue cemaskan?" gumam Jamal pelan. Kemudian, Jamal pun ingat akan tujuannya mendatangi musholla.
*****
Empat hari kemudian sejak Abah masuk rumah sakit, akhirnya hari ini Abah sudah boleh pulang dengan di dampingi Umi, Jamal dan Zahra. Karena setelah pemeriksaan terakhir keadaan Abah sudah jauh lebih baik. Saran sang dokter untuk Abah, jangan terlalu beraktivitas yang terlalu berat, harus banyak istirahat mengingat kondisi jantungnya yang lemah. Jikalau terlalu melakukan pekerjaan yang berat bisa berakibat fatal pada tubuhnya. Sebenarnya Abah masih belum di perbolehkan pulang. Kata Abah, beliau sudah tidak betah jika berlama-lama di rumah sakit. Maka, dengan berat hati sang dokter pun mengijinkan Abah pulang, tapi dengan syarat untuk rajin cek up. Dan, Abah pun menyetujuinya.
*****
Esok paginya hari Minggu Jamal minta ijin keluar rumah karena sudah ada janji dengan Rival dan Dival. Sebelumnya Dival yang meminta mereka untuk bertemu karena ia ingin menanyakan kabar Abahnya Jamal.
"Jadi, gimana keadaan Abah elo?" tanya Dival.
"Kemaren Abah udah pulang dari rumah sakit, meski sebenernya masih belum boleh sama Dokter. Tapi, Abah yang maksa pengen pulang. Katanya keburu enggak betah berlama-lama di sana."
__ADS_1
"Iya sih, siapapun pastinya enggak bakalan betah lama-lama di rumah sakit. Gue tau tuh rasanya di sana kayak gimana dan gue tau apa yang Abah elo rasain, karena gue juga pernah di rawat di rumah sakit," kata Dival.
"Gue rasa elo pernah masuk rumah sakit gara-gara penyakit ambeyen elo deh," celetuk Rival asal. "Atau kalo enggak penyakit kurang angka elo yang bikin elo di rawat di sono. Cuma bedanya elo di RSJ."
Dival mendelik ke arah Rival, ia ambil ancang-ancang ingin memukul Rival dengan raut wajahnya yang kesal. "Kepret lo! Enak aja kalo bicara, dasar playboy kerempeng!" makinya pada Rival. Kini ia kembali pada Jamal. "Tapi, Abah elo beneran udah enggak apa-apa 'kan?"
Jamal mengangguk meyakinkan. "Iya, sekarang Abah udah jauh lebih baik. Abah juga kudu rutin cek up aja kok."
"Elo yang sabar ya, Jamal. Elo lagi di uji sama yang di atas. Tuhan ngasih cobaan ini ke elo, itu artinya Tuhan sayang sama elo dan Abah elo. Elo pasti bisa ngelewatin ini, gue yakin elo ini orangnya selalu bisa menerima keadaan apapun dengan sabar dan lapang. Dan elo punya itu semua, gue percaya sama elo. Pastinya Abah bangga punya anak kayak elo, Jamal." Rival berkata untuk menyemangati Jamal.
"Ya, terimakasih banyak, Rival. Gue juga sebisa mungkin akan melakukan apapun untuk Abah. Supaya Abah bisa terus sehat," balas Jamal pelan. Lalu, ia memperhatikan Rival beberapa saat. "Rival ... apa, elo udah bicara sama—"
Dival merasa iba pada kawannya yang satu ini. Ia berkata, "Rival, gue rasa, enggak ada salahnya kalo elo coba bicara sama nyokap elo. Gue sedikit tau tapi banyak juga yang gue enggak tau apa yang elo rasain. Gue bisa ngerasain sakitnya saat orang yang deket dengan elo, tapi elo enggak mau berusaha menatapnya. Elo pastinya menyadari hal itu 'kan? Elo bisa ngerasain 'kan? Rasanya ketika elo mau ngajak seseorang bicara, tapi orang itu sama sekali enggak mau mendengarkan elo."
