Triple L

Triple L
Eps 6. Rival dan Vikal


__ADS_3

"Kalau kamu belum mau cerita ke saya tidak apa-apa," ujar Pak Zikri sembari merangkul pundak Jamal. Lalu, beliau melanjutkan. "Tidak perlu memaksakan diri buat cerita. Saya paham, jika kamu belum siap untuk ini. Saya akan menunggu dan siap mendengarkan jika suatu saat kamu sudah siap untuk bercerita. Bagaimana?"


Jamal melihat Gurunya itu sembari tersenyum, "Terimakasih banyak untuk pengertian Bapak."


"Sama-sama. Oh iya, apa kamu masih sering main musik? Saya pernah lihat kamu masuk ke sebuah studio bersama beberapa teman kamu."


"Iya. Kadang saya main dan kumpul bareng mereka," Jamal mengiyakan.


"Kalau boleh saya kasih saran, kamu perlu berhati-hati jika bergaul dengan anak-anak seperti mereka. Bukan maksud saya untuk menjelekkan teman-teman kamu, hanya saja, tidak tahu kenapa saya kurang sreg melihat kamu bersama mereka. Di lihat dari penampilan dan sikap mereka, sebaiknya kamu jangan masuk terlalu dalam. Saya khawatir kalau kamu nantinya tiba-tiba berubah," kata Pak Zikri sembari bercanda.


Jamal tersenyum lagi.


"Bapak tenang saja, saya tahu kok mana yang patut saya ikuti dan tidak. Sering kumpul bareng mereka dan main musik rock bukan berarti kita jadi ikut seperti mereka juga. Bapak percaya deh sama saya, saya jamin saya tidak akan berubah menjadi seseorang yang akan mengecewakan Bapak ataupun sekolah ini. Dan percaya sama saya, teman-teman saya itu, mereka semua baik jika sudah mengenalnya. Jadi, Bapak tidak perlu khawatir," jelas Jamal.


Pak Zikri tertawa, "Ya, ya, baiklah. Saya percaya sama kamu. Padahal kalau kamu serius dan tekun, saya rasa kamu bisa jadi orang besar nantinya."


"Terimakasih Pak untuk doanya."


"Lho, memangnya saya lagi mendoakan kamu, ya? Tapi benar sih, apa kata-kata saya barusan terdengar keren?"


"Itu menurut Anda, bagi saya itu biasa-biasa saja," ujar Jamal santai.

__ADS_1


"Oooh, kamu berani meledek saya, ya rupanya!"


Lalu murid serta Gurunya itu pun tertawa bersama sambil berjalan di koridor.


Sore harinya setelah pulang sekolah, di rumah Rival ....


Saat Rival masuk ke dalam rumah, satu hal pertama yang ia rasakan adalah bau asap rokok di dalam ruangan tersebut. Kedua, pasti Mamanya akan menyambutnya. Suatu hal yang pasti terjadi ketika ia pulang sekolah, dan itu sudah menjadi kesehariannya. Sepulang sekolah Rival tidak langsung pulang, melainkan mampir ke warung Internet untuk bermain game online terlebih dahulu, ia tidak suka keadaan dan suasana rumahnya sendiri. Berlama-lama di rumah membuatnya gerah. Untuk itu ia sengaja pulang terlambat.


Begitu kakinya masuk ke dalam ia di sambut oleh Mamanya.


"Rival, kamu sudah pulang?" tanya Mamanya pada Rival. "Kenapa pulang terlambat?"


Bukan jawaban yang ia berikan pada Mamanya, melainkan wajah dingin tanpa ekspresi, kemudian ia berlalu tanpa berkata apa-apa. Diam, Rival masuk ke dalam kamar dan pintu di bantingnya. Itu yang kedua. Lalu yang ketiga, pasti setelah ini terdengar suara sang Ayah keluar dan mulai mengatakan yang tidak ingin Rival dengar lagi. Kemudian akan ada pertengkaran di antara orang tua Rival.


"Lho, memangnya kenapa, toh Rival itu anak laki-laki, dan pada akhirnya semua anak laki-laki itu bakal merokok, apa salahku!"


"Jelas sekali kalau kamu itu salah! Salah karena kamu bertindak tidak pantas di depan anak-anak! Sama saja kamu mengajari sesuatu yang tidak patut untuk di tiru! Terutama di depan Rival, apa kamu mengerti itu?!"


"Ya, ya, aku tahu! Aku bukan mengajari anak-anakku untuk hal yang tidak pantas! Tapi kalau pada akhirnya Rival meniru aku, itu bukan salahku!"


"Apa kamu tidak bisa, barang satu hari saja tidak merokok di rumah? apalagi di depan anak-anak. Dan, apa kamu juga tidak memikirkan kesehatan dampak dari kebiasaan kamu merokok? Apa kamu tidak memikirkan hal itu?!"

