
Malamnya Rival memenuhi jawabannya yang akan ikut makan bersama keluarganya. Saat itu dalam diam Rival menarik kursi lalu duduk. Tidak banyak bicara, Rival hanya berkata sekenanya jika di tanya, dan selanjutnya hanyalah keheningan yang tersisa. Selama makan berlangsung, Rival lebih banyak diam dari pada memakan makanan yang sudah di siapkan oleh mamanya. Entah kenapa rasanya Rival tidak bisa memakan makanan yang ada di depannya kini. Apa itu karena suasananya yang terlihat kaku dan berbeda dari biasanya? Apa karena mereka saat ini tengah berkumpul? Saat ini yang terlihat di depan mata Rival adalah, Rival melihat sebuah keluarga yang utuh, lengkap dan sempurna. Ia melihat kedua orang tuanya bergantian lalu melihat Vikal, rasanya terasa begitu hangat dan menyenangkan. Mendadak Rival merasakan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Melihat keluarganya berkumpul seperti ini—satu meja membuat Rival membuka matanya.
Apa ini, yang selama ini hilang darinya? Apa ini, yang selama ini coba Rival hindari? Atau malah sebaliknya, Rival mengharapkan suasana seperti ini? Apakah ini keinginan Rival di balik kata-katanya yang selalu mengatakan kalau Rival tidak ingin lagi peduli? Apakah ini, yang sebenarnya Rival inginkan di sini? Apakah benar ini? Lagi-lagi tangan Rival bergetar. Dadanya terasa sakit dan sesak. Rival menunduk sembari memegangi kedua lututnya yang terasa lemas menahan beban perasaannya. Seluruh tubuhnya bergetar akibat menahan sesuatu yang sangat berat. Sakit, sesak, dan begitu menyakitkan.
*****
Di sekolah Rival tengah duduk bersama Dian sembari menunggu bel masuk. Sejak berangkat ke sekolah, mereka terus berada di dalam kelas. Saat ini entah apa yang sedang Rival bicarakan. Mungkin saja Rival sedang membicarakan para mantannya. Karena tiba-tiba saat itu Dian bertanya pada Rival. Berapa mantan pacarnya. Masih ingatkah siapa saja namanya. Bagaimana kabar para sang mantan dan berapa jumlah mantannya saat ini. Tentu saja Rival menjawabnya sambil tertawa iblis, seolah ia sangat bangga dengan cap playboy nya itu. Tapi, saat itu Dian bertanya lagi.
"Tapi, Rival ... kalo gue perhatiin nih ya, akhir-akhir ini elo jarang banget buat nyari mangsa baru. Apa yang terjadi sama elo? Biasanya elo nyari mangsa baru kalo mangsa yang lagi elo incar enggak kena. Lha ini, elo itu udah lama enggak semangat kayak biasanya kalo elo dapet penolakan. Biasanya mah kalo elo gagal, elo bakalan lebih berkobar lagi."
"Hmm?" Rival hanya bergumam. Ia sendiri juga bingung. Benar juga apa yang di katakan oleh Dian. Sudah lama sekali dirinya tidak mencari mangsa baru untuk di jadikan mantan. Atau lebih tepatnya sudah tidak minat lagi untuk mencari incaran baru.
"Kenapa? Apa ada yang udah bikin elo kalah telak? Atau elo jadi naksir cewek beneran? Ooh, apa jangan-jangan elo udah tobat jadi playboy?" tanya Dian semakin penasaran. "Kalo gue inget-inget sih, elo juga enggak pernah cari mangsa lagi setelah elo di bantai habis sama si Sari. Iya, waktu itu elo udah di babat habis sama tuh cewek sampai elo bener-bener K.O."
Rival melirik tajam pada Dian, namun ia tidak berkata apa-apa. Tapi berkat Dian, Rival mendadak mengingatnya. Benar juga, kalau di pikir-pikir Rival tidak lagi mencari makanan baru setelah di banting oleh Sari saat hari pertama ia masuk sebagai murid pindahan. Sejak kejadian yang memalukan itupun membuat Rival tidak bersemangat lagi untuk mencari calon mantan. Sejak saat itu juga Rival sering di ganggu oleh Sari. Di tambah lagi Rival mengetahui kalau Sari adalah Nano—teman masa kecilnya dulu. Itupun Sari yang lebih dulu mengingatkannya. Ah sial! Jadi benar, sejak Sari datang di kehidupannya membuat Rival berhenti menjadi cowok playboy. Apa karena Sari, Rival tidak lagi berniat mencari calon mantan? Berhenti mencari mangsa lagi? Tidak tahu kenapa sejak Sari hadir, tanpa sadar Rival berhenti dengan sendirinya. Sialan!
*****
"Val? Dival?" panggil Ririn pada Dival.
"Ng?"
"Elo kenapa molor di kelas? Udah mau bel lho ini, bangun deh," kata Ririn mencoba membangunkan Dival.
