
Sari hampir tidak bisa percaya, bahwa yang ada di depannya ini adalah Rival, teman masa kecilnya. Kenapa, ia begitu berbeda. Kenapa, ketika Sari menatapnya, seolah Rival itu orang lain. Ada apa dengan dirinya. Apa, Rival benar-benar sudah berubah. Apa, dia bukan Rival yang dulu ia kenal.
"Jangan pernah elo ikut campur urusan gue," Rival mengulangi kalimatnya. Kali ini terdengar lebih dingin.
Benar, itu bukanlah Rival yang ia kenal, pikir Sari.
"Rival!" kini Mama yang memanggilnya. "Mama cuma mau bicara sama kamu, tidak bisakah kamu memberi Mama waktu untuk menjelaskan semuanya? Apa segitu bencinya kamu terhadap Mama, sampai kamu begitu dingin sama Mama!"
Rival diam menatap Mamanya dingin.
"Mama cuma minta waktu kamu sebentar untuk meluruskan masalah ini. Mama tidak mau kamu terus-terusan melihat Mama seperti ini. Mama ingin merubah semuanya. Mama ingin memulainya dari awal lagi. Rival, Mama mohon, ijinkan Mama untuk bicara sama kamu. Kasih Mama kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tolong, Mama mohon, Rival."
Rival masih diam tidak bereaksi.
"Rival ... bisakah, Mama bicara sama kamu dan dekat denganmu? Mama begitu tersiksa melihat kamu selalu dingin seperti itu terhadap Mama. Rival ... bisakah Mama menyentuh kamu lagi, memeluk kamu ...." ujarnya perih, kini air matanya tidak dapat di bendung lagi. Seketika air matanya jatuh membasahi pipinya.
Rival masih belum membuka mulutnya. Ia bungkam.
__ADS_1
"Rival, Mama mohon, bicaralah. Katakan sesuatu pada Mama, jangan diam saja. Tolong, Rival ...." tangisnya pecah saat itu juga, dan ia tertunduk di lantai.
Sari yang menyaksikannya pun merasa iba dan kasihan terhadap Mamanya Rival. Seharusnya, Sari tidak melihat hal ini. Harusnya, ia tidak berada di sana dan melihatnya. Tapi, tidak tahu kenapa, ia merasa marah di dalam dirinya.
"Rival! Apa elo mau diem aja? Katakan sesuatu dong, Mama kamu udah mencoba memperbaikinya dengan mengajak elo bicara. Setidaknya beri kesempatan Mama elo untuk bicara! Ada yang ingin di sampaikan sama Mama elo! Elo ngerti enggak sih, sikap elo itu sungguh memuakkan. Kalaupun elo enggak mau bicara banyak, sebaiknya katakan sesuatu dan jangan diam aja! Elo kekanak-kanakan banget tau enggak. Elo itu enggak bisa mikir apa?" sergah Sari yang mulai emosi.
Rival hanya mendengus melihat Sari, lalu tanpa berkata apa-apa, Rival meninggalkan dapur dengan perasaan kesal yang sedari tadi di tahannya. Pikiran dan perasaannya bercampur aduk setelah meninggalkan Sari dan Mamanya di dalam. Entah ungkapan apa yang paling tepat untuk perasaannya saat ini. Kata apa yang paling tepat untuk keadaannya kini dan tidak tahu, apakah yang Rival rasakan saat ini itu adalah yang sebenarnya. Atau, ia hanya berusaha menghindar saja. Semuanya terasa begitu menyedihkan dan menyesakkan dada. Tapi, yang jelas, yang bisa di katakan Rival saat ini tentang perasaannya adalah ....
"Jadi ... ini yang namanya kabur dari rumah? Sampai sini doang?"
Tiba-tiba suara Sari sudah ada di belakangnya. Ternyata Sari mengejarnya. Benar, Sari tepat berada di belakangnya. Lantas, Rival pun menoleh padanya. Ia semakin kesal saja di buatnya. Lalu, tanpa meminta persetujuan dari Rival, Sari duduk di bangku yang juga sedang di duduki Rival. Kini ia duduk bersebelahan dengannya. Rival masih berdiam mencoba untuk tidak memperdulikan keberadaan Sari. Ia tahu kalau Rival masih kesal dan marah padanya.
