Triple L

Triple L
Eps 45. Pertanyaan Zahra


__ADS_3

Saat ini Jamal dan Umi serta Zahra sedang menunggu kabar Abah dengan gelisah. Sejak tadi Umi tidak henti-hentinya berdoa untuk Abah. Di sana Zahra diam, sesekali terdengar isakkan lirih darinya. Sementara Jamal, ia terus tertunduk lesu di kursi ruang tunggu. Tangannya terus di kepalnya kuat karena saking cemasnya. Perasaannya berkecamuk tidak karuan. Sejak masuk rumah sakit, Jamal terus dihantui rasa takut yang luar biasa. Rasa takut yang selama ini tidak pernah ia harapkan, rasa takut yang selama ini ia takutkan. Dan sekarang, perasaan takut itu semakin menjadi.


"Jamal, bagaimana keadaan Abah sekarang," ujar Umi dengan suara lirih.


Sakit dan pedih ketika mendengar pertanyaan Umi. Jamal terdiam tidak membalas perkataan Umi.


"Semoga Abah tidak kenapa-kenapa," ucap Umi lagi dengan suara tertahan. Umi mulai menitikkan air matanya. "Ya Allah ... tolong lindungi suami hamba ya Allah. Tolong ... selamatkan suami hamba ... hamba tidak ingin terjadi apa-apa pada suami hamba, ya Allah ...."


"Umi ... Abah enggak apa-apa 'kan? Enggak akan terjadi apapun sama Abah 'kan? Abah bakalan sembuh 'kan, Umi?" tanya Zahra dengan suara bergetar menahan tangisnya. Terlihat matanya yang sembab akibat menangis sejak tadi.


"Umi tidak tau, Zahra. Tapi, kita berdoa saja ya. Semoga Abah tidak apa-apa dan cepat pulih seperti sedia kala," jawab Umi sembari memeluk Zahra. Di situ Zahra membalas pelukan Umi sangat erat. Kini, Umi beralih memperhatikan Jamal yang masih diam tertunduk lesu. "Jamal, kamu tidak apa-apa? Sejak tadi kamu diam saja, ada apa?"


Jamal mendongak dan menatap Umi. Terasa berat tiap kali Jamal ingin berucap. Teramat sangat berat tiap Jamal ingin membuka mulutnya. Yang bisa Jamal lakukan hanyalah diam dan terus berdiam. Setiap kali ingin mengutarakan sesuatu, kerongkongannya terasa kering. Jamal hanya bisa membalas Umi dengan tatapan sedihnya saja.


"Umi tau, kalau kamu sangat mencemaskan keadaan Abah. Maaf, kalau Umi sudah bikin kamu repot dan khawatir karena Abah."


Mendengar ucapan Umi membuat Jamal tersentak kaget, sakit rasanya. "Bukan, bukan seperti itu, Umi. Jamal tidak merasa di repotkan, Jamal tidak merasa sudah di repotkan oleh Umi ataupun Abah. Umi jangan bicara seperti itu, Jamal mohon. Tidak pernah sekalipun Jamal berpikiran seperti itu. Hanya saja, Jamal ... tidak tau harus berbuat apa saat ini ...." kata Jamal lirih, dan hampir menangis. Ia merasakan dadanya sesak.


Sore harinya ....


Di tempat biasa Jamal dan personel lainnya berkumpul. Mereka sudah berkumpul di tempat biasanya, dan hari ini mereka berencana akan pergi bersama mencari refrensi untuk band mereka selanjutnya. Mereka akan pergi berkeliling ke mana saja, entah itu mendatangi tempat-tempat biasa para anak band kumpul, anak band yang bermain musik di jalanan, dan mungkin juga ke studio untuk menyaksikan permainan mereka langsung. Siapa tahu itu bisa membuat mereka menjadi lebih kreatif lagi untuk mengembangkan band miliknya. Namun, mendadak rencana mereka berubah setelah menerima telepon dari Jamal, yang katanya Jamal tidak bisa ikut pergi lantaran ia harus menjaga Abah di rumah sakit.


"Guys ... Jamal enggak jadi ikut," kata Ares memberitahu yang lainnya setelah menutup teleponnya.


"Kenapa?" sahut Erik.


"Abah masuk rumah sakit sejak tadi pagi, katanya Abah pingsan. Terus sekarang Jamal lagi nungguin Abah di sana," jelas Ares lesu.

__ADS_1


"Waduh, kasian si Jamal. Apa, kita juga tengok Abah ke rumah sakit?" usul Arik.


"Gue sih setuju aja, tapi gimana dengan yang lainnya, pada setuju enggak?" tanya Ares.


