Triple L

Triple L
Eps 26. Sesuatu tentang Rival


__ADS_3

Mereka menganggap ceramah Erik sebagai sebuah lelucon, bagaimana tidak, Erik yang biasanya diam, sekarang bisa berkotbah layaknya seorang Ustadz. Panjang, padat, dan jelas. Tentu saja membuat yang lainnya menahan tawa. Namun, apa yang di katakan Erik memanglah benar adanya. Dan, satu dua dari mereka masih ada yang tertawa.


"Gila! Omongan elo udah mirip Pak Kyai tau enggak, Rik! Sumpah! Gue sampe merinding dengerinnya! Gila, gila ini mah! Waah ... elo kerasukan jin apaan sih, mendadak jadi kalem kayak gini. Kata-kata elo barusan sangat keren! Sejak kapan lo bicara seperti pakar nasehat?!" ujar Ares masih dengan tawanya.


"Bisa-bisa elo nih yang bakalan jadi ketua gantiin Jamal!" imbuh Arik yang juga ikut tertawa.


"Lha? Bener 'kan, apa yang gue bilang. Gimana band kita bisa maju kalo kalian terus menerus ngurusin masalah kayak gini?!" kata Erik lagi. "Lagian kita nih ya bukan baru kenal satu menit yang lalu, kita ini udah kenal lama. Harusnya kalian bisa dong, misahin masalah pribadi dan band. Masalah pribadi, kalian urus aja sendiri. Beda dengan band, kalo band udah jadi masalah kita bersama! Ayolah, elo-elo pada bukan anak bayi lagi!"


Yang lainnya mencoba mencerna kata-kata Erik. Entah mereka mengerti atau tidak.


"Kalian harus inget, pesan Kak Romi, ketua pertama band kita. Dia udah berpesan pada kita, supaya kita bisa melanjutkan band miliknya yang sekarang udah jadi band kita. Gue enggak mau ngecewain Kak Romi, begitu juga dengan kalian, yang enggak akan ngecewain Kak Romi, 'kan?" lanjut Erik.


Yang awalnya mereka tertawa karena ceramah Erik, kini suasananya mulai berubah, terlebih ketika Erik menyebut sebuah nama, yaitu Romi. Romi adalah ketua pertama di band mereka, dulu Romi yang menciptakan band tersebut. Namun baru satu tahun mereka menjadi sebuah grup, tiba-tiba Romi memutuskan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya, dia ikut bersama orang tuanya ke Amerika. Dan, dengan berat hati Romi harus meninggalkan band dan teman-temannya. Saat sebelum Romi pergi, ia bertemu dengan Jamal, yang katanya sangat menyukai musik rock. Di sana Romi melihat bakat Jamal untuk menjadi seorang vocalis. Melihat kesempatan itu, Romi mengajukan Jamal sebagai vocalis di band mereka. Awalnya para personel yang lain tidak setuju, karena kalau anak baru dan langsung pegang vocal, mereka akan sulit menyeimbangkan performanya. Tidak mau menyerah, Romi berusaha membujuk personelnya supaya mereka mau menerima Jamal. Dengan melatih dan uji coba, antara vocalis dan pemegang alat musik. Hasilnya tidak mengecewakan, mereka puas dengan performa yang mereka lakukan. Selain itu Romi sudah ingin pergi, mau tidak mau mereka harus menerima Jamal sebagai vocalis band tersebut.

__ADS_1


Dan setelah berunding, akhirnya mereka mau menerima Jamal masuk ke dalam bandnya. Tidak hanya itu, selain menjadi vokalis, Jamal juga di tunjuk menjadi ketua. Mereka setuju, karena mereka melihat jiwa kepemimpinan dalam diri Jamal. Tapi tidak dengan satu orang, inilah awal mula Dico tidak menyukai Jamal. Dico tidak terima jika yang menjadi ketua adalah Jamal.


