
Sementara Jamal masih dengan kesehariannya yang akan membantu Umi dan Abah untuk berjualan. Lalu, setelah itu berangkat sekolah seperti biasa. Usai sekolah Jamal berkumpul dengan teman-temannya. Namun tidak seperti biasanya kalau Jamal datang untuk berkumpul, ia menyadari ada sesuatu yang sedikit mulai ganjil. Jamal merasa aneh dengan sikap Dico yang terlihat acuh tak acuh padanya. Tiap kali Jamal datang, mendadak sikap Dico menjadi lain dan aneh. Terkadang tidak tahu apa penyebabnya Dico pergi begitu saja setelah Jamal datang. Dan ketika berkumpul Dico akan diam saja tanpa bicara sepatah kata pun, juga Dico akan berbicara kalau hanya ada yang bertanya saja. Bahkan saat latihan, semuanya menjadi terasa aneh, tidak ada kekompakan sama sekali. Selanjutnya Dico akan bersikap dingin dan jutek terhadap Jamal. Tidak hanya Jamal yang merasa dan menyadari perubahan perihal sikap Dico yang mendadak berubah, yang lainnya pun merasakan hal yang sama. Tapi masing-masing tidak ada yang berani menegur Dico. Mereka mencoba bersikap biasa terhadap Dico. Untuk saat ini biarlah Dico menenangkan pikirannya, siapa tahu Dico akan kembali seperti sedia kala. Yang penting Jamal beserta yang lain tetap mengawasi Dico.
"Apa sikap Dico jadi gitu gara-gara waktu itu?" tanya Erik saat itu.
"Enggak tau, gue enggak mau berasumsi Dico jadi gitu gara-gara perkataan Jamal waktu itu. Sebaiknya kita biarkan saja dulu si Dico. Mungkin kita bisa menunggu sambil terus mengawasinya," sahut Ares.
*****
Hari Minggu ....
Hari Minggu sepertinya hari ini adalah hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh siapapun yang bersekolah. Setelah seminggu penuh mengerjakan berbagai tugas dan berkutat dengan hal yang berhubungan dengan sekolah, membuat hampir semua pelajar menunggu yang namanya hari Minggu, yaitu libur. Hari di mana mereka semua bisa bersantai sebentar sekedar untuk melupakan penat dan bahkan mungkin stres. Dan itu tentunya berlaku untuk Rival, Dival dan Jamal.
Tapi, alasan Rival pergi dari rumah sejak pagi adalah karena ia tidak ingin bertemu dengan dua orang yang setiap hari kerjaannya hanya bertengkar dan berdebat. Meski setiap hari di rumah dan satu rumah, tapi Rival merasa kalau dirinya dan adiknya tidak pernah di perhatikan. Jangankan di perhatikan, bertanya dan menyapa saja tidak pernah mereka lakukan pada Rival maupun Vikal. Benar-benar sangat berat jika terus menerus berada di rumah jika sedang libur seperti ini. Tapi, sudahlah, itu sudah menjadi keseharian Rival dan itu adalah hal yang sudah biasa ia lihat dan ia terima setiap harinya. Baginya itu adalah sesuatu yang wajib ia terima, seperti mendapat jatah makan sehari tiga kali.
"Kak Rival mau pergi lagi?" tanya Vikal yang saat itu ada di kamar Kakaknya.
"Hmmm."
"Kenapa Kak Rival harus pergi?"
"Ng?" kini Rival melirik Adiknya yang terlihat lesu.
__ADS_1
"Enggak bisakah Kakak tetap di rumah saja hari ini?" tanya Vikal hati-hati. Takut membuat Rival marah.
Rival berhenti yang saat itu tengah mengenakan kaosnya. Kini ia berjalan ke arah Vikal sambil menepuk pundak Vikal.
"Kalo elo enggak mau di rumah, sebaiknya elo pergi juga. Setidaknya untuk hari ini aja. Mainlah ke rumah temen elo, atau pergi bareng temen-temen elo, enggak ada salahnya, 'kan?"
"Tapi, apa enggak masalah ....?" Vikal terlihat khawatir.
"Kalo elo mau di rumah juga enggak apa-apa. Elo bersikap seperti biasanya aja kalo gitu. Atau, elo mau ikut gue?" tawar Rival sembari mengenakan kaosnya kembali.
"Hmmm ...." Vikal semakin bingung.
"Maaf, kalo gue ninggalin elo sendirian di sini. Tapi ini 'kan yang elo mau, elo pengen seharian di rumah bareng mereka dan cerita banyak dengan mereka."
