
Rival mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiap kali nama Sari di sebut, itu membuat Rival menjadi sangat jenuh.
"Eh, Val, elo kenapa sih dari tadi kayak emosi mulu. Elo lagi PMS?" celetuk Dival.
"Tau ah! Lagi kesel gue sama tuh cewek! Gue udah lama enggak bicara sama dia! Jadi gue enggak tau dia mau di ajak atau enggak, yang jelas jangan suruh gue buat ngajak dia!" sungut Rival.
"Bukannya kalian itu satu kelas, tapi enggak bicara sama sekali. Ada apa, aneh amat," Jamal terheran. "Rival, kalo lo ada masalah sebaiknya cepet di selesaikan, biar enggak berkepanjangan. Sebisa mungkin elo kudu mengatasinya. Emang elo ada masalah apa? Elo bisa cerita ke gue atau Dival."
"Ng?" Rival hanya bergumam sembari menunduk.
Jamal membuang napas, "Kalo elo belum mau cerita juga enggak apa-apa kok. Tunggu sampai elo siap aja, ya," ujarnya kemudian sambil tersenyum.
Rival menatap Jamal dan Dival bergantian. Ia pun ikut tersenyum, walau hanya sedikit. "Thanks buat kalian berdua, dan gue minta maaf kalo udah bikin kalian khawatir. Gue udah bersikap menyedihkan," ujar Rival lesu.
"Gue ngerti, dan gue enggak maksa elo buat cerita. Tapi, setidaknya elo mau berbagi sama kita apa yang elo rasain, masalah apa yang elo hadapi. Meskipun kita ini berbeda asal-usul, tapi kita ini adalah sahabat. Biar kita tau apa yang elo rasain saat ini. Siapa tau kita juga bisa bantu buat nyelesaiin masalah elo," terang Jamal.
"Bener apa yang di katakan Jamal, kalo elo ada masalah mending cerita ke kita-kita, siapa tau kita berdua bisa bantu, iya 'kan. Jangan anggap remeh kita berdua, Val. Kalo kita enggak bisa bantu elo, jangan sebut kita ini sahabat," imbuh Dival.
Rival tersenyum kecil, "Ya, thanks buat suportnya. Gue enggak mungkin melibatkan kalian dalam masalah gue. Biar gue yang menyelesaikan masalah ini. Gue tau niat kalian baik, dan mau bantu gue. Gue hargai itu semua, tapi gue berpikir kalo emang gue yang kudu maju buat menuntaskan masalah gue. Kalian bener, sepertinya gue harus bicarakan ini dengan Sari."
"Apapun masalah elo, lebih baik segera di perjelas. Lagi pula elo sama Sari 'kan satu kelas, masa iya enggak bicara sama sekali. Kira-kira gimana tanggapan si Sari?" kata Jamal.
"Gue juga enggak tau kenapa, gue jadi kayak gini sama Sari. Padahal dia enggak salah apa-apa. Tapi, setelah gue tau kalo dia tau masalah keluarga gue ... gue jadi ngerasa benci sama Sari. Seolah gue ini menyalahkan Sari, padahal Sari enggak tau apapun!" Rival mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kalo boleh tau, emang elo ada masalah apa sama Sari?" tanya Dival lagi.
Rival terdiam beberapa saat, "Pada dasarnya gue yang memulai. Gue udah bersikap menyebalkan di depan Sari tanpa memberitahu yang sebenarnya. Yah, bisa di bilang ini memang salah gue, dan dia enggak ada sangkut pautnya sama masalah yang gue hadapi."
"Kalo gitu ada baiknya elo segera bicarain masalah ini dengan Sari, biar dia enggak salah paham. Gue tau elo pasti punya alasan, kenapa elo seperti itu pada Sari. Gue yakin, elo bisa menghadapi ini, Rival," tutur Jamal.
"Mungkin kalian bener," ujarnya lesu.
Setelah pertemuan mereka bertiga selesai, mereka kembali pada posisi masing-masing. Rival pulang ke rumah karena memang itu tujuannya. Ia sengaja menghabiskan waktunya di luar setelah pulang sekolah.
Dival sendiri pulang ke rumah dan setelah itu berangkat ke tokonya Paman Syahril.
