
Ia menoleh pada Dival dengan tatapan kesal. Ia semakin kesal tiap kali Dival bertanya dengan santainya. Seolah tidak punya kesalahan sama sekali.
"Elo! Elo habis nyopet, iya 'kan? Makanya tadi tuh orang-orang ngejar elo! Itu dompet yang elo bawa milik salah satu bapak-bapak tadi 'kan, iya 'kan?!" tuntutnya emosi.
"Hah??"
"Masih enggak mau ngaku juga?!" kini ia merebut dompet yang masih di pegang Dival. Ia masih geregetan dengan Dival selain rasa capeknya habis berlarian. "Ini ... ini dompet bukan punya elo 'kan ... dompet ini punya--!"
Lah ... kalimatnya terhenti ketika melihat isi dompet tersebut. Alisnya bertaut semakin rapat. Bingung. Marah. Heran. Ia menatap ke arah Dival lagi. Di situ Dival merenges.
"Hehe ... gue bukan copet. Mereka ngejar gue tuh bukan karena habis nyopet, tapi gara-gara gue belum bayar uang makan di warungnya Pak Ahmad. Ini udah yang ketiga kalinya. Iya, tiga kali kalo enggak salah gue belum bayar," jelas Dival dengan tampang polosnya.
"A,apa ...?!" ia terkejut bukan main. Bingung tapi juga ingin marah. "Kenapa ... gila! Dengan santainya elo bilang belum bayar uang makan sampai tiga kali, dan hanya itu jawaban elo setelah bikin gue kayak maling?"
Dival lagi-lagi hanya meringis sembari mengacungkan tanda peace.
"Gila! Elo orang macam apaan sih?!" ia tidak habis pikir.
Memang benar kalau Dival itu bukan habis nyopet atau ngerampok seperti yang cowok itu pikir. Dompet yang ia pegang itu adalah dompet miliknya, buktinya di dalam dompet terdapat kartu identitas dirinya beserta kartu pelajar. Makanya,.cowok tadi semakin geram terhadap Dival. Ternyata, saat itu Dival ingin membayar uang makannya, tapi Dival berkata kalau uangnya terjatuh di jalan. Lalu terjadilah aksi kejar-kejaran tadi. Dan, jawaban serta bukti yang di berikan pada cowok itu, membuatnya semakin senewen.
Perkenalkan:
__ADS_1
Nama lengkap Dival Dirgantara Anugerah, tinggal masih di sekitaran Jakarta. Umur delapan belas tahun. Cita-citanya ingin menjadi Presiden, begitu katanya. Hobinya ... main musik, mengganggu Adik perempuannya. Dival punya Adik satu, cewek, sekarang Adiknya masih SMP, dan suka ngutang!
Moto hidup: Enggak perlu membuat segala sesuatu menjadi repot, udah itu aja.
Kembali ke sekarang ....
"Oh, hampir lupa, nama gue Dival," ucap Dival seraya mengulurkan tangannya, tidak lupa sambil tersenyum manis, tapi mematikan lawan. "Kalo elo?"
"Cih!" ia mendengus, meski ogah-ogahan tapi akhirnya ia menjawab uluran tangan Dival, eh bukan, ia tidak membalas uluran tangan Dival, melainkan melempar kembali dompet milik Dival.
"Nama lo?"
"Rival ... nama gue Rival!"
Balik ke sebelum saat ini ....
Saat itu Rival yang baru saja kabur dari mantan yang ke 12-nya, Iria, pergi berjalan kaki. Ia pusing mau naik apa, karena saat hendak bertemu dengan Iria ia naik ojek yang ada di depan komplek perumahannya. Semakin bingung karena tidak ada yang bisa ia hubungi untuk menjemputnya. Jadilah ia berjalan kaki hingga ia melewati sebuah gang yang bakal di lewati Dival. Dan, saat itu terjadilah tabrakan tadi.
Detik ini Rival maupun Dival masih diam satu sama lain, belum ada yang memulai obrolan. Dival sendiri sibuk dengan dompetnya yang kosong sambil mengeluh. Sementara Rival entah harus ngomong apa, sudah terlalu emosi dia.
