
"Ada juga yang mengatakan, keluarga itu ibarat garam di dalam masakan. Jika masakan tersebut tidak ada garam, maka rasanya akan hambar. Berbeda jika ada garam, maka masakan itu akan ada rasanya. Begitu juga dengan keluarga, tanpa kita, mereka, semuanya tidak akan terasa lengkap. Hal-hal kecil yang terjadi di dalam keluarga adalah bentuk rasa dan ungkapan yang di miliki setiap orang. Bukan hanya elo, Val, tapi mereka juga ...."
Sakit. Tidak tahu kenapa hati Rival rasanya sakit sekali. Semakin sesak.
"... keluarga itu adalah ikatan yang selamanya tidak akan pernah terputus oleh apapun. Seburuk apapun mereka, dan sebenci apapun kita terhadap mereka, tapi tetap, mereka adalah keluarga. Dan, mereka adalah bagian dari diri kita."
Sebutir air bening jatuh di lengan Rival. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata. Dengan sendirinya perasaan itu muncul tiba-tiba dan mengakibatkan air matanya jatuh seketika. Rival sendiri pun tidak menyangka, kalau ia bisa mengeluarkan air mata, dan itu di depan Sari. Ya, Rival mengeluarkan air matanya di depan Sari, untuk yang pertama kalinya. Ini seperti bukan dirinya saja. Sebelumnya, tidak pernah sekalipun Rival menangis di depan orang lain. Tidak juga di depan adiknya. Tapi, kenapa bisa ... Rival menangis di depan Sari, yang jelas kalau dia bukanlah siapa-siapa untuknya. Sekarang tangan serta tubuhnya bergetar. Dadanya bergemuruh, terasa sesak, berat, dan menyiksa.
Malamnya di kamar Rival ....
Rival tengah duduk di kursinya sambil melamunkan sesuatu atau memikirkan tentang sesuatu. Mungkin keduanya, karena sejak tadi kepalanya terus di sangganya, seolah kepalanya itu sangat berat. Mungkin sebentar lagi kepala Rival akan terpisah dari tubuhnya saat ini juga, di karenakan isi kepalanya terlalu banyak. Masih melamun, ketika pintu kamarnya terbuka, ternyata itu adalah Vikal. Ia mendekati Kakaknya sedikit takut.
"Kak, kenapa Kak Rival belum makan? Udah lewat jam makan malam lho," ucap Vikal sembari duduk di kasurnya Rival.
Rival diam.
"Kak Rival ... maaf, kalo gue udah bicara yang tidak-tidak ke Kak Sari soal Kakak. Pasti sekarang Kakak benci banget sama gue 'kan? Gue tau kalo Kakak pasti bakalan marah, cuma gue enggak tau harus cerita ke siapa lagi. Kalo Kak Rival mau marah, gue enggak apa-apa kok. Pada dasarnya gue yang salah, karena udah sembarangan bicara ke orang lain. Karena itu--"
Kalimat Vikal terhenti saat melihat Rival bangkit dari kursinya lalu duduk di sampingnya. Tidak di sangka Rival justru tersenyum kecil sembari mengusap kepalanya pelan. Rival tidak marah, kini di tatapnya Vikal.
"Gue enggak marah kok. Gue justru berterimakasih sama elo.
Vikal tidak mengerti. "He?"
__ADS_1
"Thanks, berkat elo, akhirnya gue bisa denger kata-kata itu darinya," ucap Rival. Ia terdiam sesaat. "Mungkin sekarang gue bisa ... ng, lebih tepatnya gue mau mencoba mendengarkannya, dan itu semua karena elo, Vikal. Terimakasih."
Masih tidak mengerti, "Kak, maksud Kak Rival apa? Gue enggak ngerti sama sekali."
Sekali lagi Rival tersenyum masih terus mengusap kepala Vikal dengan gemas.
"Yeah, pokoknya gue sangat berterimakasih sama elo. Mungkin elo bener, gue marah karena elo udah cerita masalah gue ke cewek itu, tapi di sisi lain gue ngerasa kalo elo udah ngelakuin hal yang bener. Gue sedikit kecewa sih sebenernya, karena masalah gue yang selama ini gue tutup rapat-rapat, akhirnya ada orang yang mengetahuinya. Dan lebih parahnya orang itu adalah Sari, cewek yang enggak gue suka. Selain Dian yang tau masalah ini, tidak ada yang tau sebelumnya, tapi ...."