"Tapi ... apa, mungkin mereka mau?" Vikal terlihat gelisah.
"Belum elo coba, jadi enggak akan tau hasilnya. Yeah, kalo pun mereka masih tetap seperti itu, enggak ada salahnya kalo elo kabur saat itu juga, oke? Kalo gitu gue pergi dulu," kata Rival sambil menepuk pundak Vikal lagi, dan kemudian keluar dari kamar.
Keluar dari kamarnya Rival mendapati Mamanya tengah duduk di kursi depan, dan seperti biasa Mamanya sedang memegang rokok di tangannya. Melihat hal itu membuat Rival mendengus kesal. Tanpa berkata apa-apa Rival melewatinya, lantas Mamanya pun menegur Rival.
"Rival, kamu mau ke mana pagi-pagi seperti ini?" tanyanya seraya bangkit berdiri setelah menaruh rokoknya di asbak. "Kamu enggak di rumah hari ini? Mau pergi lagi? Mungkin kamu mau nanti kita seru-seruan bareng?"
__ADS_1
Mendadak Rival merasa jenuh dan malas. Ia melirik Mamanya, "Sebaiknya hentikan kebiasaan Mama itu. Mama enggak tau 'kan, kalo Vikal sangat menderita melihat perilaku Mama dan kebiasaan Mama kalo di rumah. Kalo Mama menginginkan sesuatu dari Rival, ada baiknya Mama juga mendengarkan keinginan Vikal, kami berdua," kata Rival datar.
"Uwaaah ... anak Mama sudah berani bicara ya, enggak nyangka anak Mama sudah pada gede gini," ujar Mamanya sambil mengusap rambut Rival.
Tapi dengan cepat Rival menepisnya, "Rival seperti ini, karena Rival hidup sambil melihat kebiasaan Mama dan Papa. Untuk itu, Rival mengucapkan banyak terimakasih karena Mama dan Papa sudah membesarkan Rival dan Vikal tanpa adanya perhatian sedikitpun dari kalian."
"Rival ... kenapa bicaramu seperti itu sama Mama?" Mamanya mulai heran.
"Benar, tanpa adanya perhatian dan kasih sayang dari kalian, Rival dan Vikal bisa belajar bagaimana menjadi mandiri. Mama enggak perlu mencemaskan bagaimana Rival hidup saat Mama dan Papa dengan egoisnya hanya memikirkan diri kalian sendiri. Sekarang yang lebih penting adalah Vikal, harusnya kalian lebih memikirkan Vikal, yang masih sangat membutuhkan kalian, dari pada kalian terus menerus melakukan hal yang tidak perlu. Dan Rival bisa menebaknya, bahkan kalian tidak pernah memikirkan kami sedetikpun," ujar Rival masih dengan nada dingin dan datar.
"Rival, bicara apa kamu? Kenapa kamu berkata seperti itu. Apa yang salah dengan kamu, sampai kamu bicara seperti itu sama Mama?!" Mamanya mulai emosi karena tidak mengerti, ada apa dengan anaknya itu.
"Sebaiknya Mama pikirkan, kenapa Rival jadi seperti ini. Rival udah bilang, Rival hidup dengan cara melihat kebiasaan Mama dan Papa," tandasnya lagi.
"Rival!" bentak Mamanya.
"Ah, Rival harus pergi sekarang. Lebih baik Mama perhatikan saja Vikal. Setiap hari Vikal ketakutan melihat kalian bertengkar, bahkan kalian tidak pernah memikirkan hal itu, bukan. Memangnya kalian pernah, memikirkan bagaimana perasaan kami setiap harinya?" Rival mendengus.
"Rival! Tunggu! Kamu mau kemana?" sergah Mamanya sembari menghentikan langkah Rival. Ia menarik lengan Rival.
Seperti tidak sudi tangannya di pegang oleh Mamanya sendiri, Rival menghempaskan tangan Mamanya. Kini Rival benar-benar pergi meninggalkan Mamanya yang masih diam terpaku. Tanpa sadar sebutir air bening terjatuh dari ujung matanya ketika hanya bisa melihat punggung Rival yang semakin menjauh. Dengan tangan gemetar Mamanya Rival mengambil kembali rokok yang tadi di tinggalkannya di asbak. Lalu ia mulai menghisap lagi ujung rokoknya sembari menahan rasa sakit, dan juga menahan supaya air matanya tidak keluar.
__ADS_1