Triple L

Triple L
Eps 16. Problem


__ADS_3

Jamal ... sepulang sekolah.


Usai sekolah Jamal berniat ingin pergi ke tempat teman-temannya biasa berkumpul, dan juga ada yang ingin Jamal ketahui soal masalah yang mereka perbuat. Hal itu sangat menggangu pikiran Jamal selama pelajaran. Apa lagi Jamal sampai di panggil Bu Iis karena masalah ini, tentu saja panggilan itu membuat Jamal cemas, selain itu, Jamal yang merupakan ketua dari band tersebut merasa harus melakukan sesuatu pada teman-temannya. Karena Jamal tidak ada bersama dengan mereka saat teman-temannya itu membuat masalah. Jamal menggunakan bis untuk sampai di tempat tersebut, sekitar tiga puluh menit dari sekolahnya. Turun dari bis Jamal kembali berjalan kaki yang hanya sepuluh menit.


Sampai di markas besar mereka, Jamal langsung masuk ke dalam. Di dalam ia mendapati yang lain tengah latihan. Begitu melihat ketua mereka datang, membuat keempat temannya itu berhenti lalu menatap Jamal.


"Heh, liat, siapa yang dateng!" seru Dico yang sedang memegang stick drum.


"Ketua kita baru nongol, kemana aja lo, Mal? Kita tunggu dari kemaren elo enggak dateng-dateng!" imbuh seorang yang bernama Arik. "Kemaren kita pergi bareng dan seru-seruan di luar. Sayang banget elo enggak ada kemaren!"


"Itu juga yang mau gue tanyain ke kalian semua," kata Jamal datar.


"Elo mau tanya apa?" tanya Dico heran.


"Bukannya gue udah pernah bilang, jangan bikin masalah lagi di luar, apa lagi kalo enggak ada gue," ujar Jamal.


"Elo mau bilang apaan sih, Mal?" Dico mulai bingung.


"Dico, elo inget kejadian beberapa bulan yang lalu, waktu kita kena masalah, dan kita semua di bawa ke kantor polisi gara-gara itu," jelas Jamal. Kini nada suaranya mulai meninggi, namun tetap tenang. Jamal menatap mereka satu persatu.


"Jadi elo masih nyinggung masalah itu?" tanya Arik mulai heran. "Elo kenapa sih, Mal?"


"Jamal, gue kira elo udah lupain itu masalah. Kenapa sekarang elo bawa-bawa lagi kejadian waktu itu? Ayolah, itu kasus lama 'kan? Enggak perlu di ungkit lagi!"


"Enggak bisa gitu, Dico. Jelas ini jadi masalah buat gue, karena gue di panggil Guru karena ada yang liat kalian bikin rusuh di kafe kemaren. Secara gue juga termasuk anggota kalian," Jamal menimpali.

__ADS_1


"Jadi, elo nyalahin gue lagi karena elo di panggil gara-gara perbuatan kita?!" tandas Dico yang merasa tidak terima.


"Bukan. Gue bukan nyalahin elo."


"Lalu apa? Apa yang bikin elo jutek sama gue?" tanya Dico yang mulai tidak sabar.


"Gue sebagai ketua harusnya bisa lebih memperhatikan kalian. Iya, memang kita ini band rock dengan musik yang keras, tapi bukan berarti kita bisa berbuat semau kita, akan lebih baik kalo kita juga bisa jaga sikap," ucap Jamal.


"Sekarang apa lagi masalah elo?!" Dico benar-benar emosi.


"Sebaiknya kita hentikan ini sekarang juga," usul Ares yang sedari tadi terdiam mendengarkan Jamal dan Dico berdebat. Ares sudah merasa was-was ketika melihat perubahan sikap Dico. "Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat buat bicarain masalah ini, oke?"


"Enggak bisa, Res! Jamal bicara kayak tadi seolah dia ini paling bener di sini! Seenaknya aja dia nyalahin semuanya ke gue! Ini enggak adil buat gue, enggak fear!" protes Dico kaku.


"Udah gue bilang, gue enggak nyalahin elo, dan gue enggak melimpahkan semua kejadian ini ke elo. Gue cuma minta, kalian jaga sikap kalau sedang di luar, itu saja," terang Jamal mencoba membuat Dico mengerti.


"Dico! Gue enggak bermaksud kayak gitu, kenapa elo jadi emosi kayak gini?"