Sementara Jamal datang ke tempat dimana teman-temannya biasa berkumpul. Sampai di sana Jamal memberitahu info yang ia dapat dari Razy mengenai mereka yang tampil di acara itu. Ketika mendengar kabar tersebut mereka semua terlihat sangat gembira dan antusias. Mereka terlihat begitu bersemangat ketika mengetahui kalau band mereka akan tampil di muka umum. Dan, semuanya memutuskan akan berlatih dengan keras untuk memperlihatkan kemampuan mereka pada orang lain.
Selain itu ada satu lagi tujuan Jamal yang lain. Yaitu, Jamal ingin memperbaiki hubungannya dengan Dico yang sudah beberapa hari ini terasa kaku dan canggung. Dan, sepertinya rencana Jamal untuk hal itu berhasil, terbukti saat Dico menyetujui permintaan Jamal.
*****
Dan sepertinya Rival juga menepati janjinya kalau ia akan membicarakan masalahnya dengan Sari. Hari itu setelah pulang sekolah mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe yang mereka janjikan sebelumnya. Tapi, mereka pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti seragamnya.
Sekarang Rival dan Sari tengah duduk berhadapan. Diam. Kaku. Canggung. Sunyi. Tanpa ada suara apapun. Bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Entah itu Rival dan Sari sendiri belum ada yang membuka suara. Sampai pesanan mereka berdua datang ke meja pun mereka tetap tidak bergeming sedikitpun. Bahkan pelayan yang membawakan pesanan mereka pun heran, karena sejak masuk kafe, lalu memesan minuman, hingga pesanan mereka datang pun, tidak ada yang berniat membuka mulut. Sejak tadi pula pelayan tersebut memperhatikan mereka berdua.
"Mas, Mbak, lagi berantem ya? Dari tadi diem-diem bae?" tanya si pelayan sembari menaruh minuman di atas meja.
__ADS_1
"Diem deh Mas!" sahut Sari dan Rival hampir bersamaan.
"Wow! Kompak!" si pelayan tertawa kecil, geli melihat pelanggannya.
"Iiih, Mas enggak usah kepo deh!" kata Sari jengkel, dan mungkin juga salting.
"Cepet baikan ya, Mbak, Mas. Enggak baik lho lama-lama berantem sama pacar."
"Dia bukan pacar saya!" lagi-lagi Sari dan Rival menjawab bersamaan.
Sementara si pelayan malah semakin geli dan terbahak. "Maaf, Mas, maaf ... habis kalian dari tadi diem-dieman terus. 'Kan saya jadi penasaran. Ya sudah, silahkan di minum. Jangan berantem lagi ya, Mbak, Mas," kata si pelayan lalu pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang berlomba siapa yang kuat berdiam diri.
Sari maupun Rival terdiam lagi. Belum ada yang mau memulai obrolan. Bahkan sampai minuman mereka kosong pun suasana masih canggung. Akhirnya mereka keluar dari kafe, saat itu keadaan di luar sudah mulai sore. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari.
Mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Mereka berjalan beriringan, dalam diam. Sari yang menunggu Rival untuk bicara, sedangkan Rival sibuk memperhatikan sekelilingnya. Di situ Sari mulai merasa jenuh. Lama-lama ia kesal, jengkel dan bosan di buatnya. Padahal Rival yang mengajaknya untuk ketemuan, tapi kenapa Sari malah di kacangin. Sari mulai sebal.
"Rival!"
"Sari!" panggilnya cepat. "Gue mau minta maaf," ucapnya kemudian.
"Heh?" Sari terheran bertaut alis. "Jadi, elo tuh bisa ngomong? Gue kira enggak! Gue kira elo udah lupa kalo gue ada di sini! Astaga! Gila kali ya, dari tadi gue di kacangin! Melempem nih lama-lama gue di sini tau enggak!" Sari kesal.
''Maaf ...."
__ADS_1
"Untung gue orangnya sabar, jadi udah biasa ngadepin orang kayak elo, huh!"
Sari tidak terima jika dirinya di abaikan seperti tadi. Iya, sejak tadi Sari menahan dirinya supaya tidak emosi di depan Rival.