Triple L

Triple L
Eps 43. Kencan?


__ADS_3

Ruli mengikuti Dival di belakangnya dengan perasaan kesal.


"Eeeeh! Dasar pelit! Kakak Pelit! Kalo pelit-pelit entar kuburannya sempit! Rasain! Awas lo Kak, sama Adik sendiri pelit begitu!" umpatnya kesal.


"Biarin, week!" balas Dival. "Mana mungkin gue ngajak orang lain saat gue mau pergi kencan! Enggak mungkin dong gue bawa elo sama gue!"


Eh? Apa? Barusan Dival bilang apa? Ruli terbengong, melongo, melompong seperti tahu pong. Ruli berhenti membalas ucapan Dival di saat terakhir.


"Hah? Apa? Kencan? Kakak mau kencan?" tanya Ruli penasaran. "Sama siapa? Emang Kakak punya pacar? Sejak kapan? Siapa yang mau pacaran sama Kak Dival? Siapa tuh cewek yang jadi pacar Kakak? Entah cewek itu beruntung atau apes karena pacaran sama Kakak. Emang ada ya, cewek yang mau jadi pacar Kak Dival, sedangkan Kakak makan aja masih ngutang. Gimana elo pacaran nanti. Gue jadi kasihan sama tuh cewek!" kata Ruli tidak ada habisnya.


Di situ Dival mendengarkan Ruli sambil menautkan kedua alisnya rapat. Keki, jengkel, panas menjadi satu.


"Heh! Adik kurang angka! Jangan ngejek Kakak elo ini dong! Gini-gini juga gue bisa punya pacar tau! Asal aja kalo bicara! Elo sembarangan kalo ngatain Kakaknya, dasar! Yang sopan dikit napa sih!" sungutnya.


"Jelas aja gue heran sama Kakak. Siapa coba yang mau jadi pacar Kak Dival! Atau, jangan-jangan tuh cewek udah kena pelet Kakak, ya?"


Sontak Dival menoleh ke arah Ruli dengan geram.


"Kurang aseeeem! Elo mau bilang kalo gue dapet pacar itu hasil main dukun, hah?!" sergah Dival sambil menjitak kepala Ruli gemas. Ia tidak terima di katai main dukun untuk mendapatkan pacar. Gila kali!


"Iiiih, sakit tau Kak! Lagi pula cewek mana coba yang udah kecantol sama elo! Emang bener tuh cewek mau sama elo! Kakak aja enggak ganteng-ganteng amat! Di bawah rata-rata malah! Jadi, kalo bukan pakai pelet apaan coba!" protesnya kesal. Ruli memegangi kepalanya yang terasa sakit.

__ADS_1


Dival membuang napas berat, "Nih gue bilangin ya ... gue enggak perlu pakai apa-apa buat ngedapetin cewek atau pacar. Cewek itu sendiri yang bilang kalo dia suka sama gue. Dan, gue enggak ngelakuin apapun supaya cewek itu bisa jadi suka sama gue. Cewek itu murni suka sama gue, karena gue sering bareng dia, selalu di sampingnya. Gue bisa bikin dia nyaman dan betah lama-lama sama gue. Makanya dia jadi suka, tanpa perlu gue berbuat yang aneh-aneh. Ayolah, masa jaman sekarang masih main dukun. Bukan gaya gue bangetlah!" jelasnya pada Ruli.


"Heee? Selama ini yang gue tau, cewek yang sering bareng Kak Dival cuma Kak Ririn deh."


"Hmm?"


Ruli tampak berpikir sesaat, sedetik kemudian Ruli melebarkan matanya, terkejut. Kini ia menoleh pada Dival tidak percaya, dan mungkin tidak mau percaya. Bagi Ruli itu sangatlah mustahil! Sangat, sangat mustahil!


"Jangan bilang kalo Kak Dival sama Kak Ririn--" kalimatnya terhenti karena masih belum percaya sama sekali. Begitu banyak pertanyaan di kepala Ruli. Apa, yang di katakan Kakaknya memang benar? Atau, ia hanya bohong saja, pikir Ruli.