"Apaan sih ... gue pusing banget nih dari kemaren," jawabnya lesu.
__ADS_1
"Kenapa? Tumben banget elo kayak gini. Belum makan kali, iya?"
"Enggak tau deh, Rin. Oh ya, anterin gue ke UKS yuk. Gue takut pingsan di sini," ujar Dival sambil merenges, lalu bangkit berdiri.
"Kalo elo ke UKS sama gue dan elo malah pingsan yang ada tambah gawat!"
Dival bingung, "Kok?"
"Iya, kalo elo mendadak pingsan di jalan, siapa yang bakalan gotong elo!"
"Ya udah jelas elo lah," celetuk Dival yang kemudian tertawa.
"Dih, ogah! Elo pikir elo seberat apaan coba, hah!" seru Ririn kesal.
"Dival, elo beneran sakit?" tanya Ririn hati-hati.
"Elo pikir gue bercanda ya," jawabnya sembari menutup matanya yang terasa berat.
"Ya gue kira cuma bohongan. Siapa juga yang percaya kalo seorang Dival bisa sakit," balas Ririn. Lalu, ia memperhatikan Dival. "Hmm, Dival? Elo udah tidur? Cepet amat."
Benar, Dival sudah tertidur. Dan wajahnya terlihat begitu kelelahan. Ririn memperhatikan wajah Dival beberapa saat. Napasnya terlihat tidak teratur. Melihat Dival membuat Ririn mendadak menjadi cemas. Lantas, ia pun menyentuh kening Dival. Terasa panas.
"Dival, ini mah elo beneran sakit. Elo pasti kecapaian, kena demam 'kan jadinya. Di bilangin ngeyel sih elo, udah di suruh kalo capek tuh enggak usah masuk kerja dulu malah enggak mau dengerin. Bener-bener deh elo ini, bikin khawatir aja. Segitunya pengen dapet uang buat jajan ya?" keluhnya pada Dival. Tapi, dalam hatinya Ririn merasa cemas dan khawatir akan keadaan Dival.
Dival masih tertidur.
__ADS_1
"Ya udah deh, lebih baik elo istirahat aja di sini. Kalo gitu gue balik ke kelas aja kali ya, gue enggak mau ganggu Dival istirahat." Kata Ririn pada dirinya.
Lalu, Ririn hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba ia terkejut ketika merasakan kalau tangannya di pegang oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Dival. Ririn yang terkejut kini beralih menoleh, ia melihat Dival membuka matanya dan sekarang sedang menahan tangannya.
"Eh, Dival? Kenapa elo bangun? Udah, elo tidur aja sih di sini ya. Entar biar gue bilangin ke Bu Risti kalo elo lagi sakit."
"Enggak ... bukan itu," ucap Dival dengan napasnya yang tidak teratur akibat demam.
"Terus?" Ririn bingung. "Elo itu kena demam, sekarang mendingan elo istirahat aja, oke? Gue sekalian panggilin Guru UKS nya buat nolongin elo, ya."
"Tunggu ... tungguin gue sebentar di sini, sampai bel masuk, ya? Please, temenin gue sebentar aja, di sini ... Ririn," mohonnya lemas.
Ririn bingung tapi ia juga sebenarnya tidak tega meninggalkan Dival sekarang ini. "Ya udah, gue temenin elo. Tapi elo beneran kudu istirahat ya," pintanya tegas.
"Oke. Siap!" jawabnya sambil tersenyum di paksakan.
Tapi, ada satu masalah untuk Ririn selain ia harus menemani Dival di UKS sendirian, dan masalah itu adalah, bahwa Dival masih terus menggenggam tangan Ririn sambil tidur. Berkat Dival, Ririn jadi kalang kabut. Takut kalau ada anak-anak yang melihatnya. Ia takut ketahuan saja dan pastinya bakalan malu sekali. Mana di UKS hanya ada mereka berdua saja, 'kan seram.
'Tapi, enggak apa-apa 'kan ya kalo cuma nemenin Dival aja?' batin Ririn. Dan juga, dari tadi detak jantungnya tidak mau tenang sedikitpun.
"Elo enggak udah panik kayak gitu, Ririn ... gue cuma minta di temenin sebentar doang kok. Selain itu enggak bakal ada yang dateng ke UKS pagi-pagi kek gini," kata Dival di tengah-tengah tidurnya.
Ririn bertaut alis memperhatikan Dival yang jelas-jelas sedang tidur. Tapi kenapa ucapannya tepat mengenai sasaran. Karena sejak tadi Ririn merasa tidak tenang. Dan juga kenapa bisa Dival bicara seperti itu di saat dirinya tengah tidur. Apa ini efek dari demam, pikir Ririn. Ah iya, Dival memang demam, bahkan telapak tangannya terasa panas.
*****
__ADS_1