Triple L

Triple L
Eps 44. Orang lain


__ADS_3

Tujuan mereka berakhir di tempat para penjual jajanan yang mangkir di tepi jalan. Dan, tempat itu terlihat sangat ramai sekali, berbagai macam jenis jajanan dan makanan tersedia di sana. Mulai dari yang manis sampai yang pedas, gurih dan asin, semua lengkap. Tidak lupa stand berbagai minuman pun tersedia. Setiap harinya kalau menjelang sore tempat itu memang selalu ramai oleh para pedagang kaki lima, dan para pembeli. Bisa-bisa mereka bingung ingin membeli yang mana. Dan, itu berlaku untuk Ririn dan Dival. Mereka memutuskan untuk mencari makan di tempat tersebut. Awalnya Dival heran lalu bertanya pada Ririn.


"Rin, elo serius mau makan di sini?"


"Ng? Kenapa emangnya?" Ririn balik bertanya. "Elo enggak suka sama tempatnya? Kalo elo enggak suka, kita pindah aja enggak apa-apa kok."


"Eh, oh bukan, bukan itu ... maksud gue tuh, elo enggak apa-apa jajan di tempat seperti ini? Gue pikir elo enggak cocok makan di tempat mangkiran pinggir jalan kayak gini."


"Ya ampun Dival. Jadi, elo pikir gue ini cewek yang suka makan di tempat yang mewah? Yang menghabiskan banyak uang? Kayak restoran, gitu?" tanya Ririn sambil tertawa renyah.


Dival merenges malu sendiri, "Ya gue kira aja. 'Kan ada noh cewek yang enggak suka jajan di tempat kayak gini. Yang pada bilang makanannya enggak bersih, enggak higienis, dan sebagainya."

__ADS_1


"Aduh, Dival ... gue enggak masalah mau makan di mana. Selama gue suka ya gue biarin aja. Lagi pula gue enggak suka tuh makan di tempat-tempat yang nguras kantong. Toh, semua makanannya hampir sama enaknya kok. Dan lagi, di sini banyak pilihannya tau. Elo tinggal pilih, asal bayar dan jangan ngutang aja. Menurut gue jajan di tempat kayak gini enggak ada salahnya 'kan? Gue juga sering kok cari makanan di sini," jelas Ririn.


"Oh gitu," Dival manggut-manggut. "Sori ya, kalo gue udah mikir yang macem-macem. Tadi gue sempet ngerasa enggak enak waktu kita mutusin cari makan di sini. Eh, taunya elo malah suka. Gue 'kan jadi lega dan gue enggak perlu sungkan lagi," Dival merenges lagi.


"Santai aja kali, Val. Di sini kita bisa cari makanan yang kita suka. Harganya juga enggak selangit, murah tapi dapet apa yang kita inginkan. Bebas. Keluar duit juga enggak banyak. Salah satunya ya itu tadi, pilihannya banyak, bisa makan sepuasnya deh!" Ririn sangat bersemangat.


"Bener juga. Berarti gue cuma salah sangka doang nih. Tau gitu dari kemaren ya gue ajak elo makan di sini. Enggak perlu ngeluarin duit banyak." Dival cengengesan sendiri.


Dival tertawa lagi, "Iyeee, boleh. Silahkan pilih apa yang elo mau. Bebas dah khusus untuk elo."


"Siiiip! Thanks ya. Kalo gitu sekarang, gue sikaaaat!"

__ADS_1


Dival dan Ririn mulai berjalan menyusuri para pedagang tersebut. Mereka berdua keliling mencari makanan yang akan mereka makan nantinya. Setelah beberapa menit keliling, akhirnya keputusan mereka jatuh pada batagor, kebab, putu ayu, siomay dan tidak ketinggalan dengan es Buto ijo. Awalnya Dival ngakak saat membaca nama minuman tersebut, tapi memang itu namanya. Es Buto ijo itu isiannya sederhana, yaitu biji selasih, mentimun serut dan di beri perasan jeruk nipis serta gula cair. Alhasil rasanya sangat segar dan manis.


