Triple L

Triple L
Eps 17. Story


__ADS_3

"Oh itu, benar juga. Gue mau tanya, emang ada apa kenapa kalian bisa terlibat keributan itu? Ini, gue bisa tau masalah ini dari Guru gue. Katanya ada anak sekolah gue yang enggak sengaja liat kalian di kafe, lebih tepatnya gue belum tau apapun," kata Jamal.


"Kalo itu sih, kemaren enggak sengaja waktu kita pergi, kita ketemu sama si itu lho, band yang juga punya aliran kayak kita. Si Banar sang ketua band itu enggak sengaja nabrak Dico, nah dari situ semuanya bermula. Dico enggak terima tuh karena udah di tabrak Banar, dia emosi. Padahal Banar udah minta maaf sama Dico, dan bilang kalo dia enggak sengaja, tapi Dico tetep enggak mau denger penjelasan Banar. Dasarnya emang Dico emosian dan enggak bisa nahan emosi, jadinya ya mereka ribut di sana," jelas Ares menceritakan dari awal.


"Waktu itu kita juga udah berusaha nyegah supaya Dico jangan sampai emosi. Eeeh ... belum sempet kita berhasil menahan Dico, apa yang kita khawatirkan beneran kejadian. Tanpa pikir panjang Dico langsung mukul si Banar. Seperti itulah kira-kira," imbuh Erik.


"Lalu, bagaimana dengan Banar? Dia bilang apa, dia enggak apa-apa 'kan?"


"Dia mah enggak bilang apa-apa, justru dia yang minta maaf sama kita semua waktu itu. Enggak nyangka aja dia bakal slow respon sama kita meskipun Dico usah bikin ulah, gue kira Banar bakal nyerang balik karena udah kena pukul Dico," kata Arik memberitahu.


"Ho oh ya, waktu itu gue juga ngira kalo dia bakal ngebales Dico, tapi ternyata asumsi kita salah. Nyatanya dia malah minta maaf tanpa membalas dengan kekerasan. Padahal kita tau jelas-jelas yang salah itu Dico," kata Erik takjub.


Jamal tersenyum mendengarkan cerita teman-temannya. "Jadi karena itu kalian semua terlihat keributan. Gue kira kenapa, tapi beruntung orang itu adalah Banar, coba kalo orang lain yang punya watak seperti Dico dan sama-sama punya sifat emosi yang enggak bisa di tahan, pastinya bakalan terjadi adu jotos. Tapi selanjutnya, lain kali kalian harus hati-hati dan kalian harus lebih memperhatikan Dico. Gue cuma enggak mau kejadian waktu itu terulang lagi dan mengharuskan kalian berurusan dengan polisi. Gue takut terjadi apa-apa dengan kalian karena masalah yang tidak kalian buat. Kita ini masih jauh dari kata melibatkan diri dengan polisi. Jangan sampai hal itu terjadi pada kita semua."


"Ah, kalo soal kasus itu, gue rasa Dico emang udah kelewatan. Kita enggak tau apa masalahnya, entah setan dari mana yang udah merasuki Dico, hingga dia nekat menusuk Jingga. Waktu itu gue jadi mikir kalo Dico itu cemburu liat Jingga lagi jalan sama pacarnya," ujar Ares yang mendadak berubah raut wajahnya.

__ADS_1


"Iya, dan gara-gara itu kita semua di interogasi sama polisi. Kita di mintai keterangan, karena waktu itu kita semua lagi kumpul bareng. Gue juga enggak tau kenapa Dico bisa bawa pisau lipat itu dan dapat dari mana, heran gue!" tambah Arik.


"Makanya, mulai sekarang kita harus lebih memperhatikan Dico. Jangan sampai hal itu terjadi lagi. Kita saling mengingatkan jika ada yang berbuat salah, jangan sungkan memberi saran. Jika ada yang ingin kalian sampaikan, langsung bilang saja. Gunanya punya temen dalam satu band itu untuk saling berbagi dan sharing pikiran kita, supaya kita enggak terpecah-belah," jelas Jamal.


Dulu, beberapa bulan yang lalu, mungkin sudah hampir satu tahun. Band Jamal memang pernah terlibat urusan dengan polisi. Waktu itu terjadi insiden penusukan yang di lakukan oleh Dico, sehingga mereka semua di ringkus lalu di interogasi di kantor polisi. Mereka yang hanya menyaksikan kejadian itu di kenakan sanksi. Sementara Dico mendapat hukuman tiga bulan masa percobaan, alasannya adalah karena ia masih di bawah umur, dan juga ia di kenakan sanksi atas kepemilikan benda tajam. Selain itu ia juga merupakan tahanan bebas bersyarat, usai tiga bulan bebas Dico masih punya kewajiban untuk melapor, dan juga tetap dalam pengawasan.


