Triple L

Triple L
Eps 9. Rencana Rival


__ADS_3

Zahra ikut duduk menemani Jamal dan Abah.


"Buktinya kalau Mas Jamal tidak mengecewakan Abah adalah, Mas Jamal sudah membuktikannya bukan, Mas Jamal juara dua lomba Qiro'ah mewakili sekolah. Apa itu belum cukup bukti, kalau Mas Jamal itu sama sekali tidak ngecewain Abah. Bukan begitu, Abah?" kini Zahra menatap Abah sambil tersenyum.


Abah mengangguk mengiyakan, "Kamu benar, Zahra."


"Tuh 'kan, Abah aja setuju kok. Jadi, Mas Jamal enggak perlu tuh merasa seperti itu. Intinya sekarang kita berusaha saja untuk membuat Abah lebih bangga pada kita berdua, iya 'kan?" tanya Zahra yang meminta jawaban dari Jamal.


Jamal menatap Adiknya haru, perasaannya terasa ringan. "Ya, mungkin kamu benar, meski secara tidak sadar kalau Mas ini sudah bikin Abah bangga, tapi entah kenapa Mas selalu saja merasa seperti belum melakukan apa-apa. Mas seperti belum melaksanakan apa yang Abah minta. Seperti katamu barusan, selanjutnya bagaimana kita akan membuat Abah lebih bangga lagi. Apa dengan begitu, Mas tidak perlu berpikiran kalau Mas ini belum melakukan apa yang di perintah Abah?"


"Tergantung bagaimana kita melakukannya, Mas. Mas Jamal tidak tau saja, Abah ini sebenarnya kagum lho sama Mas Jamal. Cuma, Abah saja kali yang belum bisa menunjukkannya sama Mas." Zahra tersenyum usil sembari melirik Abah.


Abah tertawa kecil mendengar ucapan Zahra. "Mungkin yang di bilang Adikmu benar, Jamal. Abah tidak bisa atau memang Abah yang gengsi, kalau sebenarnya Abah ini kagum padamu. Mungkin Abah yang tidak mau mengatakannya kalau Abah ini kagum, makanya Abah berkata padamu demikian," jelas Abah masih dengan tawanya.


"Tuh 'kan, Mas, Abah sekarang udah mengakui kalau Mas Jamal ini hebat. Jadi, Mas Jamal enggak perlu memikirkan apa yang sudah membuat Mas Jamal berpikiran terlalu dalam. Jangan terlalu negativ menyimpulkan kalau Mas ini belum melakukan apa-apa untuk Abah. Kita lihat saja nanti."


"Sekarang malah perkataan mu yang mulai melampaui Abah kamu, ya?" suara Umi menyeruak di antara mereka, kini semuanya menoleh ke arah suara. "Sepertinya kamu sudah mulai banyak belajar, atau kamu hanya mengarang saja dari buku?" canda Uminya.


"Idih, Umi nuduh nih, bukannya Umi yang ngajarin ya, kalau kita juga harus pintar dan paham dalam berbahasa. Dalam keadaan maupun kondisi, dari buku atau orang lain. Kita juga sambil belajar 'kan, supaya kita nantinya enggak salah ucap di saat keadaan tidak mendukung. Tidak jadi masalah dimana kita belajar bahasa, yang penting bahasanya pantas dan patut untuk di gunakan. Selama kata-kata dan bahasa itu benar berada di tempatnya ketika di gunakan, tidak akan jadi masalah saat kita berbicara dengan siapapun, benar begitu?" jelas Zahra sekaligus tanya dengan nada polosnya.


Umi dan Abah tertawa kecil. "Iya, kamu benar Zahra, dan sepertinya kamu sudah paham betul apa yang Umi bilang waktu itu. Zahra sudah besar ya, Bah?"


"Umi ngeledek Zahra ya ... Zahra marah lho," ucap Zahra pura-pura marah, yang sebenarnya malu.


"Aduh, jangan ngambek gitu dong, nanti pahalanya di kurangi lho. Sebaiknya sekarang bersihkan diri dan siap-siap, sebentar lagi adzan Maghrib, oke?"


"Baik Umi!" jawab Zahra dan Abah hampir bersamaan. Lalu Abah pergi lebih dulu ke dalam untuk bersiap ke Masjid.


"Jamal, nanti ngajar ngaji di Mushola, 'kan?"

__ADS_1


"Iya, Umi ... nanti Jamal ke sana."


