Triple L

Triple L
Eps 37. Sari si Nano


__ADS_3

"Aaaah! Gue enggak ngerti! Gue enggak inget!" keluh Rival. "Tapi tunggu, tadi waktu elo ngobrol sama Mama , gue denger kalo elo mau nagih sesuatu sama gue?"


"Hmm, iya. Gue dateng ke rumah elo, karena gue mau nagih hutang yang elo bilang waktu masih kecil dulu. Dan, anak kecil yang gue maksud itu adalah gue, Rival. Gue lah anak kecil itu, gue Nano. Dulu, waktu masih SD gue pindah sekolah, kelas berapa ya, gue lupa. Kelas dua SD bukan, ya. Itu udah lama banget, tapi, yang penting sekarang gue udah balik lagi ke sini buat nemuin elo. Wajar sih kalo elo enggak inget sama gue. Awalnya Tante cantik juga enggak ngenalin gue, tapi setelah gue ngobrol sama Tante cantik, akhirnya Tante inget juga, walaupun agak terkejut sedikit sih. Makanya, gue bisa akrab sama Tante cantik, karena gue emang kenal padanya. Secara, gue sering main ke rumah elo. Yeah, gue sama keluarga gue emang udah balik, tapi sekarang rumah kita berjauhan. Gue enggak tau jalan daerah sini, soalnya udah lama juga gue enggak di sini, banyak yang berubah. Jalan ke rumah elo aja gue enggak inget," jelas Sari panjang lebar.


Rival sedikit terkejut mendengarnya. Ia kaget, tapi juga masih bingung, "Nano?"


"Iya, gue Nano. Nama yang elo kasih ke gue."


"Jadi, elo Nano?"


"Iya, kenapa? Elo enggak inget sama gue, 'kan? Enggak kaget sih, karena gue yang lebih dulu ngenalin elo setelah bertahun-tahun berpisah. Tapi, anehnya ya Tante cantik masih bisa ngenalin gue lho, hebat banget ya Tante cantik. Ingatannya tajam! Sereem!"


"Kenapa elo bisa tau kalo itu gue?" tanya Rival heran. "Gue aja enggak inget apapun, apa lagi ngerasa pernah kenal sama elo."


"Gimana ya, gue juga cuma nebak aja. Iya sih, padahal itu udah bertahun-tahun. Tapi, enggak tau kenapa, gue bisa langsung ngenalin elo gitu aja. Yang jelas, dari gue kecil sampai gede, yang gue inget cuma nama Rival dan Rival. Gue sering berangan-angan, semoga gue bisa ketemu elo lagi suatu hari nanti. Eh, sepertinya Tuhan mengabulkan permohonan gue. Enggak lama kemudian orang tua gue mutusin pindah ke rumah lama, walau bukan rumah yang dulu gue tempatin."


"Ingatan elo sama mengerikannya dengan Mama gue. Buktinya elo masih inget, dan bisa ngenalin gue. Sedangkan, gue masih belum inget apa-apa soal ini, yang entah itu bener apa enggak."


"Iya sih, gue juga enggak bisa maksa elo buat inget semuanya."


"Nano ... elo Nano, emang pernah ya gue kenal sama anak cewek kayak elo?"

__ADS_1


"Iya, gue Nano. Gue udah bilang berapa kali sih, masih aja enggak percaya. Sebenernya gue agak kecewa sih, ternyata elo enggak inget sama gue. Tapi, gue seneng akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama."


"Dan, kata elo, elo pulang karena mau nagih sesuatu yang gue janjikan sewaktu kecil, seperti yang elo bilang?"


"Yap! Betul!"


"Emang ... janji apaan? Gue pernah janji apa sama elo?" tanya Rival penasaran.


Sari terdiam cukup lama. Ia menatap Rival sembari mendekat ke arahnya. Ia masih diam, tapi kemudian Sari tersenyum. Sangat manis.


"Elo janji mau nikahin gue kalo udah gede. Apa, elo inget?"