*****


Beberapa hari setelah kejadian di mana Rival sudah memperlakukan Sari dengan tidak pantas, kini sikap mereka berdua di kelas maupun di lingkungan sekolah menjadi canggung, dan tidak nyaman. Kini sikap Rival juga tidak seperti biasanya. Ia menjadi lebih pendiam dan bahkan terkadang menjadi emosi tanpa sebab. Misalnya saat di tanya Dian mengenai rencananya yang katanya ingin mendapatkan si anak baru. Tapi bukan jawaban yang Dian dapatkan, melainkan muntahan emosi dari Rival.


"Apaan sih! Berisik banget! Enggak penting urusan sama cewek kayak dia!" Rival emosi.


"Berisik! Enggak usah bahas cewek itu lagi deh! Senep gue denger nama dia! Udahlah, gue mau tidur dulu! Mending gue tidur siang dari pada mikirin cewek batu itu!"


"Lah, napa elo jadi emosi kayak gini. Ah, gue tebak, pasti elo gagal 'kan ngerayu si anak baru itu, iya 'kan?" ledeknya.

__ADS_1


"Diem lo! Mau gue gantung di pohon kelapa lo, hah?!"


"Dih, marah dia kek anak kecil, huh!"


Sepertinya telah terjadi perubahan pada diri Rival setelah ia di bantai habis oleh Sari beberapa hari yang lalu. Sepertinya, semua yang di ucapkan Sari tentang dirinya benar-benar sudah merubah kepribadian Rival. Bahkan keadaan Rival sekarang menjadi sangat berantakan. Benar yang di katakan Dian, bahwa Sari lah yang akan membantai dan menjatuhkan Rival lebih dulu, bahkan sebelum Rival berhasil melakukannya.


*****


Sementara kehidupan Dival, sepertinya ia mulai belajar beradaptasi dengan kegiatan yang baru saja ia dapatkan. Selain kesehariannya adalah sekolah, ia juga sudah mulai bekerja di toko milik Paman Syahril. Sudah hampir satu minggu Dival bekerja di sana dan sepertinya Dival menikmatinya. Selain itu ia juga mendapat kemudahan, karena ia di ijinkan oleh orang tuanya bekerja di toko Pamannya Sari. Orang tua Dival tidak mempermasalahkan hal itu selama Dival mengingat bahwa dirinya adalah seorang pelajar. Bagaimanapun, Dival masih jauh dari kata pekerjaan untuknya saat ini, karena yang lebih penting saat ini adalah belajar dan sekolah. Pekerjaan ini hanyalah sekedar untuk refreshing saja. Orang tua Dival sama sekali tidak memaksa Dival untuk terus menuruti semua keinginannya untuk menjadi anak yang penurut. Mungkin, baginya pekerjaan ini akan membuat Dival lebih bersemangat, ia juga sangat menyukai pekerjaannya ini.


Selain itu, Dival berkata kalau uang gajinya akan ia gunakan untuk keperluannya dan juga jajan. Setidaknya, Dival sudah mau berusaha mencari jalan keluar untuk uang jajannya. Dan juga setelah Dival mendapatkan pekerjaannya itu, terkadang Ririn mampir ke rumah Pamannya. Juga mereka sering pulang bareng. Hampir setiap ada waktu mereka berdua pulang bersama. Sampai-sampai Ruli berkomentar mengenai mereka yang sering terlihat pulang bersama.


"Cieee ... sekarang udah terang-terangan nih ye pulang bareng terus. Apa, Kak Dival udah jadian sama Kak Ririn?"


Dan biasa, tanggapan Dival. Sebenarnya Dival sangat jengkel tiap kali Ruli berkomentar tentang hubungan antara Dival dan Ririn. Ruli selalu saja ingin ikut campur. Saking geramnya Dival hanya bisa diam menahan kekesalannya. Dari pada tidak ada habisnya kalau adu mulut dengan adiknya.

__ADS_1


Selain mereka berdua yang terlihat ada yang baik-baik saja dan ada yang kacau. Setidaknya mereka memiliki kehidupan dan keseharian yang menurut mereka menarik baginya. Tidak masalah selama mereka bisa menikmati hari-harinya.


*****


__ADS_2