
Jamal sudah sampai di markasnya. Ia datang terakhir karena tadi anak-anak yang lain pulang lebih dulu setelah manggung. Sampainya di sana, Jamal langsung ikut bergabung.
"Yo! Tadi kita keren banget tau! Apa kalian sadar itu?" seru Arik bersemangat.
"Banget! Kalian liat 'kan penonton tadi, semuanya ikut loncat-loncat seiringan dengan musik yang kita bawakan! Gila! Kebayang enggak sih, liat mereka bersemangat kayak tadi!" sambung Ares.
"Sepertinya kita berhasil kali ini, gue ngerasa masih semangat buat manggung lagi," ujar Erik santai dan kalem.
"Heh, itu masih belum seberapa. Lain kali kita bikin yang lebih keren lagi dari ini," ucap Dico.
"Maksud elo apa? Jadi, maksud elo, penampilan kita tadi masih kurang, gitu?" tanya Ares.
"Gue enggak bilang gitu sih, cuma gue ngasih pendapat aja. Emang bener, tadi kita terlihat keren di depan mereka. Tapi, menurut gue, kita ini kurang perfec," ucap Dico dengan nada sinis.
"Hey, apa maksud elo, Dico?" tanya Arik heran.
"Dico, elo jangan ngerusak suasana kita yang lagi seneng gini dong, ikut seneng kek bareng kita-kita. Bagaimanapun, kita ini baru saja tampil, kekompakan kita yang udah bikin mereka jadi bersemangat kayak tadi. Elo liat sendiri 'kan, bagaimana mereka begitu menikmati penampilan kita," jelas Ares.
"Yeah, gabungan musik dan sang vocalis kita, bener-bener membius penonton. Kayaknya band kita mulai di sukai anak-anak deh, betul enggak, Jamal?" tanya Erik meminta jawaban dari Jamal.
"Kalian semua memang ada benarnya juga. Kalian semua udah berusaha untuk penampilan kita dengan mulai latihan tiap pulang sekolah. Gue seneng, kalo kalian pada seneng kayak gini. Dan, tadi kita di sana sangatlah kompak. Inilah hasil dari latihan kita tiap hari. Mungkin, yang di katakan Dico ada benernya, lain kali kita bikin yang lebih keren dari ini," jelas Jamal.
"Kok, elo jadi ikutan Dico sih, Jamal. Apa, menurut elo, kita ini enggak ada bagus-bagusnya sama sekali? Elo kurang puas sama hasil penampilan kita?" tanya Arik yang terheran.
__ADS_1
"Yaa, intinya kita harus lebih baik dari hari ini," kata Dico lagi.
Jamal tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak ingin salah bicara pada Dico, takut kalau akan terjadi lagi konflik seperti beberapa hari yang lalu. Karena sayang, padahal Jamal sudah bersusah-payah untuk berdamai dengan Dico. Ia sangat berusaha untuk kembali berbaikan dengan Dico. Kalau sampai Jamal salah bicara lagi, tentunya Dico akan berbalik membencinya. Jujur, meski sebenarnya Jamal merasa sangat puas dan senang akan perform mereka tadi di sana. Mereka sudah mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Meskipun hanya tampil di sebuah acara kecil, baginya itu adalah hal yang luar biasa, karena akhirnya mereka bisa memperlihatkan performa mereka di depan banyak orang. Dan, Jamal senang karena itu. Jamal tidak lupa, apa yang sudah mereka lakukan hari ini. Lantas, bagaimana dengan Dico yang terlihat tidak begitu puas akan penampilan mereka tadi. Sungguh, ini di luar pemikiran Jamal maupun yang lainnya.
"Oke. Gue cabut duluan ya, gue masih ada urusan lain," ucap Dico sambil berdiri.
"Eh, elo udah mau balik sekarang? Enggak barengan aja entar?" tanya Ares.
"Enggak. Gue masih ada urusan penting. Kalian enjoy aja di sini. Oke, gue pergi duluan," jawabnya sembari membuka pintu. Tapi, mendadak ia berhenti dan berbalik. Lalu, ia berucap, "oh ya, ketua," kata Dico sambil melirik Jamal.
"Ya?"
"Tadi penampilan elo bagus banget! Keren! Gue suka, pertahankan itu ya, ketua!" ucapnya dan kemudian membuka pintu, lalu menghilang dari pandangan.
