
Sebenarnya Dian enggan menceritakan masalah Rival pada siapapun, termasuk Sari. Dian pernah berjanji kalau ia tidak akan membocorkan rahasia milik Rival. Tapi, saat berbicara dengan Sari, entah kenapa Dian merasa kesal.
"Saat itu tiba-tiba Rival teringat dengan Vikal, kalo seandainya dia benar memutuskan untuk pergi dari dunia ini, apa yang akan terjadi pada adiknya. Dia masih bisa memikirkan bagaimana nasib adiknya, ketimbang dirinya. Sementara dirinya menderita karena orang tuanya yang terus-menerus bertengkar. Rival itu anak yang baik dan kuat, dia bisa setegar itu menghadapi kedua orang tuanya yang jelas-jelas enggak memperdulikan dirinya dan adiknya. Coba bayangkan jika posisi elo ada di posisi Rival, kira-kira apa yang akan elo lakuin? Pastinya elo bakal pergi dan berusaha lari dari masalah itu, bukan? Itulah yang sedang di lakukan oleh Rival saat ini," jelas Dian sembari menahan air matanya supaya tidak jatuh. Dian kembali melanjutkan,
"Sar, gue bukan enggak peduli sama Rival, gue cuma enggak mau ikut campur urusan Rival. Gue menghargai dia sebagai temen gue, gue selalu support dia. Iya, mungkin elo anggap gue ini enggak punya perasaan atau apapun itu, kalo emang bener, iya, gue salah. Tapi, setidaknya gue enggak mau mengungkit masalah Rival. Dia udah cukup menderita tanpa kita sadari, tiap hari Rival berusaha keras untuk bertahan dan bersikap kuat di depan Vikal. Gue pengen banget dukung Rival, merangkul pundak Rival dan menghibur dia. Tapi, apa yang dia katakan, dia malah tersenyum sama gue, dan bilang kalo dia baik-baik aja, dia bilang gue enggak perlu mencemaskan keadaan dia. Dia bisa bilang seperti itu ke gue, dan sialnya gue tau apa yang sedang di alami Rival. Sungguh, gue ini temen yang enggak bisa di andalkan. Jika Rival sudah berkata seperti itu, enggak ada lagi yang bisa gue lakukan. Gue hanya bisa menjadi temennya seperti biasa. Terakhir dia bilang, dia minta tolong sama gue, dia minta supaya gue tetep jadi temennya, apapun keadaan dia, jangan pernah mencari atau bertanya soal dirinya dan keluarganya. Bersikaplah biasa dengan dia," imbuh Dian lagi. Kali ini Dian benar-benar menangis tanpa ia sadari.
"Kalo Rival udah bicara seperti itu sama gue, kira-kira gue bisa apa? Apa yang bisa gue lakukan untuk Rival? Masih sanggupkah gue buat ikut campur urusan dia?" tanya Dian pada Sari. Sementara Sari diam tidak bersuara sedikit pun hingga Dian menyudahi ceritanya.
Di tempat lain ....
Saat itu Dival dan Ririn masih di kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Sekarang sedang istirahat, tapi mereka berdua tidak ke kantin.
"Dival," panggilnya.
"Hmm?" gumam Dival.
Entah kenapa Ririn terlihat ragu dan gugup saat ingin bicara pada Dival. "Ng ...."
"Kenapa? Elo mau ngomong apaan?"
__ADS_1
Ririn terlihat berpikir lagi, mendadak bingung mau bilang apa, ia tidak tahu apa penyebabnya kenapa tiba-tiba ia menjadi gugup seperti itu di depan Dival. Tidak biasanya Ririn seperti ini. Aneh.
Sedangkan Dival masih menunggu Ririn untuk bicara, tapi lantaran Sari tidak kunjung menjawabnya membuat Dival heran. Kini Dival melirik Ririn yang terlihat sangat gelisah. Kira-kira seperti itulah yang Dival pikirkan saat melihat Ririn. Tiba-tiba Dival mendekatkan wajahnya di depan Ririn. Alhasil Ririn terlonjak kaget gara-gara Dival, hampir saja ia terjungkal dari kursinya. Sementara di sana Dival memperhatikan sikap dan wajah Ririn yang tidak seperti biasanya.
