Triple L

Triple L
Eps 35. Band Jamal beraksi


__ADS_3

"He? Elo di anggap copet sama Rival? Kok bisa?" tanya Ririn lagi.


"Makanya, gue bilang ceritanya panjang. Pokoknya seru deh pertemuan kita ini."


"Berarti, lain kali kita harus melonggarkan waktu buat dengerin cerita elo yang katanya panjang itu, bener enggak, Sari?" usul Ririn pada Sari.


"Yap! Bener kata elo, Rin!" jawab Sari setuju.


"Udahlah, malah ngomongin itu. Mending sekarang kita tunggu, dan tonton tuh acara. 'Kan itu tujuan kita dateng ke sini, bukan mau ngerumpi. Entar kalo pas Jamal dan personelnya perform, terus kita enggak liat, dia bakalan nanyain gimana penampilan mereka. Sedangkan kita malah ngobrol, bisa gawat kalo ternyata kita enggak nonton mereka," kata Rival memberitahu.


"Ah, bener apa kata Rival. Mending kita nonton aja sekarang, sekalian nunggu Jamal and the band!" sahut Dival setuju.


Mereka berempat mulai memasuki area di mana ada panggung yang akan di gunakan untuk mereka yang ingin konser. Sepertinya banyak yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Bahkan, keadaan di sana sudah sangat sesak di penuhi oleh orang-orang.


Sepertinya, acaranya sudah di mulai, saat ini ada satu band yang tengah perform di atas panggung. Semoga saja mereka tidak ketinggalan menyaksikan penampilan Jamal.


Jika di lihat dari wajah mereka yang menonton band, sepertinya mereka sangat menikmatinya, terutama para anak muda. Meski cuaca saat itu terasa panas, dan terik membuat isi kepala mereka meleleh. Tapi, itu tidak membuat semangat mereka turun sedikitpun untuk menyaksikan band-band tersebut. Rasa panas dan terbakar mereka, bisa di sembuhkan dengan adanya Abang-abang penjual es teh cup di sana yang berkeliling menjajakan minumannya. Jadi, mereka tidak perlu bersusah-payah mencari minuman dingin.


Dan, saat di mana band Jamal mulai naik ke atas panggung untuk gilirannya tampil, Rival dan yang lainnya terlihat begitu antusias untuk menyaksikannya. Mereka bersorak memanggil Jamal untuk memberinya dukungan, apalagi suara Dival yang sangat kencang saat menyoraki band Jamal. Dan, sepertinya Jamal menyadari keberadaan Rival dan Dival di antara kerumunan para penonton, terbukti Jamal memberikan tanda jempol untuk mereka.


Ketika pukulan drum pertama yang mereka bunyikan, sontak membuat para penonton ikut berteriak, seiringan dengan bass, juga alat musik lainnya berdentum dengan keras melalui speaker-speaker besar, membuat para penonton meminta lebih. Di susul dengan suara Jamal yang begitu lantang. Alhasil mereka yang menyaksikan pun ikut berteriak mengikuti suara Jamal, dan musik yang sudah memecah suasana.


Beberapa detik setelah intro, barulah Jamal beraksi dengan gaya rocker nya. Jamal membawakan sebuah lagu yang bergenre rock yang begitu enerjik. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka mengikuti alunan musik rock milik Jamal. Suara keras yang berasal dari speaker besar, membuat sebagian penonton ikut berjingkrak-jingkrak mengikuti musiknya. Mereka sangat menikmati musik keras tersebut, tidak peduli rasa panas dan desak-desakan dengan penonton yang lainnya. Musik rock milik Jamal seolah mengajak para penonton untuk ikut beraksi, suasana benar-benar meriah dan enerjik.

__ADS_1


Tapi, ada satu masalah di antara para penonton, lebih tepatnya pada Dival dan Ririn. Dival yang saat itu tengah menikmati musik rock milik Jamal, tiba-tiba terhenti gerakannya. Dival memang sedang mendengarkan musik rock, tapi rasanya ia baru saja mendengar nada melodi yang begitu lembut di telinganya. Di tengah-tengah riuhnya para penonton yang sedang menyaksikan performa Jamal, tiba-tiba saja Ririn mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Dival bungkam mematung seketika.


"Dival! Gue suka sama elo!" teriak Ririn di antara riuh suara penonton, dan suara musik, serta Jamal yang sedang beraksi. Tapi, dalam hati Ririn berharap, kalau Dival tidak akan mendengarnya.