Bagi Jamal, meski itu adalah sebuah kata pujian untuknya, entah kenapa ketika Dico menyampaikannya, rasanya Dico terlihat dingin padanya. Jamal bisa merasakannya. Tapi, apa itu hanya pikirannya saja, atau anak-anak yang lainnya juga menyadarinya? Jamal tidak mau kalau ia sampai salah paham pada Dico dan berperasangka buruk padanya.
"Gue enggak tau apa yang di pikirkan Dico saat ini," imbuh Erik.
"Dico sedang memuji band kita, atau apa? Dan lagi, kenapa dia pergi begitu saja. Dia enggak pengen ngerayain bareng kita, gitu?" tanya Arik.
"Udahlah, kalian tenang dulu. Tadi Dico bilang 'kan, kalo dia punya urusan penting," sahut Jamal.
"Elo juga ketua, kenapa elo diem aja dan malah ngebelain Dico, seolah-olah kita itu enggak ada apa-apanya tanpa dia. Harusnya elo tegur tuh si Dico," protes Ares.
__ADS_1
Jamal tertawa kecil, "Dico bilang begitu 'kan untuk kita, untuk band kita juga. Dan, untuk hari ini kalian pastinya capek, 'kan? Sebaiknya kalian istirahat di rumah, kita kumpul lagi besok. Jangan lupa, kalian juga musti mikirin sekolah. Enggak semuanya waktu kalian hanya untuk band, paham?"
"Huh, kalo bukan lo yang ngomong, enggak bakal gue dengerin!" kata Arik.
"Elo ini masih bisa santai gitu ngadepin Dico, meski berkali-kali Dico kalo bicara suka seenak udelnya, bahkan sering nyakitin kalo bicara. Ya kali dia bicara otak! Orang otaknya udah tumpul!" kata Ares geregetan.
"Sejak awal Dico itu emang enggak suka pada kita, terutama dengan Jamal," ujar Erik. "Apa kalian enggak inget, saat pertama kali Jamal masuk ke band kita. Dia udah sinis aja sama Jamal, terus-menerus. Terlebih pas Kak Romi menunjuk dia sebagai ketua plus vocalis. Semakin keliatan kalo Dico enggak setuju banget. Dan sekarang, gue rasa Dico masih enggak suka pada Jamal."
Lagi-lagi Jamal hanya tertawa, "Kalian ini hanya salah paham aja padanya. Jangan berpikiran seperti itu, Dico sama kok dengan kita yang hanya ingin saling mengerti dan berbagi pendapat. Mungkin tadi salah satunya. Tanpa kita sadari, Dico itu memikirkan band kita, dia udah terlalu deket dengan kita. Hanya saja dia enggak sadar. Makanya, dia bicara seperti tadi itu untuk kita semua," jelasnya kemudian.
"Cih! Lagi-lagi elo bicara kayak gitu. Gimana kita enggak salut sama elo, Jamal. Ilmu apaan sih yang elo punya, sampai-sampai elo bisa setenang itu ngadepin sifat Dico yang kasar dan urakan itu. Heran gue, masih ada aja ya orang kayak elo di jaman sekarang ini?" canda Ares.
"Kalo gue di posisi elo, udah enggak tahan gue. Palingan udah meledak kali kayak bom Nagasaki!" ujar Arik.
Jamal geli mendengarnya, "Tidak susah kok. Hanya modal sabar, sabar dan sabar aja. Kalo kita 'bisa' dengan rasa sabar itu, maka itu akan menjadi kebiasaan yang tidak dapat kita lepas. Tanpa sadar, kita akan mampu menggunakannya setiap saat."
"Itu sabarnya ada tiga ya? Itu sabar yang mana aja?" tanya Erik sambil bercanda.
Sontak mereka semua tertawa mendengar pertanyaan Erik. Benar-benar kocak pertanyaan Erik, bahkan ia berhasil membuat suasana kaku menjadi cair kembali.
*****
Satu Minggu kemudian
__ADS_1
Hari ini adalah hari Minggu, mungkin bagi Rival hari Minggu adalah waktunya untuk minggat atau kabur dari rumah seperti biasanya. Ya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Dan, hari Minggu pagi ini ia ingin sekali bangun pagi dan langsung kabur. Rencananya sih memang seperti itu sejak subuh tadi. Tapi, pada kenyataannya adalah;
"Elo sedang apa di dapur rumah gue?"