
Sari menatap Rival tidak habis pikir, bisa-bisanya Rival mengabaikan dirinya.
"Kan udah gue bilang, maaf!"
"Huh! Pengen tau njitak kepala lo! Sebenernya elo mau ngomong apaan sih? Udah dari tadi lho gue terus nunggu elo buat ngomong. Katanya ada yang mau elo omongin, kalo gitu ngomong dong! Jangan diem kayak gini!" Sari jengkel.
"Gue cuma mau minta maaf sama elo, Sari," kata Rival lagi.
"Heh? Maaf? Untuk apa?"
"Yeah ... karena sikap gue ke elo dan udah bikin elo bete."
"Geh! Baru sadar lo? Baru sadar sekarang ya? Kemana aja lo, payah banget sih!"
"Ya, gue emang payah, dan gue minta maaf karena itu. Elo bener sekarang," ujarnya sembari memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Tiba-tiba Sari berhenti lalu menahan langkah Rival dengan menarik lengannya, hingga membuat Rival berhenti mendadak. Rival terkejut lalu menoleh ke arah Sari, ia heran saat menatap wajah Sari. Seperti ada sesuatu di dalam dirinya, batin Rival.
"Val, kalo elo ada masalah, elo bisa cerita ke gue. Siapa tau gue bisa bantu meski tidak seberapa. Gue pengen tau semua tentang elo, gue pengen jadi bagian dari masalah elo, gue pengen jadi orang yang bisa meringankan beban elo. Jangan elo pendem sendiri seperti ini. Elo tau, itu sangat menyiksa gue, Val," jelas Sari dengan suara bergetar.
"Sari ...."
Masih memegang lengan Rival, Sari kembali melanjutkan, "Gue enggak tau masalah apa yang sedang elo alami, tapi bisakah elo membaginya dengan gue? Gue pengen jadi bagian itu, apapun! Apapun yang akan elo katakan, gue pengen denger semuanya! Jangan lewatkan satu hal pun tentang elo! Gue mohon!" seru Sari.
Rival menatap Sari beberapa saat, lalu kemudian tersenyum di paksakan. Kini ia menepuk kepala Sari pelan.
"Thanks buat bantuan elo, gue hargai itu. Tapi, gue enggak apa-apa kok, Sari, elo enggak perlu khawatir seperti itu, oke?"
"Tapi ...!"
"Elo enggak perlu minta ijin untuk jadi bagian dari gue," kata Rival lirih. "Tanpa gue sadari, elo udah masuk terlalu jauh di kehidupan gue. Elo tau, gue sering kepikiran elo saat elo enggak ada di sekitar gue. Gue enggak tau kenapa, itu terjadi dengan sendirinya. Ya, tanpa sadar gue sering mikirin elo. Mungkin elo bener, kalo gue ini emang enggak bisa jujur sama perasaan gue sendiri," jelasnya kemudian.
"Rival... elo ...."
"Oh, hampir lupa, elo mau enggak ikut gue nonton bandnya Jamal Minggu depan?" tanya Rival, seolah menghindari pembicaraan tadi.
__ADS_1
"He? Bandnya Jamal?"
"Hmm ... band mereka bakal tampil di sebuah acara, terus kemaren Jamal nyuruh gue buat ngajak elo. Katanya elo juga suka 'kan band-band kayak gitu, itu kata Jamal sih."
"Jadi ... elo ngajak gue karena di suruh sama Jamal doang?" tanya Sari sedikit kecewa.
"Iya, gue di suruh Jamal buat ngajak elo," ucapnya lagi. Kini Rival melirik Sari yang terlihat murung, lalu ia tersenyum. "Tanpa di suruh pun gue pasti ngajak elo kok."
Sontak Sari beralih menatap Rival, terkejut tapi juga senang. Lantas, Sari tersenyum sumringah, entah kenapa ia merasa sangat senang ketika mengetahui kalau Rival sudah jujur padanya.
"Baiklah, gue mau ikut. Minggu depan 'kan?" ujarnya semangat. "Hmm ... jadi, kita udahan nih berantemnya?"
"He, bukankah sejak awal kita emang enggak musuhan, 'kan?"
