
Selain itu, Sari juga heran dengan mantan-mantan yang satu sekolah dengan Rival. Tidak hentinya para mantan itu meneror Rival, mulai dari pagi, istirahat, hingga pulang sekolah. Mereka tidak ada habisnya mengejar dan mengganggu Rival. Dan, anehnya lagi, Rival berlagak cuek, tidak peduli terhadap mantan-mantannya. Aneh, begitu pikir Sari. Apa, itu sudah jadi hal biasa untuknya?
Setelah insiden hari di mana Dival menakuti Ririn, sepertinya hubungan mereka baik-baik saja. Meski terkadang Ririn menjadi kesal tiap kali mengingat wajah Dival saat mengerjainya. Bagi Ririn, ia seperti sudah kalah telak olehnya. Bisa-bisanya Ririn tertipu dengan cara seperti itu. Parahnya lagi, ia terperangkap, dan kalau di ingat lagi, bukankah Ririn juga sampai memegang lengan Dival sangat erat karena terlalu takut. Mengingatnya saja membuat Ririn kesal, sekaligus malu. Ririn terlalu malu untuk mengakuinya, kalau ia benar-benar ketakutan waktu itu. Selain itu, Ririn juga tidak mau mengakui kalau ia merasa salah tingkah di depan Dival. Apalagi waktu itu, saat Dival mencium pipinya, tentu hal itu membuat Ririn semakin tidak ingin mengakuinya bahwa ia telah kalah. Bahkan ketika bersama Dival di sekolah, terkadang Ririn merasa gugup kalau bicara berdua dengan Dival. Saat itu Ririn berpikir kalau ia benar-benar akan membunuh Dival.
Sama halnya seperti Rival dan Dival. Sepertinya latihan Jamal bersama anak-anak berjalan dengan lancar. Dan, yang lebih penting adalah, kalau Abah sudah jauh lebih baik setelah pingsan waktu itu. Dengan cukupnya istirahat, kini keadaan Abah sudah membaik. Abah juga tahu kalau Jamal akan tampil di sebuah acara, karena Jamal memberitahu Abah. Dan, Abah tidak melarangnya, justru Abah mendukung Jamal dan teman-temannya. Meskipun begitu, dalam hati kecilnya Jamal masih merasa kalau sepenuhnya Abah masih belum mengijinkan dirinya ikut serta dalam band tersebut. Entah kenapa Jamal merasa seperti itu. Tapi, ini adalah sesuatu yang di sukai Jamal sejak lama. Masih banyak kata "tapi" di dalam pikiran dan kehidupan Jamal. Dan, tidak tahu sampai kapan kata "tapi" itu akan berubah menjadi kata "baiklah". Ini seperti sebuah tanda "tanya", dan itu akan berakhir di mana ada tanda "seru" sebagai jawaban. Kira-kira seperti itulah apa yang di alami oleh Jamal saat ini.
*****
Hari Minggu, tibalah hari di mana mereka akan menyaksikan pertunjukkan bandnya Jamal. Jamal sendiri sudah bersiap dari rumah sejak siang tadi. Dan, sejak siang tadi Jamal terus merasa gugup, bahkan nervous. Meski sebelumnya band mereka pernah tampil di depan umum, tapi kali ini entah kenapa terasa lain dari pertunjukkan yang biasanya. Apa, karena para sahabat Jamal akan datang ke sana, makanya Jamal merasa gugup.
Setelah selesai bersiap, Jamal segera pergi untuk menemui anak-anak yang lainnya. Mereka akan berangkat bersama dari tempat tongkrongannya. Sebelum itu Jamal meminta ijin pamit untuk pergi. Sebagai ketua sekaligus vocalis di dalam bandnya, sebisa mungkin Jamal harus bisa memberikan pertunjukkan yang keren. Sebisa mungkin ia akan memberikan yang terbaik untuk bandnya dan juga untuk sahabatnya, tidak lain itu adalah Rival dan Dival. Maka dari itu, Jamal harus berusaha semaksimal mungkin. Jamal tidak ingin mengecewakan semuanya.
