Triple L

Triple L
Eps 22. Keluarga Rival


__ADS_3

Di perjalanan pulang Sari maupun Rival sama-sama saling diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah itu karena syok akibat terjebak dalam tawuran anak-anak sialan tadi, atau diam karena salah tingkah. Kejadiannya begitu cepat, tanpa sadar Sari sudah berada di dalam pelukan Rival. Terkejut karena Rival memeluk Sari, tiba-tiba ia mendorong tubuh Rival menjauh. Mendadak Sari tersadar apa yang mereka lakukan saat itu. Merasa canggung ia pun mendorong Rival dan hampir saja terjatuh ke belakang. Beruntung, Rival bisa menjaga keseimbangan. Dan, efek kejadian tadi, kini mereka terdiam satu sama lain.


"Ng ... elo, udah baikan belum?" tanya Rival lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


"Eh, oh ... i,iya, gue... gue enggak apa-apa kok. Gue udah mendingan sekarang. Thanks, elo udah nolongin gue tadi ...." jawab Sari kikuk. Suara Sari terdengar gugup.


"Syukurlah kalo gitu." Rival mengangguk.


"Eh, tapi, Rival, jidat elo berdarah ...." tunjuk Sari.


"Masa?" Rival menyentuh jidatnya, memang sedikit nyeri. Benar juga, bukannya tadi ia terkena lemparan batu sama anak-anak tawuran tadi. Sialan. "Ah, palingan entar juga sembuh sendiri kok. Ini sih bukan apa-apa buat gue."


Sari terdiam lalu berhenti tepat di depan Rival. Di tatapnya Rival, tanpa di duga Sari memukul jidat Rival yang lecet tersebut. Sari kesal pada Rival.


"Jadi cowok enggak usah sok kuat deh! Kalo sakit bilang aja sakit! Enggak perlu jaim kayak gitu! Susah amat sih!" protes Sari.


"Apaan sih! Sakit tau! Tau luka malah di pukul! Nih cewek bener-bener ngajak ribut ya!" Rival mengaduh kesakitan karena jidatnya di pukul tepat di sana.


"Makanya gue bilang jadi cowok enggak usah sok kuat! Sakit 'kan! Bilang aja, enggak usah kegedean gengsi. Sakit 'kan, rasain lo!" damprat Sari tiada ampun.


Kini ia merogoh ke dalam tas yang di bawanya, terlihat kalau Sari sedang mencari sesuatu di sana. Begitu menemukannya, ia pun segera mendekati Rival, dan seperti menempelkan sesuatu pada Rival.

__ADS_1


"Apaan sih ini?!" Rival berusaha menghindar.


"Diem kek!" Sari tidak mau kalah dari Rival. Ia bersikeras menarik lengan Rival dan menyuruhnya untuk diam. "Nih, udah selesai 'kan. Tinggal nurut aja gampang kok. Sesekali jadi anak penurut kenapa sih!"


"Elo kenapa bawel banget sih! Emang elo ini emak gue apa, seenaknya aja main perintah! Seumur-umur baru kali ini ya gue ketemu cewek macam elo ini! Elo tuh dari mana sih asalnya? Bisa-bisanya banyak omong kayak gini! Gila kali ya!" dumel Rival.


"Seumur-umur? Emang elo udah hidup berapa ribu tahun di muka bumi ini, hah?!"


"Seumur jagung baru tunas!" jawab Rival asal.


Tidak di sangka Sari justru tertawa renyah mendengar jawaban Rival yang menurutnya itu aneh. Di situ Rival bertaut alis tidak mengerti.


"Aduh! Rival, udah deh ya, elo enggak usah banyak omong. Mendingan sekarang kita pulang aja. Bisa-bisa gue mati berdiri di sini kalo berurusan terlalu lama sama elo!"


"Hihihi ... gue ikut elo pulang, ya?" pintanya usil.


"Dih! Emang elo enggak punya rumah apa ngikut gue pulang! Males tau di mana-mana ada elo! Pergi jauh-jauh deh dari gue, ya!"


"Ya sekalian biar gue tau rumah elo, 'kan? Iya 'kan?" ujarnya masih terkekeh.