Setelah di rasanya sudah cukup berkelilig dan membawa beberapa jajanan, kini mereka berdua duduk di tanah yang di tumbuhi rumput. Mereka cuek duduk di rumput, karena bukan hanya Dival dan Ririn saja yang duduk seperti itu. Kebanyakan mereka yang sedang jajan pun duduk di sana.


Di situ mereka mulai melahap makanan yang di belinya, dan benar mereka mendapatkan macam-macam makanan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Tapi, ada sedikit masalah di sana. Yaitu, Dival yang tidak bisa makan makanan pedas. Saat itu Dival makan tahu isi yang hampir semua isinya itu adalah cabe. Yeah, namanya juga tahu setan, pastinya banyak cabe di dalamnya. Berkat itu, Dival kelabakan mencari air minum. Sungguh, Dival benar-benar tidak bisa makan makanan pedas. Baru juga satu gigitan, Dival sudah menyerah. Bahkan air matanya sampai keluar karena saking pedasnya. Di situ Ririn tertawa melihat tingkah Dival yang seperti anak kecil. Di saat terakhir Dival menggerutu dan ia masih kepedasan.


*****


Di mulai dari batuan orang lain. Saat seorang ibu melahirkan anaknya ke dunia, kemudian mengurus segala sesuatu yang di butuhkan si ibu dan si bayi. Dari bayi yang baru lahir, menjadi balita kemudian anak-anak dan remaja lalu beranjak dewasa. Mulai dari bayi yang kemudian menjadi orang tua untuk anak-anaknya, sampai akhirnya meninggal pun masih dengan bantuan orang lain. Sejak mulai melihat dunia hingga menutup mata, kita tanpa orang lain tidak bisa apa-apa. Tanpa bantuan dari 'orang lain' kita tidak akan pernah bisa merasakan yang namanya keramahan orang lain. Tidak bisa merasakan bantuan tangan orang lain. Tanpa bantuan orang lain kita tidak bisa apa-apa. Kita lahir di bantu orang lain, kita belajar berbicara, membaca dan menulis juga di bantu orang lain. Hingga saat meninggalkan dunia ini pun kita masih di bantu oleh orang lain. Orang lain yang sudah berjasa membantu kita berada di dunia ini, setelah kedua orang tua kita. Untuk itu, kita sebagai manusia yang mempunyai pikiran dan perasaan serta akal sehat, ada baiknya kita mulai menghargai orang lain. Membantu orang lain, meski kita tidak kenal dengan orang itu sekalipun. Berbuat baiklah tanpa harus di minta. Berbuat baik tidak harus dengan orang yang kita kenal saja, tapi bisa juga dengan orang lain yang kita temui entah itu di mana. Segera ulurkan tangan kita saat seseorang membutuhkan bantuan. Tentu hal itu akan membantu kita, saat kita sedang berada dalam masalah dan musibah. Maka akan ada orang lain yang akan membantu kita. Tidak peduli siapapun, di manapun, kapanpun dan bagaimanapun keadaan. Sebaiknya kita mulai menghargai orang lain, jika kita mau di hargai oleh orang lain.


Jamal masih ingat dengan jelas semua perkataan Abah padanya beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Jamal tengah duduk di ruang tunggu bersama dengan Umi dan Zahra. Mereka bertiga sedang menunggu hasil pemeriksaan Abah setelah masuk ruang ICU. Ya, mereka sedang berada di rumah sakit. Beberapa hari ini kondisi Abah semakin parah. Tidak hanya pingsan seperti beberapa waktu lalu. Tapi, sekarang keadaan Abah benar-benar mengkhawatirkan. Abah sering kali bilang kalau dirinya merasa lelah dan lemas. Terakhir Abah tidak sadarkan diri ketika pagi hari sebelum Jamal berangkat sekolah. Saat itu Abah tiba-tiba ambruk di depan pintu kamarnya. Melihat Abah yang tidak bergerak membuat Jamal panik dan takut. Lalu, tadi pagi hal serupa pun terjadi lagi. Kali ini Umi menemukan Abah yang sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat. Sontak, Umi langsung memanggil Jamal dan Zahra agar segera membawa Abah ke rumah sakit. Sekarang Abah masih di ruang ICU sedang di tangani oleh dokter, karena kondisinya sudah semakin parah.


__ADS_2