Hampa. Inilah ungkapan yang tepat untuk Rival saat ini setelah ia meninggalkan rumah.
"Rival, gue minta maaf, kalo gue udah lancang masuk ke rumah elo tanpa ijin lebih dulu. Gue enggak ada maksud mau bikin elo marah ataupun kesal. Gue cuma pengen liat keadaan elo aja, enggak lebih. Gue masuk ke rumah elo juga, karena gue udah dapet ijin dari Tante cantik. Dan, Tante enggak keberatan kalo gue gunain dapurnya."
Kosong. Lebih tepatnya kekosongan yang ia rasakan ketika kakinya keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Tapi, kalo elo masih marah enggak apa-apa sih, gue bisa terima, asalkan elo mau berjanji dan mau memulai berkomunikasi dengan Mama elo. Mungkin, Tante cantik bakalan seneng, kalo elo mau ngobrol dengannya. Itu juga berlaku untuk gue. Gue akan sangat berterimakasih kalo elo mau mendengarkan penjelasan Tante, meskipun hanya sebentar."
Bereaksi, otak dan mata Rival mulai bereaksi sembari beralih menatap Sari yang masih berbicara, padahal jelas dirinya tidak menghiraukan Sari. Tapi ... lagi, perasaan Rival kembali bingung dan gundah. Terasa berat.
"Elo tau, Rival ... seberat apapun masalah yang elo hadapi, akan terasa ringan kalo elo mau membicarakannya dengan seseorang. Meski orang itu tidak pernah memperdulikan elo sama sekali, atau bahkan elo enggak percaya sama orang itu. Elo tau, yang gue maksud itu adalah gue sendiri, Rival. Dan, Mama elo."
Rival terus memperhatikan Sari yang masih berbicara sembari menatap jauh ke depan.
"Seorang teman berkata sama gue. Kalo elo ini masih memikirkan bagaimana perasaan Vikal, bagaimanapun elo melihat keadaan Tante cantik. Elo masih peduli dengan Vikal meski sebenernya elo sendiri enggak peduli dengan diri elo sendiri. Elo selalu melakukan semuanya tanpa pikir panjang, dan berbuat semaunya, tapi sebenernya elo itu tetep peduli. Elo masih peduli terhadap perasaan yang elo miliki. Rival ... elo masih bisa berpikir jernih jika itu berhubungan dengan adik lo, bener 'kan? Perasaan elo terhadap Vikal itu, bukanlah sebuah kebohongan saja 'kan?"
Sari, kenapa dia berkata seperti itu. Dan, kenapa wajahnya berubah menjadi begitu, sedih ....
"Maaf, tapi gue udah tau semuanya dari Vikal. Dia udah cerita semuanya sama gue, apa yang terjadi sama elo dan Tante. Maaf, kalo gue udah lancang dengan mengorek masalah elo, dan ikut campur urusan pribadi elo."
Sari ... apakah dia tahu apa yang di rasakan Rival? Bisakah, Sari merasakan apa yang di rasakan Rival saat ini? Bisakah ....
"Selain taman ini yang berubah, ada juga yang berubah setelah gue pergi. Banyak yang berubah dari ini semua, yang enggak gue ketahui, termasuk elo, Rival. Saat ini gue enggak tau apa-apa tentang elo ...." Sari masih melanjutkan,
__ADS_1
"... ada yang mengatakan, sejauh apapun, sejauh manapun elo pergi, tempat pertama yang akan elo ingat adalah rumah. Seberapa jauh elo mencoba pergi, hal pertama yang akan elo ingat adalah rumah, keluarga dan orang-orang di sekitar elo. Pada akhirnya, sejauh apapun elo berusaha lari dan menghindarinya, elo tetap akan balik ke tempat semula, yaitu keluarga. Karena pada dasarnya, keluargalah tempat yang akan elo singgahi."
Entah kenapa Rival merasa tidak berguna saat ini.