
"Huh!" Ririn diam kembali, begitu juga dengan Dival. Tapi kemudian Ririn teringat sesuatu. "Dival, temenin gue ke kantin yuk, tadi gue enggak sempet sarapan."
"He, tumben elo ngajak gue. Gak biasanya."
"Mau apa enggak? Elo juga lagi enggak bawa duit 'kan, gue tau dari tadi elo liatin dompet elo yang isinya angin doang!"
Dival meringis malu, "Tau aja lo, Rin."
"Kalo mau ikut, ayo, keburu bel masuk. Oh ya, entar elo ikut gue ke rumah Paman. Biar jelasnya elo mending ketemu langsung sama Paman gue."
"Oh, gitu ya," Dival manggut-manggut mengerti. "Oke, entar gue ikut elo!"
"Sekarang ayo cabut, keburu bel! Dasar lambat!" Ririn gemas melihat Dival yang seringkali berubah-ubah moodnya.
"Iya, elo yang bayar, 'kan?"
"Ya, entar tinggal itung aja kalo udah kelar urusannya, ya."
"Iya, ya, ini hutang 'kan, baiklah entar gue ganti, oke?"
Dival mengekor di belakang Ririn, ia kegirangan karena dapat traktiran dari sahabatnya itu. Ririn cuek dengan adanya Dival di belakangnya. Di belakang diam-diam Dival meringis geli tatkala mengingat Ririn tadi di kelas, Ririn yang salah tingkah, lucu, batin Dival.
Sekolah Jamal ...
"Mas Jamal enggak ngecewain Abah kok, Mas Jamal udah bikin Abah bangga tanpa Mas sadari*. Jadi jangan berpikir kalau Mas Jamal belum melakukan apa-apa untuk Abah*."
Jamal membuang napas berat, entah kenapa Jamal teringat ucapan Zahra kemarin sore. Ketika mengingatnya, rasanya perasaan Jamal terasa semakin berat. Semakin Jamal mengingat ucapan Zahra semakin sakit pula perasaannya.
"Bukan ini yang gue inginkan!" gumam Jamal lirih. "Gue harap, bukan ini yang gue inginkan saat ini. Maafin Jamal, Abah."
"Jamal!" seseorang memanggil Jamal, terlihat ia berlari kecil menghampiri Jamal. Malik, teman satu kelasnya.
"Malik, ada apa?"
"Tadi elo di cari sama Bu Iis."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Entahlah, gue enggak tau," Malik angkat bahu. "Mending sekarang elo ke ruangannya dulu lah ya."
"Oke. Elo mau ikut?" tawarnya pada Malik.
"Kalo elo mau nungguin gue selesai dari WC dulu sih, mau?"
"Ogah!" serta merta Jamal berlalu.
"Hehehe!" Malik merenges. "Eh, Jamal!" panggilnya lagi.
"Apaan lagi!"
"Elo enggak lagi bikin masalah di luar sekolah, 'kan?" selidik Malik.
"Apaan sih! Enggak jelas banget. Udah ya, gue pergi dulu." kemudian Jamal kembali ke tujuan awal, yaitu untuk memenuhi panggilan Bu Iis.
Sampai di depan kantor Guru, Jamal mengetuk pintu. Setelah mendengar jawaban dari dalam barulah ia masuk dan duduk di kursi.
"Oh, iya benar. Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu, Jamal," kata Bu Iis terlihat serius.
"Kira-kira apa yang ingin Ibu tanyakan?"
"Begini ... saya tahu kalau kamu suka main musik dan sering berkumpul dengan teman-teman kamu di luar sana ...." kata Bu Iis.
"Ya?"
"Jadi begini, kemarin saya mendapat laporan kalau ada salah satu murid sekolah ini yang melihat teman-teman kamu membuat kerusuhan. Saya dapat informasi ini dari salah satu siswa sekolah ini juga, kebetulan kemarin dia melihat teman-teman kamu di sana, dan mereka membuat kerusuhan di sebuah kafe. Jadi, yang ingin saya tanyakan adalah, apa kemarin kamu ikut bersama dengan mereka, setelah selesai sekolah?"
Jamal tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Sebelumnya saya minta maaf, Bu, tapi kemarin saya langsung pulang begitu sekolah selesai."