"Kak," panggilnya cepat. "Maaf, kalo gue udah salah bicara. Gue udah bikin Kak Rival kecewa. Maaf ... gue enggak tau, kalo ternyata Kakak enggak suka sama Kak Sari. Harusnya gue enggak bilang apa-apa padanya. Gue bener-bener minta maaf, Kak," kata Vikal cemas. Takut kalau Rival akan marah padanya.
"Elo enggak perlu minta maaf kayak gitu. Malahan gue berharap, kalo dia bisa nolong gue," Rival membuang napas berat.
"Dia? Dia, maksud Kakak?"
Rival mengangguk, "Iya. Gue berharap kalo Sari bisa bantu gue keluar dari masalah ini. Geh! Gue sendiri bingung, padahal udah jelas kalo gue enggak suka dengan cewek itu. Tapi, kenapa gue seperti mengharapkan sesuatu darinya, seolah gue itu menaruh harapan kalo Sari bisa nolongin gue. Seperti, gue bergantung padanya. Atau, ini cuma harapan kosong dari gue aja. Ah, mungkin gue udah egois kalo gue terlalu mengharapkan Sari, aneh ya?"
*****
"Kak Dival mau ke mana? Udah rapi banget, dandan pula," celetuk Ruli di depan kamar Dival sambil senderan di pintu. Ia tengah mengamati Kakaknya yang sedang bercermin sambil bergaya. Ruli berkerut kening, heran melihat Kakaknya seperti itu yang tidak biasanya.
"Kemana lagi kalo bukan mau kerja," jawabnya tanpa menoleh.
"He? Mau kerja tapi dandan segala? Aneh amat, enggak biasanya elo kayak gini. Biasanya juga pakai baju owol udah main cabut aja. Lha ini, rapi banget!"
__ADS_1
"Emang salah kalo gue dandan sedikit. Sekali-kali rapi enggak masalah 'kan?" tanyanya enteng.
"Enggak salah sih, cuma aneh aja. Oh ya, elo udah bayar utang di warungnya Pak Ahmad belum? Yang elo makan tiga kali enggak bayar itu?"
"Sembarangan bilang enggak bayar! Gue cuma belum bayar aja!" sergahnya membela diri.
"Sama aja kali. Intinya ngutang."
"Udah gue bayar kok, tenang aja. Itu udah lama gue bayar, begitu gue punya duit langsung gue bayar," jawabnya lagi seraya mendorong punggung Ruli dari ambang pintu. "Lagi pula elo ngomong sama Kakak pakai gue elo. Udah di ajarin juga, sopan sedikit ngapa sama yang lebih tua!"
"Iya! Iya! Elo udah tua ya, makanya udah bisa mikir yang berat-berat!" Ruli terkikik. "Emangnya Kakak punya duit buat bayar tuh utang? Sejak kapan Kakak pegang duit kalo enggak di kasih Mama. Bukannya kalo jajan Kak Dival masih minta Mama, ya? Selama ini 'kan Kakak kalo makan utang melulu."
"Yeee, ini anak! Ngejek lo ya? Elo lupa kalo gue udah kerja? Gue kerja sampingan ini di gaji, dan hasil dari gaji itu gue kumpulin buat jajan sekaligus bayar utang gue ke Pak Ahmad. Jadi, bisa di katakan kalo gue ini punya duit hasil dari kerja keras gue sendiri!"
"Bener juga ya. Eh, ngomong-ngomong Kak Dival udah gajian belum? Kakak udah berapa lama kerja di sana? Kapan nih traktirannya? Boleh dong gue dapet cipratan. Kalo udah gajian jangan lupa sama Adik Kakak yang kece ini, oke?" Ruli meringis.
"Cipratan apaan? Cipratan air? Mau gue guyur sekalian, hah?!" kesalnya.
"Jangan gitu sama Adik sendiri. Kakak 'kan Kakak yang baik, jadi harus nurutin permintaan Adik elo ini."
Dival pasang muka malas, "Huh! Kalo gue udah gajian juga kenapa? Gue enggak bakal mengikuti kemauan elo."
"He? Elo udah gajian? Beneran? Wah, pakem enggak ini? Jadi, kapan dong gue di traktir?" tanya Ruli antusias.
__ADS_1
Dival menatap mata Ruli yang tampak berbinar. Ia menghela napas sembari mengenakan tasnya dan bersiap untuk pergi.
"Kagak! Kagak ada acara traktir-traktiran! Gue kagak bakal traktir elo, weeek!" jawab Dival sambil ngeloyor pergi. Dan, tentu saja jawaban Dival membuat Ruli dongkol.