Triple L

Triple L
Eps 34. Kedatangan Sari


__ADS_3

Hal itu membuat Rival merasa tidak nyaman. Bahkan Rival sudah berpikiran negativ tentang ini. Ia was-was dan mulai emosi. Tapi, entah kenapa ia justru bersembunyi di balik tembok yang memisahkan antara tempat Rival berdiri dengan ruangan tengah. Rival masih di sana, terus memperhatikan Sari. Ia juga mendengarkan apa yang tengah mereka bicarakan.


"Jadi, kamu ini temannya Rival?" tanya Mamanya Rival.


"Iya, Tante," jawab Sari.


"Sari, baru kali ini lho ada temen Rival yang mau datang ke sini. Tidak biasanya anak itu punya teman, apa lagi cewek. Paling yang sering ke sini cuma Dian. Dia sangat tertutup sama Tante," kata Mamanya Rival.


"Mungkin, ada alasannya kenapa Rival menutup diri seperti itu sama Tante," ujar Sari.


"Ah, anak itu ... tapi, Sari, kamu datang ke sini pasti ada sesuatu, 'kan? Sudah lama ya, kita tidak ketemu sejak saat itu. Kemana saja kamu selama ini? Dan, kamu sudah besar sekali, berbeda dengan beberapa tahun lalu."


"Um ... yeah, Sari ikut Mama sama Papa. Dulu kami pindah, tapi sekarang balik lagi ke sini. Awalnya Sari udah enggak mau balik ke rumah lama. Tapi, setelah beberapa hari rasanya jadi menyenangkan, apa lagi Sari bisa ketemu sama Rival lagi."


Rival yang masih menguping pembicaraan mereka, merasa tidak paham sama sekali. Apa yang sedang di bicarakan Mamanya dengan Sari. Dan lagi, Rival mulai sumpek kalau terus bersembunyi seperti ini. Tapi, ia akan bertahan sebentar lagi, sebelum Mamanya bicara yang tidak-tidak tentang dirinya. Lalu, Rival mendengar lagi obrolan antar wanita itu.


"Alasan Sari kembali dan dateng ke sini adalah, karena Sari ingin menagih sesuatu sama Rival. Ah, yang pastinya Rival sendiri sudah lupa."


"Hm, menagih janji? Janji apa?" tanya Mama Rival heran.


"Ah, itu ... hanya sebuah janji seorang anak kecil kok, Tante," jawab Sari malu-malu.


"Begitu," Mama Rival mengangguk mengerti. "Sari, kalau bisa, kamu tetap berteman dengan Rival, ya?" pintanya kemudian.


"He? Kenapa, Tante?" Sari bingung.


"Yeah, Tante rasa, kalau Tante ini sudah sering mengabaikan Rival dan adiknya, Vikal. Tanpa Tante sadari, Tante sudah bersikap tidak peduli dengan keadaan Rival dan Vikal. Tante terlalu egois dan bertingkah tidak wajar di depan anak-anak. Sudah begitu lama, Tante tidak bicara dengan Rival, jangankan bicara, bertanya tentang keadaan di sekolahnya saja Tante tidak pernah. Entah kenapa Tante seperti takut tiap kali ingin berbicara dengan anak itu. Tante terlalu takut untuk bicara pada Rival. Tante takut kalau ucapan Tante hanya akan membuat Rival semakin kecewa dan marah sama Tante," jelas Mama Rival lesu. Dan, kini wajahnya terlihat murung.

__ADS_1


"Kalau Tante bisa bikin Rival mendengarkan apa yang ingin Tante sampaikan, Sari akan mencoba membantu Tante. Apapun itu, dan sampaikanlah apa yang ingin Tante katakan. Katakan bagaimana perasaan Tante yang sebenarnya pada Rival. Sari rasa, Rival mau mendengarkan kalau Tante mau mencobanya lebih dulu. Tidak ada salahnya, 'kan?"


"Haah ... jangankan membujuknya untuk bicara, hanya sekedar bertanya padanya saja, Rival tidak pernah mau menjawabnya, bahkan dia tidak mau menatap Tante sama sekali. Berbeda dengan Tante yang tidak berani bicara dengan Rival."