"Iya juga sih, cuma gue ngerasa aja kalo elo itu sengaja ngediemin gue gitu. Gue kira elo marah sama gue gara-gara gue ikut campur urusan elo. Tapi, gue juga salah sih, karena udah seenaknya bicara tentang elo. Tadi juga, si Mas kafe itu ngira kalo kita ini berantem, di kira kita pacaran pula!" Sari geli ketika mengingatnya, lalu ia tertawa.
"Pacar?" gumam Rival.
"Ho oh, tadi Mas itu mengira kalo kita ini pacaran! Haduh, dia udah salah paham sama kita. Coba aja kalo itu beneran, gue pastinya bakalan ....!"
"Eh, ah, maksud gue tuh bukan gitu ... ini tuh gini, sebenarnya ... gue, gue cuma ....!"
Matilah Sari! Ia gelagapan di depan Rival. Tangannya ikut bergerak ke kanan dan kiri mengikuti suaranya yang tergagap. Bagaimana Sari harus menjelaskannya pada Rival. Salah tingkah pastinya. Bahkan ia tidak berani menatap wajah Rival secara langsung. Akibat dari ucapannya sendiri, sekarang Sari tidak bisa berkata apa-apa lagi. Entah kenapa wajahnya mulai menghangat. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ia tidak berani menoleh sedikitpun ke arah Rival. Sari terlalu malu untuk mengakuinya. Kini ia mencoba untuk tetap tenang.
"Oke. Sekarang kita pulang," kata Rival, dan kini berjalan mendahului Sari.
Di tempat lain ....
Dival baru saja pulang dari tokonya Paman Syahril. Ia di temani oleh Ririn.
"Jadi ... kenapa kita jalan kaki? Motor lo mana?" tanya Dival sembari mengikuti Ririn di belakangnya.
Ia heran kenapa mereka jalan kaki dan bukannya naik motor. Hari ini Dival pulang lebih cepat, karena Paman Syahril ada urusan, jadi toko tutup lebih awal.
"Motor gue ngadat tadi sewaktu mau ke sini, kayaknya dia ngambek deh karena enggak pernah di rawat dan di perhatiin," jawab Sari santai.
__ADS_1
Tadi siang setelah sekolah mereka tidak pulang bersama, makanya Dival tidak tahu apa yang terjadi pada motornya Ririn.
"Woy, apa maksud elo? Elo nyindir gue? Terang-terangan amat!" Dival ngedumel.
"Gue enggak bilang kalo ini karena elo, 'kan?"
"Iya, iya deh. Oh ya, Rin, Minggu depan elo ada acara enggak? Senggang enggak?"
"Ng? Minggu depan? Kenapa emangnya?"
"Temen gue 'kan punya grub band, nah Minggu depan tuh dia bakalan manggung di sebuah acara. Gue di ajak buat nonton penampilan mereka. Kira-kira elo bisa enggak, kita pergi bareng, itu juga kalo lo suka."
"Cuma kita aja?"
"Enggak sih, ada temen-temen gue yang lain juga. Soalnya gue enggak ada yang nemenin sih, hehehe ....!" Dival meringis malu.
"Oke, gue bakalan ikut," jawab Ririn cepat.
"Hah? Serius? Cepet amat jawabnya, tumben amat. Biasanya elo langsung nolak dan banyak alasan kalo gue yang ngajak. Belum lagi biasanya pake marah-marah dulu sama protes, lha ini ...."
"Enggak usah ge-er deh lo, Dival! Gue terima ajakan elo karena emang gue enggak ngapa-ngapain hari Minggu! Jadi jangan salah tangkap deh!" gerutunya.
"Baru juga di omongin, eh udah marah-marah aja. Heran gue sama cewek," gumam Dival lirih.
"Elo bilang apaan?!"
"Enggak! Gue enggak bilang apa-apa kok!" jawab Dival cepat. "Denger aja dia kalo lagi di rasain," lirihnya lagi.
"Gue denger ya barusan elo bilang apa!"
'Ya ampun! Tau aja nih cewek,' batinnya. "Eh, tapi, Rin ...."
"Hmm?"
"Apa elo enggak nyadar akan sesuatu?" tanya Dival yang mendadak serius.
__ADS_1
Ririn heran ketika mengamati wajah Dival.