"Hehehe ...." Dival meringis sembari memberikan dua jarinya. Lalu, setelah itu ia berlenggang pergi untuk berangkat ke tokonya Paman Syahril. Belum jauh dari Ruli, tampak Dival melambaikan tangannya. Perasaannya kini tengah bergembira. Wajahnya terlihat begitu sumringah ketika melangkah keluar. Terasa ringan, seolah tidak ada beban.


Sementara, Ruli masih berdiri di tempatnya, ia merasa belum puas akan jawaban Kakaknya itu. Memang, Dival tidak menjawabnya, tapi bagi Ruli senyuman di wajah Kakaknya telah menjawab pertanyaannya dengan sangat jelas. Tanpa sadar bibir Ruli menyunggingkan senyuman saat menatap punggung Kakaknya yang berlalu.


"Hey! Gue ke sini mau nagih hutang elo!" serunya sembari mendekati Dival.


Dival tersenyum kecil padanya seraya bertanya, "Emang harus hari ini, ya?"


"Iya dong. Bukannya elo udah janji ya, kalo elo gajian elo bakalan traktir gue. Inget sama janji elo di sekolah waktu itu 'kan? Jangan bilang kalo elo lupa ya! Gue ke sini mau nagih apa yang udah elo janjiin. Elo udah gajian 'kan, nah sekarang tepatin tuh janji elo!"


Dival tertawa kecil, "Ririn, heran gue sama elo. Peka amat sih lo kalo soal duit."

__ADS_1


"Gue cuma mau membuktikan omongan elo doang kok," ujarnya. Kini ia sudah di depan Dival.


Ya, bukan preman atau tukang palak yang mendatangi Dival. Tapi, tukang palak yang lain, dan tukang palak ini adalah cewek yang di sukainya.


Padahal Dival berbohong pada Ruli, kalau hari ini ia akan berkencan dengan pacarnya. Bahkan, Dival sudah dandan rapi, tapi biasanya juga Dival memang selalu seperti ini. Saat Ruli semakin kepo, Dival juga balik iseng pada Ruli. Dengan berkata kalau hari ini ia ada kencan. Sebenarnya, sekarang Dival berencana ingin pulang. Tapi, sepertinya rencana kepulangannya akan tertunda karena Dival bertemu dengan Ririn di sini.


"Ya udah, gue tepatin janji gue sekarang. Gue juga udah janji 'kan, kalo gue bakal traktir elo. Dan juga, ini sebagai tanda terimakasih gue ke elo, karena elo udah bantuin gue dapetin kerjaan sementara ini. Sekarang saatnya untuk gue balas budi ke elo."


"Yaelah, biasa aja kali ngomongnya. Enggak usah kayak gitu, kayak sama siapa aja deh. Bikin geli tau!"


"Lha? Katanya elo mau nagih utang gue, ya makanya gue bilang begitu. Ini sebagai bukti kalo gue enggak bakalan ingkar janji! Seorang cowok pantang menarik ucapannya!" seru Dival.


Ririn tertawa, "Iya, iya ... jadi, kita pergi sekarang nih?"


"Hmm, kalo elo enggak sibuk sih."


"Kalo gue sibuk, enggak mungkin gue bela-belain ke sini buat ketemu sama elo."


"Ng? Jadi, elo sengaja ke sini cuma mau ketemu sama gue? Kangen ya sama gue?" Dival cengengesan.


"Iya. Tapi, cuma mau nagih janji elo doang kok, enggak lebih," jawab Ririn yang kini berjalan mendahului Dival. Tapi, diam-diam di depan Ririn tersenyum.

__ADS_1


Dival memperhatikan Ririn dari belakangnya sambil tersenyum. Lalu, Dival menyusul Ririn dan berjalan di sampingnya. Mereka membicarakan yang entah apa. Paling seputar pekerjaan Dival dan sekolah. Karena mereka memang selalu seperti itu kalau lagi pulang bareng. Mereka berdua jalan kaki, dan entah akan ke mana mereka berdua pergi. Yang jelas Ririn mendatangi Dival karena ingin menagih hutangnya. Dan, di saat yang bersamaan, mumpung bertemu dengan Ririn, sekalian saja Dival membayar janjinya.


__ADS_2