"Menurut elo, gue kenapa hah?!"


"Dico! Jamal! Udah deh kalian berdua, mau sampe kapan elo berdua itu ribut terus. Kalian enggak liat yang lain pada diem, enggak bisa ngapa-ngapain kalo kalian bertengkar terus!" ujar Arik yang mulai gerah berada di sana. "Kalian enggak liat Erik, dari tadi dia diem terus liatin kalian berantem kayak perempuan!"


"Kalian pikir yang bikin gue kayak gini tuh siapa, hah?!" protes Dico geram.


"Mending sekarang kita bicarakan ini baik-baik. Jadi, elo maupun Jamal enggak berselisih lagi, gimana?" kata Arik lagi.

__ADS_1


"Gimana gue mau bicara baik-baik, sedangkan ketua kita ini main tuduh enggak jelas! Siapa yang enggak emosi. Elo dateng dan tiba-tiba bicara seperti tadi, tanpa tanya lebih dulu ke gue!" Dico semakin emosi.


Di situ Arik menghela napas panjang. Bahkan Arik sampai garuk-garuk kepala pertanda kalau ia mulai kesal juga. Kini ia mencoba menengahi mereka berdua.


"Kalo gitu, pertama, coba dulu tuh turunin emosi elo itu, lalu tahan dulu kalo mau marah-marah. Mungkin elo cuma salah paham aja, mungkin maksud Jamal bukan mau nuduh elo, tadi Jamal 'kan tanya, apa yang kita lakukan kemaren di kafe, secara langsung Jamal itu menanyakannya pada kita semua. Jadi, elo jangan buru-buru emosi, dengerin dulu apa yang mau Jamal tanyakan."


"Geh! Sekarang elo yang mbelain dia!" sergah Dico.


"Gue enggak belain Jamal atau apapun, hanya saja sejak tadi elo sudah salah paham!" kata Arik.


"Sebenarnya elo ada di pihak siapa sih?!"


"Dico, gue enggak mihak siapa-siapa di sini, dan gue juga enggak mau nyalahin siapa di antara kalian berdua. Gue cuma mau cari jalan keluar buat kalian berdua dengan menjelaskan apa yang Jamal maksud tadi. Makanya gue bilang sebaiknya kita hentikan ini sekarang juga, elo mudeng enggak sih?" entahlah, apa lagi yang harus Arik katakan. Ia sudah buntu.


"Haaah, sudahlah! Gue enggak mau denger ceramah elo! Gue cabut dulu!" kata Dico yang kemudian berlenggang pergi meninggalkan yang lain.


Jamal hendak mengejar Dico, tapi rasanya percuma, kalau Dico sudah seperti itu, tidak ada yang bisa ia perbuat. Sementara yang lainnya hanya menghela napas panjang, dan pasrah melihat sikap Dico yang keras kepala. Mereka sudah paham betul bagaimana karakter Dico. Dico itu anaknya suka blak-blakkan dan emosian. Dan ketika melihat Dico seperti tadi, mereka hanya bisa membiarkannya.


"Sory guys ... gara-gara gue suasananya jadi kaku gini. Gue minta maaf ...." ujar Jamal menyesal.


"Gue tau kok, kita semua juga tau gimana Dico. Gue tau maksud elo bukan kayak gini, dan ini bukan mau elo jadi seperti ini, elo cuma pengen kita ini mengerti, tapi salah satu di antara kita sudah terlanjur emosi lebih dulu dan sekarang dia minggat. Kita semua tau, jika Dico sudah emosi enggak ada yang bisa ngadepin dia. Enggak elo, enggak kita, bahkan dulu vocalis pertama kita kewalahan ngadepin Dico," imbuh Ares.


"Tapi 'kan emang semuanya gara-gara Dico, dia yang memulainya," ungkap Erik yang sejak tadi diam karena tidak berani melerai mereka. "Di sini yang salah itu jelas si Dico, Jamal cuma ingin memperingatkan kita saja, bukan begitu, Jamal?" tanya Erik yang meminta jawaban.


"Tapi keadaannya malah jadi seperti ini, gue jadi merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian semua. Haaah ... ketua macam apa gue ini!" keluh Jamal.

__ADS_1


"Soal keributan yang terjadi di kafe kemaren, sebenarnya juga karena Dico enggak bisa tahan emosi barang satu menit saja," Erik menambahkan.


__ADS_2