
Dian menatap Sari tidak mengerti. "Lalu setelah elo tau semuanya, apa yang akan elo lakuin? Elo bisa apa untuk Rival? Menurut elo, setelah gue cerita semuanya, elo bisa menyelesaikan masalah Rival? Gimana caranya? Elo mau apa? Elo bisa apa emangnya? Lebih baik elo lupain apa yang elo liat kemaren, dan berpura-puralah seolah tidak terjadi apa-apa. Gue udah bilang, Rival paling enggak suka di kasihani sama orang lain, apa lagi itu orang yang baru datang di kehidupannya," jelas Dian lagi.
"Gue emang enggak tau apapun soal Rival, tapi gue ngerasa kalo Rival itu selalu memaksakan diri hidup seperti itu ...."
Dian membalas lagi, "Elo jangan pernah, atau jangan berani mengusik kehidupan Rival. Lebih baik elo tetep diam seperti biasanya, anggap aja enggak terjadi apa-apa dengan Rival. Gue pun begitu, gue enggak pernah mencampuri urusan Rival, maupun keluarganya. Makanya, gue sama Rival sampe sekarang baik-baik aja."
"Jadi, elo juga tau masalah yang sedang di hadapi oleh Rival? Tapi, elo pura-pura enggak tau? Elo ini sahabatnya Rival bukan sih? Elo enggak peduli sama Rival?!" Sari terkejut mendengarnya.
"Itu lebih baik dari pada gue ikut campur urusan pribadi Rival, yang ada entar gue salah kaprah karena sok tau!"
"Itu namanya elo enggak peduli! Sama aja elo itu egois! Elo enggak peduli sama Rival, sementara elo tau masalah yang sedang di hadapi Rival! Temen macam apa elo ini! Elo udah mengabaikan Rival dengan berpura-pura enggak sadar akan masalah Rival!"
"Udah gue bilang, itu akan lebih baik kalo kita jangan sampe ikut campur urusan Rival!" Dian tak mau kalah.
"Itu artinya elo itu enggak punya perasaan sama sekali! Elo sadar enggak sih! Kalo elo peduli sama Rival, buktikan! Bukan dengan cara elo pura-pura enggak liat masalah Rival! Itu namanya elo enggak punya hati! Enggak punya rasa empati sama orang lain!!" emosinya sudah tidak bisa di bendung lagi. Ia geram terhadap Dian.
"Hei, hei! Kenapa elo yang malah emosi?!" sergah Dian, ia benar-benar tidak paham dengan Sari.
"Jelas gue marah, gue emosi! Karena elo bersikap seolah enggak tau apa-apa! Gimana gue enggak marah setelah tau, kalo ternyata elo juga tau masalah Rival! Apa yang ada di dalam otak elo sih?!" Sari sudah emosi.
"Buset nih cewek, mending elo diem deh. Elo udah salah paham kalo elo nuduh gue enggak peduli sama Rival! Elo itu cuma orang baru di sini, jadi jangan bicara seolah-olah elo tau semuanya!"
"Elo ini sebenernya ....!" Sari hendak mulai lagi, tapi mendadak Rival muncul.
__ADS_1
"Kalian berdua!" seru Rival dari depan pintu kelas. Ia tengah memperhatikan Sari dan Dian sembari menyilangkan kedua tangannya di depan. Lalu Rival masuk dan berjalan kembali ke mejanya melewati mereka. Ia melirik Sari beberapa detik.
"Rival, gue ....!" Sari gugup.
"Kalian enggak ada kerjaan lain selain ngomongin orang?" tandas Rival datar.
"Bukan, Rival ... gue cuma ....!"
Kalimat Sari terhenti ketika tangan Dian mencegah supaya Sari tidak berkata lebih jauh lagi, terlebih setelah melihat perubahan raut wajah Rival saat ini. Sari sempat heran saat Dian menahannya dan menyuruhnya untuk kembali ke mejanya. Walaupun Sari tidak mengerti, tapi ia tetap menuruti intruksi dari Dian. Akhirnya, Sari kembali ke kursinya tanpa bertanya lagi. Setelah Rival kembali ke kelas, Dian maupun Sari tidak ada yang berani berbicara, begitu juga dengan Rival yang terus berdiam diri dan tidak menggubris mereka sama sekali.
