Triple L

Triple L
Eps 20. Sari bertemu Triple L


__ADS_3

Tengah sibuk berargumen, tiba-tiba pintu mendadak terbuka. Yang di dalam pun penasaran ada gerangan apakah di luar, sampai begitu berisiknya.


"Ah, ternyata Rival, gue kira siapa," kata orang tersebut.


"Dival, elo udah sampe sini juga?" tanya Rival. Ternyata orang tadi adalah Dival.


Dival mengajak Rival untuk masuk, tidak lupa dengan Sari yang masih setia mengekor di belakang Rival. Di dalam sudah ada Jamal, mereka berdua sudah sampai lebih dulu. Sebelumnya mereka sudah membuat janji akan bertemu dan berkumpul di tempat biasa. Karena setelah pertemuan yang tidak di sengaja itu akhirnya mereka menjadi teman. Dan seringkali mereka berkumpul di tempat biasa, seperti sekarang ini. Kini mereka sudah berkumpul semua.


Tempat itu semacam toko aksesoris, terdapat barang-barang dagangan, poster besar yang terpajang di dinding, aksesoris untuk koleksi barang metal. Dan tempat tersebut milik seorang teman Dival. Ia mengenal baik dengan pemilik toko tersebut, hanya saja kalau hari minggu tokonya tutup, dan Dival sudah meminta ijin menggunakan ruangan kosong di belakang toko sebagai tempat tongkrongannya. Dan pemilik toko tersebut memberi ijin pada Dival, toh ruangan itu tidak pernah di pakai.


"Gue udah sampe dari tadi malah," jawabnya sambil melirik cewek yang ada di sebelah Rival. "Elo sama siapa? Rival, ini cewek elo?" tanya Dival penasaran.


"Geh! Siapa cewek ini, gue aja enggak kenal!" bantahnya tegas.


"Halo ... nama gue Sari, dan gue ini temennya Rival, kita satu kelas kok," jawab Sari sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Oooh, jadi kalian ini satu sekolah?" Dival manggut-manggut.


"Siapa suruh elo ngenalin diri, enggak ada yang nyuruh juga!" tukas Rival jengah. "Enggak punya malu emang lo!"


"Diem lo Rival tokek belang!" bisik Sari kesal.

__ADS_1


"Kalian temen, atau ...."


"Bukan! Dia bukan temen gue! Gue aja enggak kenal sama nih cewek sedeng! Tau-tau ngikutin gue!" Rival masih bersikeras tidak menanggapi Sari.


"Kenapa elo kesel gitu sih?" tanya Jamal.


"Tau ah gelap!" Rival menggerutu sambil melirik Sari. "Dival, elo enggak kerja hari ini?" tanya Rival seraya berjalan ke arah salah satu kursi.


"Hari Minggu Bro! Libur! Sebenernya sih enggak libur, cuma gue minta ijin hari ini enggak masuk dulu, gitu. Biar enggak terlalu tegang ini otak. Oh ya, Rival, elo udah sarapan belum? Noh si Jamal bawa makanan dari rumah, elo pasti suka, dan pastinya elo belum makan apa-apa 'kan dari rumah?"


"Hmm ... elo yang bawa nih makanan dari rumah?" tanya Rival beralih pada Jamal.


"Oooh, Gudeg ya ... wah, ini sih gue suka banget!" kata Sari antusias. "Jamal, elo baik banget deh, Dival juga, meski ini baru pertemuan pertama kita, tapi gue ngerasa nyaman bareng kalian. Yeah, beda jauh sih sama seseorang!" sindir Sari sambil melirik Rival.


"Apaan lo!" Rival melotot ke arah Sari.


"Eh Dival, kalian temenan tapi beda sekolah ya?" tanya Sari mencoba tidak menanggapi Rival.


"Ho oh, kita bertiga beda sekolah, tapi kadang kumpul gini kalo ada waktu senggang masing-masing. Gue sendiri sih sebenernya ada kerjaan sampingan, buat uang jajan gue, hehehe ... kalo elo sendiri? Gimana? Elo tadi bilang, katanya elo satu sekolah sama playboy ini 'kan?"