"Oh, kemarin Mas Jamal kenapa kabur dari Mushola, kok bisa?" kini Zahra melihat Jamal penuh tanda tanya.


"Mas mu lagi puber kali," sahut Umi.


"Heeeh? Emang kenapa Mas kabur?" Zahra semakin penasaran.


"Hmm ... enggak. Bukan apa-apa kok. Sebaiknya kamu siap-siap aja, nanti kalau Mas butuh bantuan, kamu bisa bantu Mas di Mushola," jawabnya sambil berdiri.


"Ng ... Mas Jamal, Zahra mau minta tolong, nanti ajarin Zahra bikin PR ya, ada yang enggak Zahra mengerti. Tapi, kalau Mas Jamal enggak keberatan."


"Iya, nanti Mas bantu. Hmm ... Zahra." panggilnya, Jamal terdiam sesaat. "Terimakasih karena sudah bantu Mas tadi, sepertinya malahan Mas yang terlalu berpikiran seperti anak-anak, ya?"


Zahra tersenyum lagi, "Zahra tau kok, apa yang Mas pikiran tentang Abah."


*****


Jika kamu ingin menggandeng temanmu yang satu, maka gandenglah sahabatmu yang lainnya untuk di ajak bersamamu...


Jika kamu ingin berbagi sesuatu dengan sahabatmu yang satu, maka ajaklah sahabatmu yang lainnya supaya merasakan apa yang kamu bagi...


Jika kamu ingin tersenyum, menggandeng, dan berbagi dengan sahabat maka ajaklah* sahabatmu yang lain, agar 'mereka' juga merasakan apa yang kamu lakukan*...


Tersenyum bersama, bergandengan tangan bersama, dan mendengarkan apa yang ingin kamu bagi kepada mereka yang kamu sebut sahabat...


Karena jika kamu hanya mengajak* 'satu' sahabat saja maka 'mereka' akan merasa kecewa padamu*...


Dan mereka akan berfikir bahwa kamu hanya pilih kasih, dan kamu akan membuat 'sahabatmu' itu kecewa...

__ADS_1


*****


Paginya di sekolah Rival ....


Di kelas, di kursinya Rival tengah duduk dengan gelisah. Telunjuknya terus mengetuk meja seperti orang yang tidak sabar, seperti sedang menunggu sesuatu.


"Rival ... elo kenapa kayak gelisah gitu sih. Emang elo itu lagi nunggu siapa?" tanya salah satu teman Rival, namanya Dian.


"Hmmm ... bener enggak sih kalo ada siswa baru di kelas kita. Kata Rico ada anak baru yang bakalan masuk ke kelas kita, kemaren gue liat dia ada di sini waktu gue mau tidur siang di atap. Apa, belum dateng ya?"


"He eleh ... jadi, elo dari tadi kayak orang hopeles gitu cuma lagi nungguin si anak baru?"


Rival mengangguk tegas, "Ho oh, udah dateng belum sih?"


"Ya belum lah, orang elo yang pertama dateng dan duduk di sini dari tadi kek gembel. Kalo pun udah dateng harusnya elo liat kali, dasar toge!"


"Uh iya, iya," Rival manggut-manggut setuju.


"Lha, elo ngapa tumben dateng awal begini?"


"Ng ... kenapa gue dateng awal ya?" Rival berusaha mengingatnya. "Hmmm ... enggak tau juga gue. Tau-tau gue tadi bangun langsung mandi, gue juga enggak liat jam, dan begitu sadar gue udah sampai di depan gerbang sekolah."


"Masa iya elo enggak sadar, atau emang elo nya yang koplak beneran! Heran sama temen gue yang satu ini!" kata Dian greget.


"Eh, ngomong-ngomong kenapa elo panggil gue toge ya barusan?"


"Elah ... baru sadar dia tadi gue ledek dia toge! Parah bener ini anak. Gue panggil elo toge karena emang elo mirip toge, udah kerempeng, playboy ulung, di mana-mana pula munculnya. Tau aja kalo ada anak baru, mana cewek lagi, huh!"


"Yeee ... elo kayak enggak tau rencana gue aja, Dian."

__ADS_1


"Ng? Rencana? Rencana apaan?" Dian bertaut alis, tidak mengerti.


Tiba-tiba Rival tersenyum simpul, sebuah senyuman usil sembari terkekeh. Dan saat itulah Dian sadar apa maksud dari rencana yang di lontarkan Rival, apalagi setelah melihat raut wajah Rival yang mendadak berubah. Dian punya firasat buruk tentang hal ini.


__ADS_2