"Sori, Rin, gue enggak bermaksud buat ngagetin elo. Elo enggak apa-apa, 'kan? Kenapa elo diem aja sih, tumbenan amat elo jadi pendiem kayak barusan. Elo ada masalah? Cerita geh sama gue," kata Dival. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Ririn kaget.
"Ng ... itu, gue cuma ... ugh, apa ya, Val. Gue juga bingung mau ngomong apaan ...." ucap Ririn sembari tersenyum salah tingkah.
"Heh, kok?" Dival bertaut alis.
"Enggak tau juga nih. Mungkin elo bener gue lagi ada masalah, makanya gue blank kayak gini." Ririn masih mencari-cari alasan yang tepat untuknya.
"Masalah apa? Elo mau cerita sama gue? Gue siap kok ndengerin cerita panjang lebar elo," canda Dival. Lalu kembali serius.
"He? Elo ngomong apaan emangnya?"
'Aduh! Gue juga bingung mau dari mana mulainya! Gimana sih ini! Kenapa gue jadi kayak gini siiiiiih! Ayolah, Ririn, itu cuma Dival kan? Cuma D-I-V-A-L! Apa yang elo khawatirkan sih! Meskipun elo bilang, enggak bakal ada yang berubah kok! Kenapa gue jadi gugup gini sih! Apa justru karena itu cuma Dival, makanya elo sampe stres gini?!' pekik Ririn kesal. Namun sayang, semua itu hanya ada di dalam benaknya saja.
"Rin? Ririn?" panggilnya, karena Dival heran melihat Ririn melamun.
__ADS_1
Ririn tersadar, "Eh! Ah ... sori, Val, gue ngelamun ya?" ujarnya seperti orang bodoh.
"Elo dari tadi kenapa sih, katanya elo punya masalah dan mau cerita sama gue. Aneh deh, jadi enggak nih cerita?" tanya Dival memastikan.
"Ugh ... gimana ya, Val, gue cuma enggak mau salah paham doang. Gue takut kalo gue salah bicara ... sebenernya gue mau ngomong apaan sih ....!" gerutu Ririn pada dirinya.
"Ririn! Elo kenapa sih, dari tadi aneh banget. Jangan bikin gue takut ah. Gue takut elo beneran stres!" ledeknya.
"Bangke! Gue enggak gila ya! Gue cuma bingung mau ngomong apa enggak, itu aja! Gue timpuk pake pot baru tau rasa lo!" Ririn tambah dongkol.
"Ya habisnya elo aneh amat, enggak biasanya elo gelisah, gugup kek gini." Dival memperhatikan Ririn, "ya udah, elo mau ngomong apa, sini gue dengerin."
Ririn diam sejenak menata napasnya. Di tatapnya Dival beberapa detik, "Sebenernya gue punya masalah, dan ini sangat serius ... tapi, gue juga enggak mau kalo gue sampe salah menyampaikannya ...."
Dival mengangguk mengerti.
"Kenapa gue jadi gugup tuh ada sebabnya.. dan penyebabnya adalah ... elo, Dival ...." kata Ririn pelan. Kalimatnya tersendat.
"Lah, kok gue? Kenapa gue? Emang gue ada salah apa sama elo?" Dival berkerut kening.
__ADS_1
"Pokoknya ini salah elo ....!" katanya lagi, agak kesal. Namun Ririn mencoba mengatur napasnya. "Oke, gue jujur, sebenarnya ini bukan salah elo, tapi gue. Kenapa gue bicara berbelit-belit gini, itu karena ... gue .... suka sama ... elo ...."
Kalimat terakhir Ririn begitu pelan, hingga harus pasang telinga lebar untuk mendengarnya. Tapi, sepertinya pesan tersebut tidak tersampaikan. Karena tepat saat itu bel masuk berbunyi dengan nyaring.