Sesampainya di lokasi acara tersebut, Jamal serta personel yang lainnya segera menuju tenda ruang tunggu. Mereka datang lengkap dengan membawa perlengkapan manggungnya. Bahkan penampilan mereka sudah sangat cocok dengan genre musik yang akan mereka bawakan. Tempat itu sudah sangat ramai di penuhi oleh orang-orang yang berkepentingan maupun yang hanya ingin melihat-lihat acara itu.
Di sana Jamal dan yang lainnya sudah sangat bersemangat dan sudah tidak sabar menunggu detik-detik itu tiba. Tapi, sebelum itu Jamal lebih dulu menemui Razy, teman Jamal yang waktu itu memberikan info ini ke padanya. Kata Razy, ia akan menemui Jamal dan teman-temannya di tenda. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Razy datang menemui mereka.
"Wuidiiiiiih! Udah keren aja nih!" seru Razy takjub ketika melihat bandnya Jamal. "Gue harap kalian mampu memberikan sebuah pertunjukkan yang luar biasa di sana. So, kalian udah pada keren nih, gue juga berharap penampilan kalian bisa melebihi persiapan kalian itu!"
__ADS_1
"Itu sudah pasti, Zy. Elo tenang aja, kita bakal buktiin ke elo, kalo kita bakal bikin panggung itu runtuh," jawab Jamal sambil terkekeh.
"Heh, kalo sampe elo bikin tuh panggung runtuh, maka yang ada elo kena masalah, mereka juga enggak bakal bisa manggung lagi gara-gara kalian! Kita berkumpul di sini itu saling memberikan masukan antar band-band kayak kalian ini. Kita di sini ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara tersebut! Kalo sampai elo dan yang lainnya bikin panggung runtuh, gue yang bakal memburu kalian lebih dulu!" jelas Razy semangat.
Jamal tertawa renyah, "Itu cuma kata-kata tambahan doang, Zy. Yang pasti gue bakal bikin suasana menjadi lebih semangat dan hidup."
"Gue tunggu, dan gue pegang omongan lo, Jamal. Oke, kalo gitu gue cabut dulu. Gue masih ada urusan lain di sini. Good luck untuk kalian semua ya!"
"Thanks, Zy!"
Di tempat lain ....
"Kakak mau pergi lagi?" tanya Vikal.
"Hmm."
"Kemana?"
__ADS_1
"Hari ini temen Kakak ada yang mau manggung, dia punya band sama kawan-kawannya. Kenapa? Kalo elo mau ikut, ayo," ajaknya tanpa menatap Vikal.
"Enggak. Cuma, itu di depan ada yang nyariin Kak Rival," katanya memberitahu.
"Ng? Siapa?"
"Namanya Sari, dia bilang begitu."
"Apa?!" Rival terkejut. "Ngapain dia ke sini?!"
"Bukannya kalian mau pergi bareng?"
"Apaan sih tuh cewek sableng! Ngapain dia ke sini segala! Udah di bilangin juga, jangan ke sini, masih aja ngotot mau dateng! Udah enggak waras kali dia! Urat malunya udah putus kayaknya!" Rival sewot.
Memang benar, sore waktu itu Sari bilang kalau ia akan datang ke rumah Rival, karena ingin pergi bersama. Makanya Sari sengaja datang menjemput Rival. Tapi, kalau tidak salah waktu itu Rival sudah menolak Sari mentah-mentah dengan alasan risih kalau harus di jemput oleh cewek. Padahal bukan itu alasannya. Rival hanya tidak ingin kalau Sari sampai bertemu dengan Mamanya. Apalagi Sari masih belum tahu kebiasaan Mamanya kalau berada di rumah.
Tapi, ternyata Sari memenuhi omongannya dengan datang ke rumahnya meski sudah di larang dengan keras dan tegas. Rival keluar dari kamar dengan kesal berniat menemui Sari di depan. Tapi, saat hendak menegur Sari, mendadak langkahnya terhenti ketika mendapati Sari tengah berbicara dengan Mamanya.
__ADS_1