"Kamu yakin tidak di sana?"
"Saya yakin, dan saya bisa membuktikannya pada Bu Iis."
__ADS_1
"Baiklah, saya percaya sama kamu. Saya hanya takut kalau siswa yang melapor ini salah lihat, dan akan membawa mu dalam masalah. Soalnya ini masalah yang sangat serius, teman-teman kamu membuat masalah di luar, dan bisa lebih gawat lagi kalau kamu ada di sana. Kita semua tahu kalau kamu termasuk geng mereka, Ibu bukan ingin menuduh kamu atau menjelek-jelekan teman-teman kamu. Ibu hanya takut saja kalau kamu ikut berurusan dengan mereka," jelas Bu Iis, yang terlihat jelas kalau beliau begitu mengkhawatirkan muridnya ini.
"Saya mengerti. Saya minta maaf, Bu."
"Tapi syukurlah kalau kamu tidak ada di sana, Ibu khawatir dan berpikir akan bagaimana jadinya kalau kamu di sana saat itu. Dan, maaf kalau Ibu sudah menuduh kamu, Jamal. Ibu hanya tidak ingin kamu berada dalam masalah, karena sayang kalau kamu sampai seperti mereka. Pesan Ibu untuk kamu, sebaiknya kamu hati-hati dalam memilih teman. Apapun yang ingin menjadi pencapaian kamu, Ibu pasti mendukung kamu. Jadi, lebih telitilah kalau memilih teman, ya?" pinta Bu Iis pada Jamal.
"Iya, baik, terimakasih banyak untuk nasehatnya Bu, akan saya ingat pesan Bu Iis."
"Baiklah. Kamu boleh kembali ke kelas sekarang."
"Kalau begitu saya permisi, Bu."
Selepas dari ruang Guru, Jamal sudah di tunggu oleh Malik. Sepertinya Malik sengaja menunggu Jamal di luar.
"Heh, jadi gimana tadi, ada apaan?" tanya Malik penasaran.
"Bu Iis cuma tanya, gue ke kafe apa enggak setelah pulang sekolah kemaren, soalnya ada yang liat temen-temen gue di kafe dan bikin ribut di sana."
"Oh, jadi elo di panggil karena di kira elo ada di sana, gitu?"
Jamal mengangguk, "Tapi kemaren gue enggak kumpul bareng mereka, gue langsung pulang. Makanya Bu Iis khawatir kalo gue terlibat dalam masalah."
"Bah! Gue kira elo beneran bikin masalah, udah sempet khawatir juga gue. Habisnya elo kalo cari temen enggak tanggung-tanggung sih, iya sih gue tau kalo elo pengen jadi pemain band rock, tapi ya enggak gabung sama temen-temen elo yang kayak gitu juga 'kan?"
"Emang apa salahnya kalo gue cari temen yang seperti mereka?"
"Ya kali enggak ada yang salah. Elo cari temen karena tau apa yang bikin elo nyambung sama mereka, elo cari temen juga udah sesuai pemikiran elo. Jadi tau mana yang baik dan mana yang enggak, 'kan. Cuma elo yang tau, secara elo dan mereka sama-sama mempunyai kegemaran yang sama. Prinsip elo cari temen 'kan berbeda dengan yang lain. Enggak salah sih kalo elo pilih mereka jadi temen elo, cuma gue juga jadi khawatir aja kalo terjadi apa-apa sama elo," jelas Malik panjang lebar.
"Widiiiih ... sekarang omongan lo kayak Pak Ustadz aja. Elo dapet pencerahan dari mana? Emang kalo gue kenapa-kenapa elo bakalan ngapain?"
"Gue yang bakal dateng lebih dulu kalo elo kenapa-kenapa!" jawab Malik tegas.
Di luar dugaan Jamal justru tertawa renyah. Sambil merangkul pundak Malik ia berucap. "Baiklah, gue tunggu saat itu tiba, di mana elo bakal dateng saat gue butuhkan!"
Memang, mencari teman tidak harus pilih-pilih. Selama masing-masing bisa saling toleransi ya tidak jadi masalah. Mereka saling sharing pendapat, saling membuka pikiran satu sama lain, maka tidak akan masalah mau siapapun teman tersebut.
__ADS_1