
Si cowok mulai melepas pecis di kepalanya, begitu juga dengan sorban yang di lehernya. Sekarang ia mulai membuka sarung ke atas lalu seperti mengambil sesuatu ke dalam saku celana jeans yang di dobelnya.
Hah? Celana jeans, batin Rival heran bertaut alis. Itu beneran celana jeans, dan lagi cowok tadi mengambil kantong kresek yang tadi di ambil dari celananya. Hah? Rival benar-benar bingung dibuatnya, ia juga melihat lagi kalau cowok ini memasukkan pecis, sorban, baju koko dan sarungnya ke dalam kantong kresek tersebut. Kini penampilan cowok itu berubah seratus persen, berbeda dengan yang tadi, sekarang ia terlihat lebih ke anak yang gaul, sadis, dan ... tidak alim lagi dari pada penampilannya yang tadi seperti Ustadz, seperti kata Rival.
"Ah ... ternyata dia memang bukan Pak Ustadz," Kata Dival memberitahu.
"Jadi Ustadz itu bukan keinginan gue, ini karena di suruh Abah gue aja. Gue kayak gini juga terpaksa karena di suruh ngajar ngaji. Ini barusan gue kabur dari Mushola," jelas si cowok Ustadz.
"Jadi, elo bukan Ustadz?" Rival masih bengong.
"Gue Jamal," ucapnya memberitahu namanya. "Ah, kalian pastinya enggak perlu tau nama gue 'kan ya, tapi enggak apa-apa sih, gue ngasih tau nama gue secara gratis," imbuh Jamal lagi.
"Heh, siapa juga yang mau tau nama elo!" sergah Rival keki. "Sok artis lo, pakai acara gratis segala cuma ngasih tau nama!"
"Jadi, kalo orang mau tau nama elo, kudu bayar gitu?" tanya Dival.
"Lebih tepatnya seperti itu, pinter juga lo. Kita semua tau kalo di dunia ini itu enggak ada yang gratis. Masuk surga aja enggak gratis, apalagi masuk neraka, eh ... tapi kalo masuk neraka gratis deng, 'kan kita tinggal bikin aja tuh dosa, udah deh entar masuk sono. Beda sama surga, kalo mau masuk surga, kita kudu sholat, ngaji sama ngelakuin hal-hal yang berguna di dunia, tapi meskipun kita enggak gratis di dunia, balasannya adalah kenikmatan yang tiada gantinya," jelasnya lagi, berhasil membuat Rival tambah melompong.
"Hah ... sekarang gaya lo beneran kek Ustadz Bro, pakai acara ceramah segala!" tukas Rival.
"Gue pengen jadi pemain band rock terkenal, jadi Ustadz itu cadangan entar kalo gue enggak berhasil jadi pemain band, baru entar gue pindah profesi."
"Gila! Main-main sama agama, dosa lo, kena karma baru tau rasa!" ungkap Rival.
__ADS_1
Perkenalkan:
Nama lengkap Jamaluddin Rahmadyansah, umur masih delapan belas tahun. Ia sebenarnya asli orang Jogja, tapi sekarang tinggal di Jakarta karena ikut orang tuanya yang merantau dengan berjualan makanan khas Jogja yaitu Gudeg, bukan budek lho ya tapi Gudeg. Cita-cita pengen jadi pemain band yg terkenal. Hobinya melakukan hal yang berguna.
Moto hidup: Kalau mau melakukan sesuatu yang baik kenapa tidak dari sekarang, lalu kapan lagi? Kalau udah lagi sakaratul maut? Mulailah hal baik dari sekarang, tidak ada ruginya 'kan.
Dan ... inilah awal kisah pertemuan tiga anak laki-laki yang berbeda generasi, berbeda pendapat dan juga berbeda dalam segala sesuatu. Tidak banyak kesamaan di dalam diri mereka masing-masing. Cara berpikir mereka yang bertolak belakang satu sama lain, tapi karena hal itu yang mampu membuat mereka menjadi dekat dan akrab. Berkat pertemuan mereka yang tidak di sangka itu telah membuat mereka menjadi sahabat. Sejak hari itu mereka bertiga menjadi satu keluarga kedua baginya. Banyak perbedaan antara mereka bertiga, selain tempat tinggal, sekolah, orangtua dan latar belakang, cita-cita, mereka berada di posisi yang berbeda. Namun jiwa mereka tetap satu, yaitu jiwa seorang anak Indonesia!
Dan masih banyak cerita tentang mereka bertiga selanjutnya. Mereka adalah Triple L.
*****
Rival
"Gila, itu para cewek kutuan pada ngapain di sana semua sih!"
"Tuh ... Mas Rival udah di tungguin sama barisan para mantan, hihihi ...." tiba-tiba Pak Satpam mendekati Rival sambil cengengesan geli.
"Apaan sih Pak Joko."
"Hihihi ... mau bagaimana lagi Mas, itu semua korbannya Mas Rival 'kan? Jadi wajar saja kalau mereka pada nungguin Mas di sana." sekali lagi Pak Joko meringis.
"Aduh! Gimana ini, tolongin saya dong Pak!" pinta Rival.
__ADS_1
"Atuh, saya bisa apa Mas, mereka semua 'kan mantannya Mas Rival, bukannya mereka setiap hari seperti itu ya kalau melihat Mas," jawab Pak Joko santai. "Itu mah bukan masalah saya, tapi masalah Mas Rival. Jadi, harus di tangani sendiri. Secara mereka 'kan mantan Mas Rival dan bukan mantan saya. Saya cuma jaga pintu di sini."
"Haduh ... Pak Joko bukannya ngasih solusi, malah bikin saya makin pusing aja nih!" ucapnya agak kecewa. Tapi, mau tidak mau Rival harus masuk ke sana dan menghadapi sendiri para mantannya. Iya, itu semua adalah korban Rival. Di sana ada lima cewek yang sudah menunggunya.
"Saya bantu doa dari sini aja ya Mas," imbuh Pak Joko yang kemudian tertawa.
Lalu, jadilah Rival masuk ke dalam sambil melirik ke arah mereka. Bahkan, parahnya ia berpura-pura tidak melihat mereka.
Mantan Rival di sana ada lima tengah menunggunya. Di sana ada, Tia, April, Jona, Samara, dan Cindy.
Itu masih belum seberapa, masih ada lagi mantan Rival yang di luar sekolah, yang sekarang tidak jelas berada di mana. Mungkin, Rival sudah melupakan sebagian dari mereka. Yang jelas saat ini ke lima cewek itu bersiap untuk mencincang Rival begitu berhasil menangkapnya.
"Kira-kira bakal kita apain si playboy ini?" tanya Cindy dengan nada sinis.
"Gue ada ide, gimana kalo kita bunuh, kita mutilasi, kita bungkus pakai kresek lalu di buang ke sungai," imbuh Tia.
"Atau kita tangkep, kita masukin koper terus di kubur hidup-hidup!" kata Jona
"Kalo gue mending kita pakai racun tikus biar dia ngerasain sakaratul maut!" kata April.
"Jangan girls, jangan sadis gitu, kasian dia," kata Samara yang mempunyai jawaban berbeda dengan yang lain. "Kita maafin aja, tapi pelan-pelan kita siksa si playboy itu." Namun di akhiran kata, kalimat Samara berhasil membuat bulu kuduk Rival berdiri. Mendadak perasaan Rival mulai tidak enak.
"Enak saja dia langsung di bunuh, enggak ngerasain rasa sakitnya," tambah Jona dingin.
__ADS_1