*****


Berhari-hari, dan sekarang sudah berminggu-minggu berlalu. Sejak insiden di rumah Rival, Sari tidak lagi berkomunikasi dengan Rival. Di sekolah yang satu kelas pun, Rival tidak bicara apapun dengan Sari. Seolah Rival itu menghindarinya. Bahkan Sari sampai berpikir negatif tentang Rival. Padahal Rival bersikap biasa terhadap Dian dan yang lainnya, tapi kenapa hanya dengan dirinya saja Rival tidak menunjukkannya. Hingga hal itu membuat Sari di ujung emosi. Seperti saat ini, Sari tengah duduk sendiri di kantin sekolah sambil menyeruput es jeruknya.


"Apa-apaan sikap Rival itu! Kenapa dia sama yang lain bisa akrab dan bicara dengan normal, sedangkan sama gue kaku amat! Ketus bawaannya, jutek! Mending kalo dia liat gue, lha ini dia anggap seolah gue ini enggak pernah ada! Apa yang salah dengannya! Mungkin memang ada yang salah sama otaknya! Heran gue!" Sari emosi sendiri. Ia tidak henti-hentinya menggerutu.


Jelas Dian yang tiba-tiba duduk di kursi di depan Sari. Sementara Sari heran dengan penjelasan Dian.


"Ini namanya bukan jalan keluar! Rival bohong kalo dia baik-baik aja, dia hanya mencoba lari dari masalahnya saja. Dia enggak mau dan enggak pernah bisa jujur dengan dirinya! Hanya dengan melihatnya sendiri gue bisa tau apa isi kepala Rival!" sungutnya kesal.


Dian tertawa sinis, "Heh! Emang elo tau isi kepala Rival itu apa?"

__ADS_1


"Udah bisa di tebak! Dia itu jadi bengal dan begitu menjengkelkan karena dia punya masalah dan hanya bisa melarikan diri dari masalahnya! Mungkin itu salah satunya dia jadi bersikap sok dan berlagak jadi playboy, padahal sendirinya hanyalah seorang cowok payah dan lemah! Dia hanya menutupi wajah aslinya dengan wajah palsu!"


"Sari ... gue rasa, ucapan elo udah sampai batasnya. Dan sepertinya elo bener-bener enggak tau apa yang ada di dalam otak Rival. Elo jangan berasumsi Rival jadi begitu gara-gara masalahnya. Ada hal lain yang bikin dia jadi seperti sekarang ini. Kalo emang elo ingin tau mengenai Rival dan ingin mengerti Rival, sebaiknya elo gali lebih dalam lagi, apa yang sebenarnya Rival inginkan," jelas Dian dengan wajah yang mendadak serius.


"Maksud elo, apa?" tanya Sari pelan yang menyadari perubahan raut wajah Dian.


"Elo pasti enggak menduga sama sekali, Sari ..." Dian menggantung kalimatnya sesaat. "Rival ... dia, pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya dan enggak kembali lagi ...." ucapnya kemudian. Tiba-tiba Dian berwajah murung sambil menunduk.


Seketika jantung Sari seperti terhenti sesaat. Seperti ada yang baru saja pergi dari dirinya. Sari menatap Dian tidak percaya. "Apa ... elo bilang apa barusan ... elo bilang, kalo Rival ...."


"Ya ... pernah dia berpikir untuk pergi dari dunia ini, dan tidak akan kembali. Tapi, dia ingat masih ada seseorang yang harus ia jaga, yaitu Vikal, adiknya. Sungguh ironis apa yang Rival hadapi, sampai dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dia bilang kalo seandainya dia pergi, pasti tidak akan ada yang memperdulikannya, mungkin itu lebih baik untuknya. Dia bahkan pernah bicara seperti itu, sungguh lucu 'kan si Rival playboy itu."


Dian menceritakan kisah Rival, sambil tersenyum di paksakan. Terdengar jelas bahwa Dian merasa terpukul atas apa yang menimpa Rival.

__ADS_1


__ADS_2