Suasana kembali tenang ketika Jamal dan personelnya mulai turun dari panggung. Lalu, di lanjutkan lagi dengan band selanjutnya. Setelah Jamal benar-benar sudah turun, Rival dan yang lainnya pun mulai keluar dari kerumunan itu untuk mencari udara segar. Mereka cukup bersemangat untuk sesaat, dan mereka terhibur dengan penampilan band Jamal.


"Gila! Band Jamal keren abis!" seru Sari. "Enggak nyesel gue dateng ke sini liat dia konser! Ternyata mereka semua keren-keren banget! Gue beruntung banget bisa liat di manggung! Dan, mereka sangat, sangat ... wow!"


"Ya, gue enggak nyangka kalo ternyata Jamal dan temen-temennya itu enggak bisa di remehkan! Dia enggak main-main dengan ucapannya yang katanya pengen jadi penyanyi rock terkenal! Gila sih ini, gue salut sama mereka semua!" sambung Dival sambil bertepuk tangan.


"Ya, gue juga salut dan kagum padanya. Ternyata, Jamal enggak setengah-setengah bentuk band itu," kata Rival.


"Kalian liat enggak, tadi waktu Jamal di atas panggung? Kesan pertama yang gue liat darinya, gue pikir Jamal itu anaknya kalem dan alim saat pertama kali gue ketemu sama dia, eh ternyata dia sangar juga ya!" Sari tidak hentinya merasa kagum.


"Masa? Beneran? Kok bisa?" tanya Sari penasaran.


"Itu ada lagi bagian ceritanya, Sar," jawab Dival lagi.


"Iyakah? Kok gue jadi penasaran gini ya," kata Sari. "Wah, kapan ya mereka manggung lagi. Semoga aja mereka sering-sering konser!" gelak Sari.


"Udah belum nyerocosnya?" tanya Rival pada Sari. "Terserah elo ya mau ngomong apa lagi, mending sekarang kita cari Jamal!" kini Rival mendorong punggung Sari, dan mereka berdua mulai berjalan.


"Eh, Rin ... elo kenapa? Capek? Atau, elo kepanasan?" tanya Dival pada Ririn. Karena sejak band Jamal turun dari panggung, Ririn terdiam. Ia melihat Ririn seperti sedang melamun.

__ADS_1


"Eh, ah ... enggak kok! Gue enggak kenapa-napa! Kita juga ikut mereka aja yuk!" ajaknya pada Dival, tapi Ririn terlihat gugup. Lalu, Ririn berjalan mendahului Dival.


Di sana Dival memperhatikan sikap Ririn yang menurutnya terlihat sangat aneh, tapi ia angkat bahu.


"Jamal!" panggil Sari sembari berlari kecil menghampiri Jamal.


Yang merasa di panggil pun menoleh ke asal suara, ia mendapati Sari dan yang lainnya di sana. Ketika melihat mereka, Jamal pun meminta ijin pada anak-anak yang lainnya, "Guys, kalian duluan aja. Gue mau nyamperin temen dulu. Kita ketemu di tempat biasa, oke?"


"Oke. Kalo gitu kita duluan, ya," balas Ares.


"Jamaaaal! Elo keren banget tadi di sana! Gila! Gue sampe semangat kayak gini! Keren abis!" seru Sari yang tidak hentinya memuji Jamal.


Jamal tersenyum, "Cuma gue doang nih yang keren? Mereka enggak, gitu?" candanya.


"Eh, hehe ... tentu saja mereka juga! Intinya kalian itu sangat, sangat, sangaaaat keren! Luar biasa! Mungkin tuh panggung beneran bakalan roboh!" Sari heboh sendiri.


Jamal tertawa mendengar pernyataan Sari yang begitu jujur. "Thanks, Sari. Gue seneng kalo elo suka sama penampilan kami."


"Udah deh, lebay amat sih lo! Biasa aja kali ngomongnya! Berisik tau, kayak burung beo! Mana kalo ngomong enggak ada remnya sama sekali kek kereta, huh!" maki Rival.


"Apaan sih! 'Kan gue cuma ngungkapin apa yang gue rasain? Emang enggak boleh?!" protes Sari yang kini berwajah cemberut.


"Jadi, kalian udah baikan lagi?" tanya Jamal.

__ADS_1


__ADS_2