Di rumah Rival ....


Tapi, samar-samar bayangan masa lalu muncul di kepalanya. Tentang sosok anak kecil, cewek, rambut sebahu. Rival tidak sepenuhnya melupakan anak kecil itu, hanya saja kenapa setelah Sari bercerita tentang anak kecil yang sering bermain dengannya, mendadak ia mengingat sesuatu.


"Jadi ... beneran, Nano itu Sari? Kalo bener dia itu Nano, berarti apa yang di katakan Sari semuanya bener. Tentang anak kecil itu, dan bener bahwa dulu gue kesal, tiap kali dia manggil Mama dengan sebutan itu. Jadi, bener Sari adalah Nano, temen kecil gue dulu? Nano yang itu? Beneran?!"


Di tempat lain ....


Saat itu Dival dan Ririn masih di jalan pulang, mereka berjalan kaki.

__ADS_1


"Rin?" panggilnya.


"Ya?"


"Tadi, elo ... apa, tadi elo bilang sesuatu ke gue waktu di sana?"


Ririn menghentikan langkahnya. Mendadak jantung Ririn kembali berdetak tidak teratur. Gugup dan terkejut, wajahnya mulai menghangat, bahkan ia tidak berani menatap Dival langsung. Entah kenapa ia menjadi kaku seperti ini di depan Dival. Tangannya mulai berkeringat, dan ia juga menggenggam ujung bajunya. Saat itu Ririn masih belum menjawab pertanyaan Dival. Tapi, kemudian ia memberanikan diri menatap Dival, meski ia sangatlah gugup.


"Ng ... gue, tadi gue bi,bilang apa ya ... uh, i,itu gue ...." Ririn benar-benar gugup, sampai tidak sanggup lagi untuk berkata. Kini ia berpaling ke arah lain.


"Kenapa elo panik gitu?" Dival berkerut kening.


"Oh, enggak kok ... gue enggak panik kok ... beneran deh! Gue enggak apa-apa. Hmm ... untuk yang tadi, lupain aja ya. Anggap aja gue enggak ngomong apa-apa, anggap aja elo enggak denger apapun, oke. Lagi pula tadi musiknya kenceng banget 'kan, ya! Jadi, mungkin gue kebawa suasana ... ya, tadi gue cuma terbawa suasana aja kok!" jelasnya masih dengan suara yang terdengar gugup. Bahkan, Dival menyadari hal itu. Kini, Ririn berjalan mendahului Dival.


Tapi, Dival justru berhenti sembari memperhatikan punggung Ririn yang berjalan menjauh. Diamatinya setiap langkah kaki Ririn yang berlalu. Walaupun sedikit, namun bibir Dival menyunggingkan senyuman.


"Gue denger apa yang elo katakan di sana. Apa, perlu gue ulangin ucapan elo? Sekarang?"


Ucapan Dival sontak membuat Ririn berhenti, dan membalikkan badannya seketika. Kaget, tentu saja kaget. Jadi, Dival mendengarnya, pikir Ririn. Dival mendengarnya waktu Ririn mengatakan perasaannya? Aduh, bagaimana ini? Ngalamat! Ketahuan! Sumpah, malu banget! Seperti maling yang tertangkap basah karena habis mencuri telur ayam milik tetangga! Sudah tidak bisa lari lagi, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tiba-tiba saja Ririn kembali membelakangi Dival. Sampai Ririn tidak bisa menahan perasaannya, ia terlalu panik. Gugup, bingung, dan nervous. Rasanya seperti mau mati saja.


Entah kenapa, tiba-tiba Ririn merasa kalau ada yang menyentuh tangannya. Ia terkejut saat menyadari bahwa Dival lah yang memegang tangannya. Hal itu membuat jantung Ririn semakin berpacu, meluap seolah ingin meledak. Gawat!

__ADS_1


"Kalo gue ternyata denger, gimana? Elo mau bilang apa lagi, Ririn?" tanyanya lembut.


__ADS_2