Dan keadaan itu terus berlanjut sampai istirahat, bahkan sampai pulang sekolah. Rival tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Selain itu Rival juga mengacuhkan Sari seharian ini di sekolah. Ia tidak berbicara dengan Sari sepatah kata pun
Lain halnya dengan Rival. Di tempat lain, Dival terlihat baik-baik saja dengan pekerjaan barunya tersebut. Jadwal Dival setelah selesai sekolah adalah pulang ke rumah untuk ganti baju lalu berangkat ke tokonya Paman Syahril. Terkadang Dival juga langsung meluncur ke toko bareng Ririn. Mungkin ini adalah momen yang di tunggu oleh Dival sejak lama, yaitu pulang bersama Ririn. Dan sekarang keinginannya terwujud sudah.
"Gimana apanya?" Dival berkerut kening.
"Kerjaan elo lah, emang apa lagi. Betah enggak? Masih kuat gak?"
"Hohoho! So pasti dong! Jangan anggap remeh Dival!" ucapnya bangga.
"Bagus deh kalo gitu, jadi gue enggak perlu khawatir sama elo."
Dival berharap kalau ia salah dengar, "He, elo khawatir sama gue?"
__ADS_1
Ririn beralih menatap Dival, "Enggak usah mikir berlebihan, gue cuma khawatir elo jadi kesenengan kerja sedangkan sekolah elo lupain gitu aja! Gue enggak rela lah, kalo elo sampai lupa siapa elo, dan gue jadi mikir sebaiknya ini kerjaan enggak gue kasih ke elo!"
"Kok gitu?"
"Ya jelas lah gue enggak rela, elo kerja terus dan akhirnya lupa tuh sama sekolah!" Ririn keki.
Dival meringis geli, "Yaelah, Rin, elo tenang aja. Gue masih tetep satu tujuan kok, yaitu sekolah. Mana mungkin gue lupa gara-gara sibuk sama kerjaan gue ini. 'Kan gue udah bilang sejak awal, gue kerja karena cuma pengen dapetin uang jajan gue doang. Buat seneng-seneng aja. Kalo gue beneran lupa sama kewajiban gue sebagai pelajar, yang ada kasihan emak gue dong!" jelas Dival panjang lebar.
"Hah ... syukur deh kalo elo masih sadar sama usaha, kerja keras orang tua elo. Gue kira yang elo pikirin cuma utang-utang elo doang!"
"Bisa aja lo, Rin. Eh, tapi ngomong-ngomong soal utang nih ya, gue 'kan pernah janji sama elo buat nraktir ya. Jadi, kapan nih gue bisa ajak elo makan. Gue yang traktir!" ujar Dival semangat
"Huh, gaya lo mau traktir gue. Emangnya elo punya duit berapa, hah?"
"Ng ... saat ini belum ada sih, tapi bentar lagi 'kan hampir satu bulan gue kerja di toko Paman elo. Jadi, tinggal nunggu cair tuh gaji gue!" Dival cengengesan sendiri karena saking senangnya.
"Cair, gaya lo udah kayak pekerja kantoran aja nungguin gajinya cair! Gaya lo ngalahin pekerja kantoran tau enggak!" ucap Sari sambil tertawa.
"Kan gue cuma mengekpresikan apa yang gue rasain sekarang, emang enggak boleh gue bahagia sedikit," kata Dival pasang muka kusut.
"Ya, ya, ya! Terserah elo mau bilang apa. Gue nyerah deh," Sari angkat tangan. "Oke, kalo elo mau bayar utang elo ke gue, gue bakalan nunggu. Tapi, mahal lho ya kalo mau traktir gue," candanya pada Dival.
Sepertinya keadaan Dival akan baik-baik saja. Selain ia bisa menghasilkan uang jajan dengan usahanya sendiri, Dival juga bisa sekalian dekat dengan Ririn. Sungguh rezeki memang tidak akan lari kemana!
__ADS_1