"Bentar deh, kita enggak jadi pergi ini?" tanya Dico.


"Enggak, gue cuma tanya aja, gimana kalo kita tengok Abah ke rumah sakit," sahut Ares.


"Lha kok? Kita enggak jadi pergi? Kita ini mau pergi juga untuk band ini lho. Kalo urusan Jamal, biar dia yang urus. Kita enggak ada urusan sama dia. Ngapain kita ke rumah sakit segala. Toh, Jamal juga enggak mikirin nasib band kita 'kan? Jadi, buat apa kita ke sana? Dia aja seenaknya sendiri enggak dateng ke sini," kata Dico datar. Ia kesal jika rencananya harus batal.


Ares dan yang lainnya menoleh ke arah Dico, terkejut dan tidak habis pikir.


"Kenapa? Ada yang salah sama ucapan gue?" tanya Dico santai.


"Dico, bisa enggak elo simpati sedikit sama keadaan Abah? Iya, elo boleh bicara sesuka hati elo soal Jamal, tapi ini enggak lain soal Abah. Abah itu lagi sakit, Dico. Enggak ada salahnya 'kan kalo kita dateng buat liat keadaan Abah," jelas Ares, ia merasa lelah.


"Bukan kita, tapi Jamal. Jamal yang enggak bisa ikut pergi. Kita bisa aja pergi tanpa Jamal, tapi sebelum itu kita tengok Abah dulu sebentar ke sana. Cuma sebentar aja kok, nah setelah itu kita pergi seperti rencana awal. Tetep kok, kita tetep pergi. Makanya sekarang kita rundingan dulu," imbuh Arik menjelaskan.


"Ya udah, kalo kalian mau ke rumah sakit, gue enggak ikut. Gue tunggu aja di sini sampai kalian kembali," kata Dico seraya mengambil gitar untuk mencari alasan.


Ares dan yang lainnya berpandangan tidak mengerti. Ares menggeleng kepala. Di sana Ares merogoh kantong celana dan ia mengambil ponselnya, lalu seperti mengetik sebuah pesan. Setelah itu ia kirimkan kepada seseorang. Beberapa detik kemudian Ares mendapat sebuah balasan dari chat tadi.


Di rumah sakit ....


"Ares, bilangin ke yang lain. Maaf, kalo gue enggak bisa ikut, karena gue harus jagain Abah di rumah sakit. Salam buat yang lain aja, sampaikan juga maaf gue untuk semuanya. Gue enggak jadi ikut, dan kalian enggak perlu ke sini. Kalian cukup bantu doa untuk Abah aja, oke. Terimakasih banyak, Ares." Jamal menutup teleponnya.


"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Temen Mas."


"Ada apa?"


"Enggak. Cuma ngabarin aja kalo Mas enggak jadi ikut pergi."


"Mas Jamal."


"Hmm?"


"Zahra penasaran deh, Mas ini 'kan punya temen band 'kan ya. Tapi, kenapa mereka enggak ke sini buat nengokin Abah? Kalo mereka temen Mas, harusnya mereka ke sini dong sekedar basa-basi. Lagian, Mas sama mereka 'kan udah lama bareng."


Tiba-tiba ponsel Jamal berbunyi tanda pesan masuk. Ia membukanya sebentar, lalu menutupnya kembali.


Jamal membuang napas berat, lalu di liriknya Zahra di sisinya. "Mas juga enggak tau, Zahra. Lagi pula enggak apa-apa kok. Mereka bisa ke sini kalo mereka mau."


"Paling enggak, perlihatkan sikap kepeduliannya pada Abah, secara mereka 'kan temen Mas Jamal. Bukannya mereka udah kenal sama Abah ya?"


Jamal terdiam sesaat. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Oh iya, Mas. Kalo Mas Jamal mau sholat sekarang aja, Zahra udah selesai. Biar Zahra yang jagain Abah. Umi juga masih di musholla kok."


"Hmm ... baiklah. Maaf ya Zahra, tolong jaga Abah sebentar."


Zahra mengangguk. Jamal beranjak dari kursi, lalu bergegas menuju musholla yang ada di dekat rumah sakit tersebut. Sedangkan Zahra, ia duduk menemani Abah di sampingnya.


Di jalan menuju musholla, Jamal masih sedikit memikirkan tentang pertanyaan Zahra tadi. Entah kenapa ia masih teringat saja. Padahal, Jamal sudah bilang pada Ares, kalau ia tidak apa-apa jika mereka tidak bisa datang ke rumah sakit ini.

__ADS_1


__ADS_2