Dan jadilah Rival membiarkan Sari ikut pulang bersamanya. Siapa tahu Sari hanya iseng. Tapi, selain itu Rival juga tidak bisa membiarkan Sari pulang sendiri, apa lagi ini sudah mau sore. Jadi, tidak apa 'kan kalau Rival mengantar Sari pulang?

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Rival maupun Sari masih diam seribu bahasa. Entah karena masih dongkol satu sama lain ataukah karena malu-malu kucing. Sari lebih banyak memperhatikan jalanan di sekitarnya. Sementara, Rival sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak ada yang memulai obrolan saat itu. Bahkan tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Rival. Mereka tidak tahu, mereka berjalan sejak kapan. Mungkin karena tidak memperhatikan sekelilingnya, tahu-tahu sudah sampai.


"Ini rumah elo, Rival?" tanya Sari.


"Ah, iya. Ini rumah gue. Ng ... elo mau masuk dulu, mungkin?" tawarnya.


"Hmm ..." Sari terlihat bimbang. "Kayaknya enggak usah deh, Val. Lain kali aja gue mampir, lagi pula udah sore juga, dan ....!"


Tiba-tiba kalimat Sari terpotong ketika mendengar suara seseorang dari dalam rumah Rival. Dan suara itu terdengar sangat jelas bahkan keras sekali. Rival maupun Sari langsung menoleh ke arah pintu masuk, mereka saling berpandangan.


Rival yang paling terkejut di sini saat menyadari kalau itu adalah suara Mama dan Papanya. Rival melirik Sari sesaat yang terlihat kaget dan mungkin juga penasaran. Tanpa sadar Rival sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah.


Dan benar apa yang ada di kepala Rival, sesuai perkiraannya. Rival melihat orang tuanya tengah bertengkar lagi. Dan, ia sudah muak dengan semua pemandangan yang sering ia lihat ini. Rival merasa muak dan jengah. Di sana Rival melihat Vikal tengah berdiri tidak jauh dari tempat orang tuanya berada. Vikal terlihat sangat ketakutan, bahkan ia sampai menangis. Hati Rival semakin sakit ketika melihat adiknya menangis seperti itu. Ingin rasanya Rival menghilang saat ini juga, dan membawa Vikal bersamanya. Rival tidak ingin Vikal melihat hal menyedihkan seperti ini lagi. Sudah cukup untuk Rival melihat orang tuanya bertengkar seperti ini. Ia tidak sanggup jika harus melihat Vikal tersakiti. Vikal masih terlalu kecil untuk melihat hal sialan seperti ini.


Tangan Rival masih mengepal, dan ia hendak masuk dan melerai kedua orang tuanya. Tapi, ia terhenti ketika menyadari kalau Sari masih berada di sini bersamanya. Lantas, Rival menoleh ke belakang dan melihat Sari tengah menatapnya dengan cemas, mungkin bahkan khawatir. Tanpa berpikir dua kali Rival berjalan ke arahnya dan menarik tangan Sari supaya menjauh dari sana.


"Sari ... sori, gue enggak ada maksud buat ngusir elo. Tapi, bisakah elo pulang sekarang?" tanya Rival sembari menatap Sari lesu.


"Tapi, Rival ... ada apa?" Sari terheran.


"Gue pengen elo pulang sekarang, dan anggap elo enggak pernah denger apapun, ya," pintanya sedikit memaksa. Dan terlihat kalau Rival melamun sesaat.

__ADS_1


"Rival!" panggilnya cepat. "Elo enggak apa-apa?" tanya Sari sembari menarik satu tangan Rival. Terlihat sekali kalau Sari begitu mengkhawatirkan keadaan Rival. Apa lagi Sari baru saja melihat dan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui. Sari melihat sesuatu pada diri Rival yang tidak Sari ketahui sebelumnya. Entah kenapa Sari jadi begitu mencemaskan keadaan Rival.


Sari ingin sekali bertanya kepadanya, tapi, jika melihat kondisi Rival saat ini, rasanya sulit mendapatkan jawaban. Sari tahu kalau Rival tidak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk dirinya. Dan Sari harus paham akan hal itu.


__ADS_2