__ADS_1


"Sudahlah! Apapun yang terjadi padaku nantinya, itu bukan urusan kamu! Aku suka ini, dan kamu tidak ada hak untuk melarangku! Selama aku menyukainya, ini akan terus berlangsung, dan kamu tidak usah ikut campur apa yang aku lakukan. Berhenti bersikap peduli padaku!"


Pertengkaran mereka masih berlanjut hingga suaranya tidak terdengar lagi oleh Rival, sepertinya orang tuanya sudah pergi dari ruang tengah. Dari dalam kamarnya Rival bisa mendengar dengan jelas suara berisik mereka, dan ia pun menutup telinganya rapat-rapat.


Tidak jauh dari mereka sepasang mata dan telinga tengah memperhatikan dan mendengarkan apa yang orang tuanya itu debatkan. Dengan kaki gemetar serta tangis yang ia tahan, Vikal, Adiknya Rival masih berdiri diam mendengarkan orang tuanya itu bertengkar. Tidak tahan melihat kebiasaan mereka membuat Vikal meneteskan air mata. Vikal tidak sanggup lagi melihat mereka terus seperti ini setiap hari ketika di rumah. Lantas, Vikal beranjak dari tempatnya berdiri lalu bergegas masuk ke kamar Rival tanpa mengetuk pintu. Saat Vikal masuk, Rival agak terkejut karena tiba-tiba Adiknya masuk begitu saja tanpa permisi. Dan yang lebih membuat Rival terkejut adalah, ketika melihat Vikal menangis dan tubuhnya gemetar. Rival yang saat itu melihat Vikal di depan pintu, lantas ia bangkit dari kasurnya dan menghampiri Vikal. Di ajaknya Vikal ke kasur dan menyuruhnya untuk duduk.


"Vikal, elo enggak apa-apa?" tanya Rival khawatir. Ia merasa kasihan melihat Adiknya.


Ia tahu benar apa yang di rasakan Vikal saat ini, itu karena Rival juga mengalami hal serupa. Sakit. Marah, dan perasaan yang meluap ingin keluar, namun tidak bisa mereka lakukan. Mereka hanya bisa memendamnya.


"Kak ... sampai kapan Mama dan Papa bertengkar ... gue, gue enggak mau liat mereka seperti itu lagi ...." ujar Vikal masih dengan suara isaknya.


Rival membuang napas berat, ia merangkul Adiknya itu. "Vikal ... anggap aja elo enggak denger apa-apa seperti biasanya, ya?"


"Enggak bisa, Kak ... gue enggak bisa ... apapun yang gue lakukan untuk berpura-pura tidak mendengar semuanya, itu enggak bisa. Sekeras apapun gue berusaha untuk tidak melihat dan mendengar mereka, tetap saja tidak bisa. Gue tidak bisa terus berpura-pura tidak mendengar apapun yang terjadi saat ini!" jelas Vikal lagi.


"Gue ngerti, tapi elo mau ngelakuin apa, supaya mereka enggak seperti itu lagi? Apa elo punya saran buat gue, biar gue bicara sama orang-orang itu? Kalo elo ada saran, katakan saat ini juga, dan gue bakal bilang ke mereka langsung!"


Vikal tidak membalas perkataan Rival. Memang benar, saat ini Vikal tidak punya saran atau kata-kata yang tepat untuk di katakan pada Rival. Meskipun keinginan besarnya adalah membuat orang tuanya itu kembali akur seperti dulu. Memang, saat ini Vikal belum ada rencana atau sesuatu untuk membuat orang tuanya itu kembali rukun. Karena pada dasarnya Vikal tidak paham apa yang sedang di perdebatkan mereka. Sehingga kebiasaan itu berlangsung hingga saat ini. Apa daya, Vikal masih terlalu cepat, masih terlalu dini untuk ikut campur urusan orang tuanya. Mau sekeras dan sekuat apapun Vikal mencoba mengerti dan memahami apa yang sedang terjadi pada orang tuanya, tetap Vikal tidak menemukan jawabannya. Semua usaha untuk memahami orang tuanya nihil. Kosong.


"Gue tanya sekali lagi, apa elo punya saran buat gue, supaya gue bisa bicara sama mereka agar mereka tidak bertengkar terus-menerus seperti itu. Elo punya saran apa?" tuntut Rival lagi.

__ADS_1


Tapi bukan jawaban yang Rival dapat, justru gelengan pelan dari Vikal. "Gue ... gue enggak tau, gue harus apa untuk mereka. Tapi, kalo untuk terus berpura-pura tidak mendengar apapun ... gue enggak bisa, Kak... gue sudah tidak bisa. Kak ... tolong, tolong bantu mereka supaya mereka enggak bertengkar lagi ...." Vikal memohon.


Rival menatap Adiknya itu, sedih dan bingung. Rasanya sudah buntu seluruh jaringan otak Rival. Ia tidak bisa berpikir lagi.


__ADS_2