Rival bungkam. Ia justru membenamkan wajahnya di meja dan tidak bergerak.
"Apa yang di katakan Dival ada benernya, Rival ... enggak ada salahnya elo bicara baik-baik sama Ibu elo," imbuh Jamal. "Tau sesuatu tentang elo, Rival?"
Rival mengangkat kepalanya dan melihat Jamal. "Apa?"
__ADS_1
"Gue kembalikan kata-kata elo yang tadi buat gue. Gini, gimana elo bisa bicara dan nasehatin gue seperti tadi, sementara elo sendiri belum bisa melakukannya untuk diri elo sendiri. Dengan mudahnya elo bicara ke gue, tapi elo sendiri belum melakukan apa-apa. Gue tau, kalo gue lagi kena musibah dan gue harus sabar menerimanya. Tapi, apa elo sendiri udah bisa menerimanya? Apa elo udah mencoba untuk sabar dan menghadapi masalah elo? Tapi, yang gue liat dari elo adalah, bahwa elo mencoba untuk lari dari masalah yang elo hadapi. Elo enggak mencoba untuk menghadapinya, dan elo terlihat terus berlari dari masalah ini. Elo cuma menghindari masalah tanpa mau mencari jalan keluarnya. Elo menghindari kenyataan yang ada di depan elo."
Rival diam kembali. Nampak ia memikirkan ucapan Jamal.
"Apa, kelihatan jelas kalo gue berusaha lari dari masalah yang gue hadapi?" tanya Rival lirih.
"Tanpa elo sadari, elo itu udah menunjukkannya, Rival. Gue sih enggak ada maksud buat maksa elo untuk bicara sama Ibu elo. Tapi, bukankah hanya mereka yang bisa bikin perasaan elo tenang? Coba elo pikirkan itu." Jamal memperhatikan Rival yang masih terdiam.
"Rival, kita kenal bukan baru kemaren dan juga bukan baru hari ini 'kan? Kita udah sering barengan kayak gini, kita udah jadi temen dan banyak perubahan. Tapi, yang masih belum berubah sama sekali itu cuma elo, Rival. Cuma elo yang masih kayak dulu, apa-apa di pendem sendiri. Enggak pernah mau cerita sama kita. Elo selalu menanggung beban sendirian. Mana kita tau apa yang elo rasain. Jadi kapan ... kapan elo bisa membuat perubahan itu?" tandas Dival.
Rival membuang napas panjang sambil mengusap wajahnya. Kemudian berkata, "Udah gue bilang tadi, ini bukan seperti yang gue inginkan."
"Tapi, di dalam kata bukan seperti yang elo inginkan, ada sesuatu yang pastinya elo inginkan, bukan. Hanya saja elo belum menyadarinya. Atau, seperti kata gue tadi, elo berusaha menghindarinya, yang sebenernya elo sangat mengharapkannya," kata Jamal lagi.
"Entahlah, gue juga enggak tau apa yang gue rasain."
Jamal terkekeh geli. "Elo bisa nasehatin gue, tapi elo sendiri enggak bisa nasehatin untuk diri sendiri. Elo itu kayak anak kecil yang belum waktunya untuk gede. Ya, untuk saat ini."
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Dival bingung. Jamal tertawa kecil akan ekspresi Dival, tapi ia tidak menanggapinya. Tentu saja Dival semakin penasaran karenanya.
__ADS_1
Sementara Rival masih membeku di tempatnya sekarang. Banyak yang ia pikirkan setelah apa yang di ucapkan Jamal tentang dirinya. Selama ini Rival selalu tenggelam dalam masalahnya sendiri dan hal itu masih berlanjut hingga saat ini. Dan, apa yang di katakan oleh Jamal kemungkinan besar benar seluruhnya, bahwa dirinya memang selalu berusaha lari dari masalahnya tanpa mau menghadapinya. Dan, tanpa mengetahui hasilnya, Rival sudah lebih dulu menghindarinya.