Triple L

Triple L
Eps 19. Bertemu Sari


__ADS_3

Di tempat lain ....


Sari memutuskan keluar rumah hari ini, bukan keluar seperti kabur atau apa, ia hanya ingin jalan-jalan saja sekedar untuk menghafal jalan, bagaimanapun ia baru beberapa hari pindah ke sini. Tadi pagi setelah selesai membantu Ibunya berberes di rumah, Sari meminta ijin untuk keluar sebentar. Sekarang Sari sedang berjalan dengan santai sembari melihat-lihat apakah ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dan benar saja, setelah beberapa menit matanya mencari dan jelalatan, akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik.


Tapi, Sari tidak tertarik pada toko atau makanan dan sebagainya, justru yang membuatnya tertarik adalah seseorang yang di kenalnya. Ia mengernyitkan kening dan memastikan kalau itu adalah orang yang di kenalnya. Dan benar, Sari yakin kalau itu adalah dia. Lantas, Sari mendekati orang itu lalu menepuk punggungnya.


"Rival?" sapanya.


Ya, orang itu adalah Rival, teman sekelasnya. Lantas, Rival pun menoleh dan mendapati Sari sudah di belakangnya. Ia agak terkejut.


"Hah? Elo?" tunjuknya ke wajah Sari.


"Ngapain elo di sini? Dan kenapa juga muka gue di tunjuk-tunjuk gini!" protesnya sambil menurunkan kembali tangan Rival.


"Geh! Terserah gue sih mau ngapain di sini, bukan urusan lo juga!"


"Hiiih! Jutek amat sih! Baru juga ketemu, udah enggak enak gini dengernya! Ada ya orang di sapa sama temen kelas tapi nanggepinnya kayak gitu? Dih, gue mah ogah!"


"Kalo ogah kenapa lo nyapa gue! Dodol!"


"Siapa juga yang mau nyapa elo, gue terpaksa aja karena enggak sengaja liat elo di sini!" sungutnya. Sepertinya, Sari geregetan karena di tanggapi seperti itu. "Eh, tapi elo ngapain pagi-pagi gini di sini? Emang enggak santai aja di rumah, atau enggak ada kerjaan?" tanyanya sembari melirik Rival, kini suaranya lebih pelan.


"Jadi, sekarang elo mulai penasaran apa yang gue lakuin, hah?!" tanya Rival dongkol sembari maju mendekati wajah Sari, alhasil membuat Sari mundur satu langkah.


"Hiiiih! Ogah banget ngepoin cowok bengal kayak elo!"


"Apa lo bilang? Bengal! Siapa yang bengal hah?!" bentak Rival. "Lama-lama elo, gue karungin beneran ya! Habis itu gue buang lo ke sumur! Seenak jidat ngatain gue bengal!"


"Habisnya elo gitu amat sih sama gue!" gerutu Sari. "Emang elo enggak inget kelakuan elo ke gue waktu itu?!"


Mendadak Rival terdiam mendengar kalimat terakhir Sari. Rival bungkam tidak bisa membalas perkataan Sari, namun aslinya Rival menahan emosi. Tapi mau bilang apa coba, karena memang Rival yang salah di sini. Lantas, Rival hanya bisa diam.

__ADS_1


Lalu Sari kembali melanjutkan.


"Bisa enggak sih, cara bicara elo itu di ubah sedikit aja, lebih santai dan pelan gitu. Emangnya elo betah ya bicara sama orang seperti itu terus, gue yang denger aja udah kayak mau pecah ini gendang telinga."


"Bukan urusan lo!" kata Rival keki.


"Nah, ini dia, elo juga kalo bicara sama orang kenapa mesti pake acara ngotot segala. Enggak sakit tuh tenggorokan?" tanya Sari santai.


"Bisa diem enggak sih?!" Rival benar-benar jengkel. Kini Rival berjalan meninggalkan Sari.


"Lebih selow dikit kenapa sih."


Tapi, siapa sangka kalau Sari akan mengikuti di belakangnya. Sambil cengengesan Sari mengekor di belakang Rival. Sebenarnya Rival tahu kalau Sari tengah mengikutinya, tapi Rival membiarkan Sari dengan bersikap acuh. Biarlah, sekalian saja ia kerjain si Sari. Rival mulai berjalan dan terus berjalan di mana kakinya menapak sampai batasnya. Siapa tahu Sari bakal kapok karena kelelahan, pikirnya. Jadilah Rival terus berjalan tanpa berhenti sedetikpun. Dan ia masih mengabaikan Sari yang di belakangnya.


