
Dan yang membuat Jamal semakin down adalah ketika ia mendengar keterangan dari dokter mengenai keadaan Abah.
"Keadaan pasien sudah sangat parah. Ketika kami periksa, jantungnya sudah sangat lemah. Jika sedikit saja pasien kelelahan, maka akan berakibat fatal. Mungkin selama ini pasien tidak pernah cek up ke rumah sakit? Atau, pasien tidak memberitahu tentang kondisinya pada siapapun? Bisa jadi selama ini pasien menahan rasa sakitnya. Dan, hasil dari pemeriksaan, memang benar bahwa kondisi jantung pasien sudah sangat parah. Telat saja dibawa ke mari, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi, Anda segera membawanya ke sini, jadi bisa cepat di tangani." Begitulah jawaban sang dokter.
Bagaimana tidak lemas ketika Jamal mendengarnya. Selama ini Abah terlihat baik-baik saja. Tidak pernah memperlihatkan rasa sakitnya di depan Jamal maupun Umi dan juga Zahra. Bahkan, mengeluh saja tidak pernah. Sungguh, Jamal sangat terkejut mendengarnya. Terutama Umi, terlihat beliau sangat terpukul dan syok ketika mendengar kabar tersebut. Bahkan Umi hampir saja pingsan. Dan tentunya, keadaan ini semakin membuat Jamal merasa bersalah. Kenapa ia tidak pernah menyadari kondisi Abahnya. Kenapa ia tidak pernah memperhatikan Abah. Saat ini seperti tidak ada dorongan apapun untuknya melakukan sesuatu.
Masih melamun setelah Jamal selesai mengambil air wudhu, sampai-sampai ia terkejut tatkala punggungnya di tepuk oleh seseorang. Terlihat orang itu juga seperti hendak ingin mengambil air wudhu. Jamal menoleh dan melihat orang itu beberapa saat. Ia bingung dan tatapannya saat ini seolah tidak ada di sini. Bahkan, Jamal membiarkan keran tersebut dalam keadaan menyala. Lantas, orang itu membungkuk dan mematikan keran tadi. Di situ Jamal masih ling-lung. Kini orang tadi memperhatikan Jamal beberapa saat.
"Mas, dari tadi saya perhatikan, Mas sedang melamun terus. Apa, ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya pada Jamal yang terus saja memperhatikan keran yang sudah mati tersebut.
Jamal tersentak, sontak ia menatap orang tersebut yang terlihat belum terlalu tua itu. Beliau seorang laki-laki. Jamal menatap bapak itu bingung. "Ah, maaf ... saya ...."
Bapak itu tersenyum kecil. "Saya tau kalau Mas ini sedang ada masalah. Mungkin, posisi kita saat ini sama."
Jamal bingung, masih mencoba untuk sadar dari lamunannya. "Sama? Maksud Bapak?"
__ADS_1
"Sudah satu Minggu ini anak saya di rawat di sini. Dan, kata dokter kondisinya semakin lemah," ungkapnya lirih sambil menunduk.
"Ah, maaf ... kalau boleh tau, anak Bapak sakit apa?" tanya Jamal hati-hati.
Bapak tadi menghela napas berat. "Sejak kecil anak saya sudah punya masalah dengan jantungnya, sehingga apa yang dia lakukan tidak bisa sampai batasnya. Tapi, anak saya itu sangat ceria dan sangat aktif. Apalagi sekarang dia masih kelas lima SD. Dia begitu penasaran dengan sekitarnya, dia ingin tau banyak hal dan mencoba sesuatu. Banyak sekali yang ingin dia lakukan, tapi kondisinya yang tidak mendukungnya. Hingga suatu hari anak saya tiba-tiba pingsan. Saya sangat terkejut dan takut saat mendengar kenyataannya."
Jamal terdiam mendengarkan. Sementara, bapak itu masih melanjutkan ceritanya.
"Sampai saat ini saya tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan anak saya. Bagaimanapun dia anak saya satu-satunya. Saya akan melakukan apa saja dan akan memberikan apapun untuk membuatnya ceria kembali seperti dulu. Karena senyuman anak saya adalah segalanya untuk saya dan istri saya. Meski terkadang saya ingin menangis tiap kali melihat ekspresinya yang sedang berbicara dengan saya, rasanya begitu sakit. Rasanya tidak adil, kenapa anak saya yang menderita seperti ini dan kenapa bukan saya yang mengalami penderitaan itu."