"Elo kelihatannya kesel gitu ngapa dah?" tanya Dival saat mengamati Rival
__ADS_1
Rival menoleh dan menatap Dival dongkol. "Elo pikir siapa yang bikin gue lari-larian kek gini hah?!"
"Oh, karena tadi toh," jawabnya santai sambil manggut-manggut.
Lagi, Rival hanya bisa tercengang mendengar jawaban Dival. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua emosinya pada Dival, hampir stres ia di buatnya. Bagaimana bisa orang ini tidak punya rasa bersalah sama sekali setelah membuatnya serangan jantung mendadak karena ikut berlarian cukup jauh. Bisa-bisanya orang ini berkata dengan santainya. Gila, batin Rival.
"Elooo ....!"
Belum sempat melanjutkan kalimatnya tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mendekat, yang membuat Dival maupun Rival menoleh ke arah suara. Mereka berdua heran ketika melihat seorang anak laki-laki yang sedang berlari ke arah mereka berdua. Apa yang di pikirkan mereka sama, kalau cowok itu bakalan menerjang mereka. Mereka berdua cepat-cepat menghindar ketika melihat kode bahaya tersebut. Tapi telat ... sayang sekali, cowok tadi sudah lebih dulu menabrak mereka berdua, hingga membuat Dival dan Rival terdorong jatuh. Mereka bertiga saling tabrakan, berjatuhan ke tanah bagai malaikat dadakan yang baru saja turun ke bumi dengan mempesonanya, di tambah efek slow motion membuat adegan dramatis itu semakin ... wah ... begitu indah ... tapi ....
Brugh!!! Kenyataan tidak seperti itu. Kenyataannya mereka tetap saling bertabrakan dan jatuh ke tanah akibat terjangan cowok angin barusan. Seperti angin karena ia tiba-tiba muncul lalu membuat mereka berdua terpental. Sakit, pastinya yang mereka rasakan, apalagi Rival dan Dival, mereka terjatuh untuk yang kedua kalinya, dan yang paling apes adalah Rival karena dari tadi ia menjadi korban tabrak yang tidak di sangka itu. Akibatnya, membuat pantat Rival terasa nyeri sekali. Harusnya ia sudah di bawa ke rumah sakit untuk di beri pertolongan pertama karena kecelakaan tabrakan, atau paling tidak di kasih uang untuk ganti rugi rasa sakitnya, itung-itung buat ongkos jalan pulang.
"Sial! Ini yang kedua kalinya gue kena tabrak! Kutu kupret!!" maki Rival jengkel.
"Apa-apaan sih bikin gue jatuh. Kalo gue kenapa-kenapa gimana, elo mau tanggung jawab emangnya?" tambah Dival masih dengan nada santainya.
"Heh, elo apa-apaan sih! Kenapa elo bisa tenang kek gini sih! Gue nih udah dua kali ketabrak, tadi sama elo dan sekarang sama Pak Ustadz ini!!" protes Rival pada Dival.
"Maaf, tapi gue bukan Pak Ustadz," jawabnya lugas.
Pak Ustadz? Kenapa Rival menyebutkan Pak Ustadz? Jelas saja karena Rival melihat penampilan cowok yang di depannya ini gayanya mirip seperti Ustadz. Lihat saja penampilannya, pertama, cowok ini pakai sarung, mana motif kotak-kotak lagi. Kedua cowok ini pakai pecis warna hitam, ketiga cowok ini pakai baju Koko lengkap dengan sorban warna putih yang melingkar di lehernya. Siapapun yang melihatnya pasti mengira kalau cowok ini adalah Ustadz, begitu juga dengan Rival saat ini.
__ADS_1
Rival mengamati cowok tadi dengan tatapan sinis. "Hah? Gue? Wah ... ini Ustadz-nya gaul Bro pakai kata gue. Waaaah ... enggak nyangka gue, elo ini Ustadz gaul. Jarang-jarang lho gue nemu Ustadz kek elo ini!"
"Gue enggak tau maksud ucapan lo itu muji atau ngejek. Tapi, yang jelas gue ini bukan Ustadz, paham?" tandasnya.