"Oh, jadi kalian juga tau ya kalo cowok bengal dan rese satu ini playboy?" tanya Sari heran sekaligus takjub. "Waaah ... enggak nyangka gue ternyata Rival kondang juga ya. Hmm ... kalo gue sih baru beberapa hari sekolah di tempatnya Rival, gue baru pindah ke sini," jelasnya.

__ADS_1


"Jadi, elo anak baru yang kebetulan satu kelas dengan Rival?" imbuh Jamal.


"Enggak sudi gue satu kelas sama lo!" ujar Rival.


Sari mengangguk, "Yap! Benar! Eh, tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian bertiga yang berbeda sekolah ini bisa barengan kayak gini?" Sari mulai penasaran.


"Pertanyaan yang tepat!" kata Dival. "Sari, biar gue ceritain nih ya!"


Sari dan Dival asik bercerita bersama dengan Jamal. Tanpa mereka sadari, mereka bertiga sepertinya mulai akrab dengan sendirinya, tidak ada rasa canggung ataupun kaku saat mereka saling bertanya ataupun bertukar pengalaman masing-masing. Keakraban pun mengalir dengan sendirinya, tahu-tahu mereka sudah seperti lama mengenal. Sesekali mereka tertawa saat menceritakan hal-hal yang menurut mereka lucu. Sepertinya tidak butuh waktu lama untuk mereka segera akrab.


Tapi berbeda dengan Rival, sepertinya ia mulai sebal pada Sari yang bersikap sok akrab. Saat memperhatikan Sari yang tengah asik mengobrol dengan yang lainnya membuat Rival bertambah kesal. Apalagi ketika melihat wajah Sari yang terlihat begitu menikmati waktunya bersama teman-temannya. Dengan mudahnya Sari tertawa dan ia terlihat begitu senang, seolah tidak ada beban di wajahnya.


Melihat Sari yang seperti itu membuat Rival sedikit iri dan jengah. Sejak tadi Rival juga lebih banyak diam ketimbang ikut dalam obrolan mereka. Tapi, tanpa sadar sejak tadi Rival terus memperhatikan Sari. Kenapa pula dirinya terus mengamati Sari. Dan, ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sari.


"Gila kali gue! Ya kali dari tadi gue liatin tuh cewek sedeng! Apa yang bagus dari dia coba! Cantik juga kagak! Apa yang gue liat sih! Rival, sadar dong woy! Buka mata lo lebar-lebar, oke! Dan juga, kenapa sikapnya berbeda sekali saat bicara sama gue. Kenapa dia bisa sangat ramah sama yang lain, sementara sama gue sikapnya begitu menyebalkan dan sok menggurui!" gumam Rival pelan. Ia terlalu jengkel sampai mengumpat sendiri dengan pelan.


"Rival? Elo bilang sesuatu?" tanya Sari pada Rival. Tentu saja Rival menolak untuk menjawabnya. Apalagi yang bertanya itu adalah Sari. Lantas, Rival pun hanya membuang muka ke arah lain.


Tidak terasa sudah hampir siang Sari ikut berkumpul dengan mereka bertiga. Padahal itu bukan rencananya hari ini, tapi biarlah, nambahin teman. Mereka juga sempat main musik sebentar, Jamal, Dival dan Sari yang memainkan alat musik tersebut. Kebetulan juga mereka bertiga mempunyai kegemaran yang sama. Rasanya menyenangkan sampai lupa waktu. Hingga akhirnya setelah beberapa lama berkumpul dan saling menceritakan kegiatan masing-masing, mereka pun memutuskan untuk pulang.


Mereka berempat berpisah dari tempat tadi, itu karena rumah dan jalan mereka yang berbeda. Tapi tidak dengan Sari dan Rival, mereka memutuskan pulang bersama, karena selain arahnya sama, Sari juga belum terlalu hafal daerah tersebut. Meskipun sebenarnya Sari aslinya berasal dari sini, hanya saja dulu ia pindah karena pekerjaan orangtuanya, dan sekarang Sari bersama keluarganya kembali lagi ke kota ini. Maklum jika Sari tidak mengingat jalanan sekitar sini, sewaktu ia pindah saat itu Sari masih kelas dua SD.

__ADS_1


__ADS_2