Triple L

Triple L
Eps 38. Kejujuran Ririn


__ADS_3

Wajah Ririn seketika memanas, mungkin kalau di sentuh akan terasa panas. Karena lebih dari sekedar menghangat. Ririn semakin tercengang mengetahui bahwa Dival mendengarnya.


"A,apa ... elo, elo denger?" suara Ririn terdengar gugup.


"Sangat jelas. Bahkan, saat elo bilang itu, musik yang sedang di bawakan Jamal kalah dengan suara elo. Semuanya seperti lenyap seketika, saat elo mengatakannya."


Ririn terbelalak, kaget.


"Eeeh ... elo enggak mungkin denger 'kan, ya. Soalnya, musiknya kenceng banget tadi, jadi enggak mungkin elo denger ... iya 'kan, ya 'kan!" ujarnya panik. Ririn gelagapan di buatnya, dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ririn!" panggilnya dengan nada tinggi. "Elo, beneran suka sama gue?"


Dival menatap Ririn begitu dalam dan lembut. Entah kenapa saat Ririn menatapnya, ada sesuatu yang lain di dalam diri Dival, dan itu terjadi baru-baru ini. Ririn seperti menyadari sesuatu yang lain. Namun lagi, itu terjadi secara tiba-tiba. Kalau di ingat, Ririn menyadari sesuatu itu sejak Dival mulai bekerja di toko Pamannya. Sejak Dival bekerja di toko Paman Syahril dan sering pulang atau berangkat bersama, rasanya Ririn mulai menyadari kalau ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Di tambah, tiap kali jalan dengan Dival tahu-tahu jantungnya berdetak tidak normal. Dan, saat berbicara dengan Dival, Ririn sering kali merasa gugup, terkadang salah tingkah. Semua itu terjadi secara tiba-tiba, bahkan Ririn pun tidak bisa berbohong. Tidak tahu juga, aneh tapi nyata. Beneran!


Ririn seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia berpikir cukup lama. Terlihat kalau ia ragu-ragu, dan sedari tadi wajahnya terus menunduk. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya pada siapapun. Mungkin, mungkin baru kali ini ia lakukan, dan itu pada Dival.


Ririn memberanikan diri menatap Dival.


"Ugh ... gue juga enggak tau, Val. Apa yang gue rasain ini perasaan suka atau bukan, gue sendiri bingung. Gue menyadarinya baru-baru ini. Enggak tau kenapa, gue sering kali gugup kalo bicara, atau berdua sama elo. Gue juga enggak tau kenapa gue bisa ngerasain hal ini sama elo. Padahal kita tau, kalo kita ini hanya temen. Tapi ... kenapa tiap kali elo enggak ada, di kepala gue hanya ada elo dan elo! Sampai-sampai gue enggak bisa berhenti mikirin elo, dan saat gue sadar, gue udah menaruh hati sama elo. Dival, apa elo percaya, sama apa yang gue omongin?" jelasnya panjang lebar, ia masih menatap Dival.

__ADS_1


"Ririn ...."


"Ah, atau gini aja. Anggap aja gue enggak pernah ngomong apa-apa, ya? Anggap aja gue ini lagi aor, terus gue lagi ngelantur, gitu aja ya? Lagian elo mana mungkin percaya 'kan, apa yang gue omongin. Pastinya elo kaget denger ini dari gue tiba-tiba. Tentunya elo pasti mikir, kalo gue ini lagi bercanda. Ini bukan masalah yang serius kok, jadi jangan di tanggepin omongan gue. Elo lupain aja ya, apa yang gue bilang tadi!" ujarnya lagi sembari mengalihkan pandangannya.


"Ririn! Gue belum selesai bicara!" sergah Dival tiba-tiba, membuat Ririn tersentak. Lalu ia melanjutkan, "Rin, jadi menurut elo, ini enggak penting buat gue?"


"Eh, ah ... apa ... bu,bukan! Bukan gitu, Dival ... hanya saja--!"