Kini bapak itu benar-benar tidak bisa membendung air matanya. Bapak itu menyeka air matanya lalu tersenyum di paksakan. "Sekarang, saya hanya bisa terus berdoa untuk anak saya dan berusaha membuatnya tetap tersenyum. Setelah mendengar keadaan anak saya yang semakin lemah, saya seperti putus asa karenanya. Tapi, taukah Anda, Mas ... anak saya justru menasehati saya, supaya saya jangan bersedih dan putus asa. Anak saya justru memberi saya semangat, jangan sampai kalau saya ini bersedih akan keadaannya. Sedangkan dia sendiri sedang mengalami masa sulit di usianya yang belum dewasa. Tapi, anak saya ... anak saya justru tersenyum setiap kali berbicara dengan saya."
"Ah, maaf, saya malah menceritakan anak saya pada Anda. Maaf ... padahal Mas juga sedang ada masalah, tapi saya malah ... maafkan saya, Mas," ucap bapak itu meminta maaf.
Jamal menggeleng cepat. "Tidak. Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti."
__ADS_1
"Tapi, siapa yang sakit, Mas?"
Jamal terlihat sangat lesu. Ia membuang napas panjang. "Abah saya yang sedang sakit. Tadi pagi Abah saya tiba-tiba tidak sadarkan diri."
"Saya memang tidak mengenal Abah Mas, tapi saya berdoa untuk kesembuhan Abah Mas. Semoga, Mas dan keluarga di beri ketabahan. Dan, saya ikut prihatin untuk Mas."
Jamal mengangguk kecil sambil tersenyum lalu berucap, "Terimakasih, Pak. Terimakasih untuk perhatian Bapak. Mungkin yang di bilang Bapak soal kita yang bernasib sama itu benar. Hanya bedanya, saya belum bisa berbuat apa-apa untuk Abah saya. Saya belum bisa memberikan apapun untuk Abah. Anak Bapak saja bisa berkata seperti itu untuk membuat Bapak supaya jangan putus asa. Sedangkan saya, saya malah tidak bisa apa-apa untuk membuat diri saya sendiri agar tidak putus asa. Saya justru malu pada anak Bapak yang bisa bersikap optimis untuk keadaan orang di sekitarnya."
"Saya tau, kadang saya pun masih belum bisa menerima diri saya sendiri."
Jamal tersenyum kecut. "Jangankan untuk orang lain, untuk saya sendiri pun saya masih belum bisa berpikir seperti anak Bapak yang begitu optimis dan dewasa, mengingat anak Bapak yang masih sangat kecil. Apa ini yang membuat saya selalu berpikir sebaliknya? Saya sendiri tidak mengerti dengan diri saya. Aneh bukan?"
"Setiap orang memiliki pemikiran masing-masing yang bisa membuat dirinya bangkit ataupun sebaliknya yang membuat dirinya begitu rapuh dan putus asa. Tidak perlu memaksakan diri untuk berbohong. Katakan saja apa yang ada di dalam hati, keluarkan apa yang bisa membuat diri kita merasa lega. Kalau bisa, bagaimana kalau kita mencoba menerima diri kita lebih dulu? Mungkin itu awal yang bagus?"
Jamal melihat bapak tersebut, takjub. Lalu, Jamal tersenyum kecil sambil menunduk. "Menerima diri kita lebih dulu? Apa benar begitu?"
__ADS_1
"Untuk saat ini hanya itu yang bisa saya lakukan untuk anak saya. Saya mencoba untuk tidak bersikap menyedihkan di depan anak saya, supaya anak saya tidak bersedih akan keadaan saya. Kalau sampai anak saya melihat saya seperti ini, tentu hal ini akan membuat anak saya semakin menderita. Saya tidak mau hal itu sampai terjadi. Hal ini mungkin berlaku untuk Anda juga, Mas. Sebisa mungkin jangan menunjukkan wajah sedih Anda di depan Abah ataupun yang lainnya. Tunjukkanlah wajah Anda yang biasanya, tapi Anda tetap tidak melupakan doa untuk Abah. Siapa tau Abah Anda tidak akan bersedih karena keadaannya. Sehingga Abah maupun Mas sendiri tidak perlu merasa bersalah."
"Menunjukkan wajah ...."