"Kan, belum di coba, Tan. Coba sekali lagi, siapa tau kali ini Rival mau mendengarkan Tante. Syukur kalau Rival mau bicara sama Tante, ya?" bujuk Sari sambil tersenyum.


"Sari!" tiba-tiba Rival sudah muncul di antara mereka. Tanpa bicara apapun, Rival langsung menarik tangan Sari untuk berdiri. Karena sejak tadi Rival sudah merasa ada yang tidak beres di sana. Mendengar mereka membicarakan tentang dirinya membuat Rival risih dan tidak suka. Lantas, Rival menghampiri Sari lalu mengajaknya untuk berdiri. Di tatapnya Sari dengan jengah.


"Rival?"


"Ayo, pergi sekarang! Nanti telat!" kata Rival ketus sambil berusaha menyeret Sari.


"Eeeh ... tapi, gue belum pamit sama Mama elo!" sergahnya bingung.


"Udah, enggak penting!" Rival tetap ngotot.


"Oke. Enggak apa-apa, Kalian pergi saja, hati-hatilah kalian. Bersenang-senanglah!"


"Terimakasih Tante cantik!"


Tanpa di sangka, Mamanya Rival tersenyum geli mendengarnya. Mama Rival juga geli melihat Rival dan Sari berjalan sambil bergandengan tangan. Itu karena Rival menyeret Sari supaya cepat pergi, dan Rival tidak perlu mendengar apapun lagi di sana. Rival sudah terlalu gerah berada di rumah, makanya dengan tidak sabar Rival menyeret Sari keluar.


Di lokasi acara ....


"Kita udah sampe. Kira-kira Jamal dan teman-temannya di mana?" tanya Dival saat itu.


Sekarang Dival dan Ririn sudah sampai di lokasi. Kini Dival celingukan kanan-kiri mencari Jamal dan teman-temannya. Mereka berdua sibuk mencari Jamal di antara kerumunan orang-orang itu, tapi belum ketemu yang di maksud. Karena cukup penuh saat ini. Sudah terlalu banyak orang yang datang. Terlalu ramai sampai Dival kesulitan mencarinya.

__ADS_1


"Elo udah coba hubungin temen elo itu?"


"Udah, katanya kita bakal kumpul di sini."


"Ya udah sih, tunggu aja. Palingan temen elo itu udah lagi siap-siap buat tampil."


"Kalo itu sih gue tau. Tapi, gue juga lagi nunggu Rival."


Sekali lagi Dival celingukan mencari sosok Rival di antara kerumunan orang-orang ini. Sulit sekali mencari Rival di sana. Lalu, setelah beberapa menit celingukan sampai lehernya terasa pegal, akhirnya penantiannya pun berkunjung manis. Dival berhasil menemukan Rival berkat adanya Sari di sampingnya. Ketika melihat mereka di sana, sontak Dival melambaikan tangannya. Yang merasa di panggil pun segera menghampiri Dival.


"Baru nyampe lo?" tanya Dival pada Rival.


"Ho oh, tadi jalanan rame banget!" jawab Rival lega, "Oh iya, Jamal dan bandnya mana?"


"Gue juga lagi nyari ini dari tadi, tapi entar ajalah ya. Kita liat band yang lain dulu," ujar Dival yang sudah kepanasan. "Oh, lupa ... kenalin, ini temen satu kelas gue, namanya Ririn."


"Iya, kita belum pernah ketemu sebelumnya, ya," kata Rival.


"Hay, gue Ririn, temennya Dival di sekolah," ucap Ririn sambil tersenyum.


"Kalo gue Rival, gue juga temennya Dival yang enggak sengaja jadi temen. Dan, ini Sari, dia satu sekolah sama gue."


"Hay, gue Sari," ucapnya memperkenalkan diri.


"Salam kenal, Sari," sapa Ririn. "Dan, apa maksudnya kalian yang bukan teman, tapi enggak sengaja menjadi teman?" Ririn bertanya bingung.


"Oh, itu mah panjang ceritanya, harus mulai dari awal. Bagaimana awalnya gue sama Rival ini bertemu secara tidak sengaja. Waktu itu kejadiannya lucu, di mana Rival yang mengira kalo gue ini seorang copet!" jelas Dival sambil tertawa ketika mengingat kejadian hari di mana mereka bertemu untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2