"Ng ... Rival? Elo mau jalan sampai berapa jauh sih?" tanya Sari santai.


'Gila! Nih cewek masiiiiiih aja ngikutin gue! Apa enggak capek kali ya, dari tadi ngikutin gue! Padahal gue udah jalan gini jauhnya, tapi kenapa dia masih di sini!' batin Rival dongkol.


"Elo mau pergi kemana?" tanyanya lagi, masih santai.


"Rival?" panggilnya seraya menarik kaos Rival.


Kesal. Capek. Jengkel. Panas. Tapi, Rival masih diam dan cuek. Ia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Sari. Tapi ... tidak tahu kenapa, ketika Rival membiarkan Sari di belakangnya tanpa di gubris sedikitpun, tiba-tiba membuat hati Rival menjadi tidak nyaman. Ia merasa sudah bersikap jahat padanya, padahal Sari hanya mencoba baik kepadanya. Entah kenapa, Rival merasa yang jahat di sini karena sudah mengabaikan Sari. Di tambah perbuatannya terhadap Sari beberapa hari yang lalu. Saat mengingat kejadian itu membuat Rival menjadi tidak enak sendiri, ia merasa bersalah pada Sari. Tapi kenapa sikap Sari masih saja baik padanya, apa yang salah dengannya, padahal waktu itu jelas sekali kalau Sari begitu marah gara-gara Sari di perlakukan dengan tidak sopan. Kenapa sekarang mendadak Sari menjadi jinak begini? Ada yang salah dengan si Sari, pikir Rival. Tentu saja memikirkan itu semua membuat Rival tidak bisa berpikir jernih. Entah Rival harus bagaimana, bingung tapi juga kesal.


"Rival?" lagi, Sari memanggil Rival sambil menarik kaosnya pelan.


Tiba-tiba Rival berhenti mendadak, hingga membuat Sari menabrak punggung Rival. "Kalo mau ikut tinggal ikutin aja kenapa sih! Bawel banget!" sungutnya tanpa menoleh.


"Tapi, elo mau kemana? Kita udah jalan jauh banget lho!" ia mulai cemas.


"Buset dah! Siapa juga yang nyuruh elo ngikutin gue! Ngajak juga enggak! Kalo mau pulang ya sana, gue juga enggak ada niatan buat ngajak elo kok!" semprot Rival.

__ADS_1


"Lha, tadi elo bilang tinggal ikutin aja."


"Itu karena elo berisik banget dari tadi! Hadeeeh!" Rival garuk-garuk kepalanya. Ia sudah sangat kesal.


Kini Sari tidak lagi protes ataupun bertanya. Sementara, Rival kembali melanjutkan perjalanannya, tapi sekarang menuju tempat yang sejak awal ingin ia datangi, dan juga sekarang berjalan di jalan yang benar. Lalu Sari masih mengikuti Rival, tapi kali ini ia berjalan di sampingnya.


"Gue masih penasaran, apa yang ada di pikiran elo, Val."


Rival diam, berusaha tidak menanggapi Sari.


"Rival, elo enggak lagi pergi ke tempat yang aneh-aneh, 'kan?" tanyanya curiga.


"......." Rival masih diam dan juga berjalan.


"Hmm ... Rival, elo udah sarapan belum?"


"......." masih belum ada jawaban.


"Biasanya hari minggu elo ngapain aja?"


Berhenti. Rival menghentikan langkahnya lalu menatap Sari kesal.


"Pertama, gue lagi mikir, ternyata elo ini cewek berisik dan sangat cerewet! Kedua, gue enggak lagi ke tempat aneh-aneh seperti yang elo pikirkan! Ketiga, gue enggak sempet mikir udah makan atau belum! Yang keempat, jangan tanya lagi dan jangan bicara lagi! Dan yang terakhir, kita udah sampai di tempat tujuan!"


Jelas Rival yang sudah meledak karena sejak tadi di tahannya.


"Kan gue belum ada lima pertanyaan," kilahnya santai.


"Peduli amat!"


"Kita lagi di mana?" tanya Sari yang mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


"Heh! Elo jangan main ganti topik pembicaraan dong! Heh, cewek sableng!"


Sepertinya omelan Rival tidak di hiraukan oleh Sari. Tentu saja Rival tambah panas.


__ADS_2