"Salah, kalo elo anggap ini enggak penting buat gue, elo enggak tau itu. Ini sangat berarti buat gue, Rin. Apa, elo lagi bercanda sama gue? Atau, elo lagi mempermainkan gue?" tuntutnya pada Ririn.


Ririn mulai panik, "Dival, bukan kayak gitu ... elo salah paham!"


Ririn kembali terkejut, "Enggak, gue enggak bohong, Dival," ucapnya kemudian.


"Lalu, apa?" tanya Dival sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Ririn. "Jelas sekali kalo elo lagi mempermainkan gue."


"Bukan! Gue enggak main-main sama elo! Gue beneran suka sama elo, gue enggak lagi bercanda! Sungguh, gue enggak bohong. Butuh keberanian besar untuk gue buat ungkapin perasaan ini ke elo. Enggak mungkin gue main-main sama perasaan gue. Jadi, gue mohon jangan sebut gue sedang berbohong." jelasnya dengan napas naik-turun serta perasaan yang meluap-luap.


Di luar dugaan, Dival justru tersenyum. Dan, beberapa detik kemudian tertawa lepas. Ia mengamati wajah Ririn yang sudah memerah sejak tadi, entah karena emosi atau malu. Dival merasa kalau saat ini Ririn terlihat sangat lucu dan manis. Dival masih dengan tawanya.

__ADS_1


Kini Ririn melihat Dival bertaut alis, kesal. "Kenapa elo tertawa? Apa yang elo tertawakan? Elo lagi ngetawain gue, iya?!"


Dival belum menjawabnya, ia masih sibuk dengan tawanya. Sebenarnya, ia sudah capek tertawa, tapi karena terlalu geli melihat tingkah Ririn. Sekarang, Dival mencoba menghentikan tawanya setelah melihat wajah Ririn yang di tekuk.


"Oke, sori ... sori. Gue terlalu terbawa suasana, sorilah ...."


Kali ini Ririn benar-benar kesal dan emosi. Tanpa bicara sepatah kata pun, Ririn mendekat lalu menjitak kepala Dival dengan amat keras. Hingga membuat Dival mengaduh kesakitan, belum lagi Ririn juga memukul lengan Dival karena terlalu jengkel.


"Apaan coba! Tadi elo nuduh gue lagi main-main, sekarang malah elo yang main-main dan ngetawain gue kayak barusan! Maksud elo apaan, hah! Serius dikit kenapa sih! Elo pikir gampang apa bilang suka ke cowok? Elo pikir gampang, hah?!" protesnya masih terus menyerang Dival.


Tapi, dengan cepat Dival menangkap tangan Ririn yang terus memukuli lengannya. Dival sudah berhenti tertawa. Kini ia menatap mata Ririn dengan serius. Tangan Ririn masih di pegangnya. Sepertinya masih banyak yang ingin Ririn keluarkan, supaya dirinya puas membalas Dival.


Dengan sebuah senyuman yang sangat sulit di artikan, ia mendekati wajah Ririn.


"Gue juga suka sama elo."


Di rumah Dival ....


Saat ini Dival sedang tidur tertelungkup di kasurnya. Ia masih memikirkan apa yang baru saja ia lakukan terhadap Ririn. Ingatannya tentang kejadian tadi, membuat Dival merasa bersalah dan frustasi. Ia membekap wajahnya menggunakan bantal, lalu berteriak sekeras mungkin. Bahkan, Dival berharap kalau bisa ia mati saja saat ini, dari pada harus bertemu dengan Ririn besok. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kira-kira akan bagaimana jika ia bertemu dengan Ririn setelah kejadian tadi? Apa, dia benar-benar akan di habisi olehnya? Wow, Dival tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Ruli yang tidak sengaja melewati depan kamar Kakaknya, mengintip dari luar kamarnya. Ia melihat Dival tengah berguling-guling di atas kasurnya. Ruli juga mendengar Dival sedang menggumamkan sesuatu yang entah apa itu. Pasti masalah yang tidak jelas lagi. Di sana Ruli geleng-geleng kepala melihat keadaan Kakaknya yang begitu mengenaskan. Sungguh, Kakak yang malang, pikir Ruli.


__ADS_2